Kala harga rumah dan tanah di Jakarta kian tak terjangkau bagi banyak kalangan, pencari rumah bergeser ke kota-kota satelit pinggiran Jakarta. Tangerang dan Bekasi jadi salah satu yang paling favorit sepanjang 2025.
Menurut data dari Indonesia Property Watch, Tangerang pada kuartal 4 tahun 2025 misalnya, mengalami peningkatan penjualan rumah hingga 11,1%, meski jumlah unit melambat 2,4%.
"Ini salah satu yang tertinggi di Jabodebek-Banten," ujar CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dalam risetnya, Jumat (30/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga rata-rata rumah terjual di Tangerang naik 13,8%, mencapai sekitar Rp 1,05 miliar per unit, menunjukkan pergeseran permintaan ke segmen harga yang lebih tinggi.
Laporan mencatat Tangerang mengalami kenaikan segmentasi harga di kisaran Rp1 miliar-an, mengindikasikan daya beli segmen menengah masih solid.
Data tersebut tercermin dari tren penjualan properti yang dirilis Linktown. Linktown mengamini bahwa properti di Tangerang dan Bekasi menjadi yang paling banyak dicari konsumen.
Sepanjang tahun lalu, Linktown mencatat penjualan sekitar 1.800 unit properti dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,1 triliun. Capaian tersebut didorong oleh tingginya minat pasar terhadap produk hunian maupun komersial di kawasan-kawasan penyangga Jakarta. Dari capaian nilai tersebut, pihaknya mendapatkan Diamond Achievement One Smile Club Award 2026 dari Sinar Mas Land.
"Capaian ini menunjukkan bahwa pasar properti masih bergerak, meski konsumen kini semakin selektif. Lokasi, kualitas produk, dan harga menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian," ujar Co Founder Linktown, Abel Kurniajaya.
Dari sisi wilayah, Tangerang masih menjadi kontributor terbesar penjualan, disusul Bekasi. Kedua kawasan ini dinilai tetap atraktif berkat infrastruktur yang berkembang, aksesibilitas yang baik, serta keberagaman produk properti yang ditawarkan. Kisaran harga yang paling diminati berada di rentang Rp 800 juta hingga Rp 5 miliar,
Abel menambahkan, pasar properti 2026 diperkirakan masih tumbuh, meski tidak merata di semua sektor. Segmen industri dan logistik diproyeksikan memiliki momentum yang lebih kuat, sementara sektor hunian, perkantoran, dan apartemen cenderung bergerak stabil mengikuti permintaan riil.
"Terkait kondisi makroekonomi, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga emas, kami menilai properti tetap relevan sebagai instrumen investasi jangka panjang, terutama di lokasi strategis dengan fundamental yang kuat," tutupnya.
(zlf/zlf)











































