Hujan deras tengah mengguyur sejumlah wilayah di Tanah Air dalam beberapa hari terakhir. Nahas, hujan telah menyebabkan banjir yang cukup tinggi hingga merendam rumah warga dan fasilitas umum di beberapa daerah.
Sebagai bentuk pencegahan, pengembang mulai fokus menciptakan ruang terbuka hijau di perumahan. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi masalah banjir yang dapat merugikan masyarakat.
Terbaru, Realestat Indonesia (REI) kembali menjalankan Program Sejuta Pohon yang diharapkan menjadi salah satu solusi mengatasi banjir. Program penanaman pohon perdana di awal 2026 ini digelar di Perumahan Buana Tamansari Raya, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (23/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pohon yang ditanam di lingkungan perumahan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi problem banjir. Akar tanaman bisa menahan dan menyimpan air di dalam tanah. Sedangkan daunnya dapat berfungsi menyerap berbagai zat beracun di lingkungan sehingga menghadirkan udara yang bersih" kata Ketua Umum DPP REI Joko Suranto, dikutip dari keterangan resmi REI, Minggu (25/1/2026).
Pelaksanaan Program Sejuta Pohon di 2026 dilakukan dengan menanam 5.000 bibit pohon dari jenis mahoni, jambu, mangga, dan tabebuya. Selain itu, REI juga membagikan bibit tanaman kepada warga untuk ditanam di rumah masing-masing.
Selain menanam pohon, Joko menyebut dalam sebuah proyek perumahan harus memenuhi berbagai aspek lain, termasuk masalah drainase agar terhindar dari masalah banjir. Hal itu sejalan dengan arahan kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menangani masalah banjir.
"Dalam mendesain perumahan, kita harus mempertimbangkan berbagai hal supaya tidak timbul masalah. Salah satunya persoalan banjir yang kini terjadi di berbagai wilayah," ujarnya.
Senior Manajer Buana Tamansari Raya Rohmat Sapaneja membagikan beberapa tips seputar penanganan ancaman banjir. Salah satu caranya dengan menyediakan ruang terbuka hijau yang ditanami pohon-pohon sebagai area resapan air.
"Lokasi penanaman pohon ini peruntukannya adalah ruang terbuka hijau. Pohon menjadi aspek penting yang menjadi fokus perhatian dalam pengembangan hunian di kawasan ini," papar Rohmat.
Selain ruang terbuka hijau, pengembang hunian non subsidi seluas 29 hektar itu juga menyediakan drainase dan danau. Tujuannya adalah untuk menampung sisa air buangan dari rumah-rumah warga.
"Kami membangun danau buatan seluas 4.000 meter persegi di dalam kawasan perumahan. Selain sebagai tempat pembuangan air dari rumah warga, danau tersebut juga menjadi penampungan air hujan sehingga kawasan perumahan ini aman dari banjir," jelasnya.
Proyek hunian Buana Tamansari Raya dibangun dalam dua tahap, yakni tahap pertama seluas 13 hektare dan tahap kedua seluas 16 hektare. Untuk harganya dipatok mulai dari Rp 400 jutaan hingga Rp 1,3 miliar per unit.
"Perumahan tahap satu sebesar 626 unit rumah sudah sold out. Adapun tahap kedua dari 2.872 unit rumah yang direncanakan, sudah terjual 267 unit rumah," pungkas Rohmat.
(ilf/abr)











































