Di tengah musim hujan yang terjadi awal tahun ini, beberapa perumahan di Bekasi terendam banjir dengan ketinggian di atas mata kaki. Bahkan Perumahan Green Lavender di Bekasi, ketinggian airnya bisa mencapai leher orang dewasa dan beberapa rumah jebol karena air mengepung bak air di lautan.
Ketika rumah kebanjiran, pasti banyak sekali kerugian yang diderita, mulai dari waktu, materi, hingga mental. Berbicara soal kerugian, salah seorang warga Perumahan Green Lavender, Afrizal, mengatakan perkiraan kerugian imbas banjir sejak 2024 tinggal di sana bisa mencapai Rp 50 juta. Kerugian itu berasal dari kerusakan pada barang elektronik, barang di rumah, kondisi rumah, dan lain-lain.
"Kerugian selama saya tinggal di sini sudah ada Rp 50 juta. Rumah saya jebol juga bagian tembok teras. Motor saya rusak kayanya harus turun mesin," sebut frizal dalam pesan singkat yang diterima BeritaKlik pada Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Surat-surat berharganya, seperti ijazah, surat nikah, hingga Kartu Keluarga (KK) basah. Lalu, ia telah mengganti mesin cuci 2 kali karena terendam. Beruntungnya tidak ada barang yang hanyut selama ini, hanya kondisinya yang rusak imbas terendam air.
Penampakan banjir di Perumahan Green Lavender Bekasi pada Kamis (29/1/2026). Foto: Dok warga Perumahan Green Lavender Bekasi |
Bukan hanya Afrizal, warga lainnya, yakni Mario (nama disamarkan) juga mengaku sudah merasa dirugikan tinggal di lingkungan yang sering banjir. Banyak perabotan rumahnya terendam, terutama barang elektronik.
Namun, yang paling menghambat adalah dirinya tidak bisa leluasa untuk berangkat bekerja. Ia sudah izin selama seminggu karena banjir tak kunjung surut.
"Waduh kalo masalah kerugian mah pasti gede karena kerugiannya bukan cuman materi tapi dari pekerjaan semua terganggu. Belum juga mental pasti terganggu. Saya sendiri saja kurang lebih sudah seminggu nggak masuk kerja. Saya sendiri hari ini mutusin untuk ngantor karena sudah kelamaan izin nggak enak," ungkap Mario.
Di sisi lain, warga perumahan lainnya bernama Kanisya juga harus mengikhlaskan rumahnya yang dindingnya jebol dihantam banjir pada Minggu (18/1/2026) lalu. Rumahnya yang berada dekat dengan area sawah tidak dapat menahan debit air. Dinding yang terbuka tersebut telah menyeret barang-barangnya. Bahkan barang yang sudah disusun tinggi ambruk karena dorongan arus air dan angin yang kencang.
"Barang-barang yang tadinya aman tapi karena temboknya jebol, arus sama anginnya kenceng, jadinya pada ambruk semua barang-barang, nggak ada yang selamat kak," ujarnya.
Imbas banjir bulan ini, Kanisya mengaku takut untuk kembali ke rumah mengingat kediamannya selalu terendam banjir. Saat ini ia sedang mengungsi di Jakarta, tempat kerabatnya. Setelah rumahnya selesai diperbaiki oleh pengembang, ia masih tidak bisa kembali ke rumahnya karena hari ini (29/1/2026) banjir kembali merendam perumahannya.
"Alhamdulillah udah diperbaiki (dinding yang jebol oleh pengembang). Tapi kalau untuk ditempatin lagi aku ragu, abis dalam setahun udah lebih dari 5 kali banjir. Januari ini saja dari tanggal 18 sampai sekarang banjir mulu surut bentar doang," ungkap Kanisya.
Kondisi rumah warga Perumahan Green Lavender Bekasi yang dindingnya jebol Foto: Tangkapan layar TikTok @nyamnyambaelu |
Kondisi rumah Kanisya setelah air surut beberapa hari lalu berantakan. Ketika membuka pintu, ia langsung melihat area persawahan di belakang rumahnya bak lautan lepas karena air masih menggenang di sana. Lantai kotor oleh lumpur. Ruang tamunya tidak ada barang besar apa pun. Pintu kamarnya setengah terbuka.
Dinding yang jebol cukup besar, seluas ruang tamunya atau hampir seluruh dinding. Seharusnya di sana ada dapur, tetapi kini sudah tidak berbentuk. Dinding baru sudah dibangun oleh pengembang pada Selasa (27/1/2026), saat air sudah surut.
"Sudah diperbaiki temboknya dibikin ulang diplester juga. Yang diperbaiki cuma tembok belakang yang jebol bawaan mereka sama pintu-pintu yang jebol," ungkapnya.
(aqi/das)












































