Sudah biaya sewanya murah, hanya Rp 60.000 per bulan atau Rp 2.000 per hari, ternyata tinggal di rumah susun sewa (rusunawa) I, Kelurahan Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini juga bebas biaya parkir, iuran sampah, dan uang keamanan lho. Benar-benar super hemat kalau tinggal di sini.
Agtriza Rizki Harahap dengan bangga memperlihatkan rumahnya di Rusunawa I Tebing Tinggi di aplikasi TikTok, @atriharahap. Setiap konten yang diunggahnya pasti ramai komentar soal lokasi rumahnya, fasilitas, hingga biaya apa saja yang masuk dalam iuran per bulannya.
Ternyata biaya yang harus dikeluarkan hanya biaya sewa rumah Rp 60.000, biaya air Rp 15.000-25.000 per bulan, dan biaya listrik Rp 200.000 per bulan dan dia memakai listrik token. Jika ditambah total biaya tempat tinggal yang dikeluarkan hanya 285.000 per bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atri menjelaskan ia mendapatkan harga sewa yang murah karena rumahnya berada di lantai 5, lantai paling atas di gedung tersebut. Dalam satu lantai ia bertetangga dengan 23 KK lainnya. Setiap unit harus dihuni oleh KK berbeda.
Gedung Rusunawa I di Tebing Tinggi, Sumatera Utara yang harga sewanya Rp 2.000 per hari atau Rp 60.000 per bulan. Foto: Agtriza Rizki Harahap |
Deretan hunian dimulai dari lantai 2, di mana harganya juga paling tinggi, yakni Rp 105.000. Semakin ke atas biaya sewanya berkurang Rp 15.000. Berarti lantai 3 biaya sewanya Rp 90.000, lantai 4 sebesar Rp 75.000, dan lantai 5 sebesar Rp 60.000.
Harga sewa yang rendah itu bukan tanpa alasan, Rusunawa I Tebing Tinggi ini merupakan tempat tinggal sewa khusus yang dibuat pemda untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tidak sembarangan orang bisa mengajukan tinggal di sana. Bahkan, Atri mengatakan pegawai PNS saja tidak diterima untuk memiliki rumah di sana.
Meskipun harga sewanya sangat murah, fasilitas di rusunawa ini nggak kaleng-kaleng. Atri mengatakan di lantai dasar terdapat area usaha yang bisa dipakai warga rusunawa, area parkir yang luas, lapangan untuk olahraga basket, voli, hingga bulutangkis. Ada pula Masjid dan madrasah di bangunan yang sama, serta playground. Bahkan dalam beberapa video terlihat anak-anak rusunawa yang masih balita bebas bermain sepeda di lorong rusun.
"Kalau dulu ya sore-sore di bawah tuh main basket, main voli. Dulu sering (makan bareng tetangga). Sekarang udah nggak pernah lagi," kata Atri kepada BeritaKlik pada Selasa (13/1/2026).
Sayangnya, di rusunawa ini tidak ada klinik, tetapi rumah sakit lokasinya tidak jauh sehingga masih bisa ditempuh. Bahkan untuk ke kota jaraknya hanya sekitar 7 menit.
Rusunawa ini belum memiliki lift sehingga untuk ke lantai 5 hanya bisa melalui tangga. Namun, itu bukan masalah besar karena Atri mengatakan daerah rumahnya tidak pernah banjir dan sekalipun gempa tidak begitu kencang getarannya yang mengharuskan dirinya berlarian panik ke bawah.
"Pernah (gempa). Dulu sering. Baru-baru ini ada juga sih. Tapi pusatnya ya nggak pernah di sini. Pusatnya itu ya nanti di Aceh, di Sibolga. Tapi ngerasa getarannya aja sih," ungkapnya.
(aqi/das)











































