Siapa yang tidak tahu Lawang Sewu? Bangunan yang punya citra horror ini sekarang menjadi museum dan salah satu destinasi wisata di Semarang, Jawa Tengah.
Gedung yang dibangun era kolonial Belanda ini memiliki keunikan tersendiri dari arsitektur bangunannya. Salah satunya adalah tidak ada penggunaan semen di beberapa gedung Lawang Sewu.
Contohnya seperti yang ada di Gedung A. Gedung yang dibangun pada 1904-1907 ini tidak menggunakan semen melainkan bligon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini tanpa semen. Pakai kapur dan bata merah yang ditumbuk sampai halus dicampur dengan pasir, sebutannya bligon," ujar salah satu pemandu di Lawang Sewu, belum lama ini.
Ketebalan kolom bangunan tersebut hampir 60 cm. Tebalnya kolom ini bisa membantu menahan struktur bangunan.
Struktur bangunan yang kokoh juga terjadi karena ada ruang bawah tanah di Lawang Sewu. Salah satu fungsi ruang bawah tanah ini sebagai fondasi bangunan.
"Fungsi ruang bawah tanah buat apa coba? Fondasi. Fondasinya pun ke dalam mencapai 4 meter. (Ruang bawah tanah) berfungsi sebagai fondasi juga untuk resapan air. Airnya difungsikan sebagai sistem pendingin ruangan, makanya (di sini) tanpa AC," ungkapnya.
Di Gedung A ini banyak menggunakan material impor dari Belanda hingga Jerman. Misalnya pada bagian kolom, terdapat bata glasir tanpa dipotong yang diboyong langsung dari Belanda. Lalu pada bagian railingnya ini menggunakan batu granit dari Jerman.
Kolom di Gedung A Lawang Sewu Foto: Almadinah Putri Brilian/BeritaKlik |
Bentuknya yang melengkung ini bukan tanpa alasan. Itu berfungsi agar ketika hujan, airnya langsung jatuh ke lubang air yang sudah ada di bawah railing dan akan dikeluarkan melalui talang atau cerucuk.
Gedung B Lawang Sewu Foto: Almadinah Putri Brilian/BeritaKlik |
Walau demikian, tidak semua gedung di Lawang Sewu pembangunannya pakai bligon. Pada Gedung B, yang dibangun pada 1916-1918, sudah dibangun pakai semen dan tulangan besi. Pada gedung ini materialnya banyak menggunakan bahan lokal.
Meski sudah ada sejak penjajahan Belanda, gedung ini sempat dipugar untuk memperbaiki bagian-bagian yang memang perbaikan.
(abr/zlf)












































