Masih ingat rumah bak istana yang ada di film Richie Rich? Ternyata rumah itu merupakan kediaman pribadi terbesar di Amerika Serikat (AS) lho!
Biltmore House rumah terbesar di AS ini menjadi lokasi syuting film era '90-an tersebut. Bangunan yang termasuk dalam area Biltmore Estate itu terletak di Asheville, Carolina Utara, Amerika Serikat.
Rumah berusia ratusan tahun ini memiliki sejarah panjang hingga akhirnya menjadi landmark bersejarah nasional AS pada 1963 dan ditambahkan ke daftar tempat bersejarah nasional pada 1966.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari situs resmi Biltmore Estate, biltmore.com, hunian megah ini dimiliki oleh Keluarga Vanderbilt. George Vanderbilt, pemilik awal rumah tersebut, awalnya jalan-jalan ke wilayah Asheville pada 1887 dan langsung jatuh cinta dengan kawasannya yang dikelilingi perbukitan dan memiliki iklim sedang.
Saking cintanya dengan kawasan itu, ia menilai akan sangat cocok untuk dibangun rumah di sana. Pada 1888, Vanderbilt mulai membeli tanah di sana.
Karena sebagian tanah yang dibeli merupakan tanah agrikultur, ia menggunakan jasa arsitek lanskap Frederick Law Olmsted yang juga merancang Central Park di Kota New York untuk berkonsultasi mengenai rehabilitasi lahan, penanaman taman formal, dan penentuan lokasi rumah masa depannya. Vanderbilt juga menggunakan jasa arsitek Richard Morris Hunt yang sudah beberapa kali merancang rumah keluarga Vanderbilt dan juga Patung Liberty.
Meskipun rencana awal menunjukkan pembangunan rumah pedesaan bergaya Colonial Revival seluas 6.500 kaki persegi, Hunt mendesak Vanderbilt untuk membangun dengan skala yang sesuai dengan ukuran dan fitur alami propertinya.
Pada musim semi tahun 1889, Vanderbilt mengundang keluarga Hunt dalam perjalanan dua bulan untuk mengumpulkan inspirasi dari rumah-rumah besar dan château bersejarah di seluruh Inggris dan Perancis. Pada tahun berikutnya, Hunt menyelesaikan rencana akhir untuk château bergaya French Renaissance Revival seluas 175.000 kaki persegi atau sekitar 16 hektare.
Bahan bangunan yang digunakan pun memiliki kualitas yang premium. Tak tanggung-tanggung, Vanderbilt juga menggunakan marmer dari Eropa yang dikenal mewah dan tahan lama.
Pembangunan rumah dimulai pada 1889 setelah rancangan rumah selesai dibuat. Satu per satu pekerjaan pun dimulai. Pada 1890, konstruksi seperti pekerjaan aliran air hingga pembuatan batu bata di lokasi dimulai.
Pembangunan interior lantai satu Biltmore House pada 1893. Foto: via biltmore.com |
Pada 1891, pembangunan fondasi rumah super besar itu dilakukan dan di 1893 pembangunan lantai pertama rumah sudah selesai. Sayangnya, pada 1894 sempat terjadi perlambatan pembangunan karena terkendala distribusi bahan bangunan. Akhirnya, pada 1895 rumah itu selesai dibangun dan bisa didatangi oleh kerabat dan keluarga.
Rumah bergaya Renaisans Perancis ini memiliki 250 ruangan di dalamnya yang mencakup 35 kamar tidur, 43 kamar mandi, dan 65 perapian. Tak hanya banyak ruangan, rumah ini juga punya taman yang sangat luas hingga 303 ribu meter persegi atau 75 acre.
Saat George Vanderbilt masih hidup, luas lahan Biltmore mencapai 125.000 acre atau 505 juta meter persegi. Kini hanya tersisa 8.000 acre atau sekitar 32 juta meter persegi karena sebagian lahannya dijual ke pemerintah federal untuk membuat Hutan Nasional Pisgah, salah satu hutan nasional pertama di sebelah timur Sungai Mississipi.
Dilansir dari National Land, Biltmore Estate dibuka untuk umum pada Maret 1930 atas permintaan Kota Asheville guna meningkatkan pariwisata dan keuangan pasca The Great Depression. Biltmore Estate tetap dimiliki oleh keturunan Vanderbilt dan dioperasikan oleh perusahaan swasta Biltmore Company. Di kawasan rumah itu juga mencakup hotel mewah, kilang anggur, dan lainnya yang bisa menarik sekitar 1,4 juta pengunjung setiap tahunnya.
(abr/ilf)











































