Pasar rumah tapak (landed housing) pada kuartal akhir 2025, memperlihatkan pertumbuhan yang positif. Menurut data dari JLL Indonesia, tingkat penjualan rata-rata mencapai 88 persen.
Meskipun ini belum mematahkan rekor penjualan di 2021 yang merupakan pencapaian tertinggi dalam 9 tahun terakhir, tingkat penjualan tahun ini tetap stabil dan tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
Menurut Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, penggerak utama sektor ini adalah permintaan dari masyarakat kelas menengah yang masih mencari rumah tapak di Jabodetabek, dibandingkan apartemen atau kondominium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data JLL Indonesia Media Briefing 2Q23 rumah yang paling banyak terjual sepanjang 2025 adalah yang harganya cocok untuk kelas menengah, yakni berkisar Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar (48 persen). Disusul rumah-rumah di bawah Rp 600 juta (27 persen), rumah Rp 1,3-2 miliar (12 persen), dan rumah seharga Rp 2-3 miliar (8 persen). Sementara itu, rumah yang harganya lebih dari Rp 3 miliar paling sedikit terjual atau hanya sekitar 5 persen.
"Pada paruh kedua tahun 2025, pasar landed housing di Greater Jakarta menunjukkan kinerja yang stabil melalui keseimbangan yang sehat antara peluncuran proyek baru dan permintaan. Penyerapan tetap selaras dengan peluncuran proyek baru, sehingga menghasilkan kinerja penjualan yang stabil dan sehat," kata James dalam acara JLL Media Briefing, di Jakarta pada Kamis (12/2/2026).
Tingginya permintaan rumah saat ini dipengaruhi oleh budaya masyarakat Indonesia yang masih menganggap tanah merupakan aset yang bernilai, semakin beragamnya skema pembayaran rumah, persyaratan pembayaran yang menguntungkan, hingga jangka waktu pembayaran yang kini cukup panjang.
"Kondisi pasar yang mendukung membaik karena suku bunga acuan turun dari 5,25 persen pada Juli menjadi 4,75 persen pada November 2025. Insentif pemerintah lebih menguntungkan pengguna akhir daripada investor melalui pembiayaan bersubsidi dan pengurangan biaya transaksi, sehingga mendorong kepemilikan rumah," ungkap James.
Hingga akhir 2025, terdapat kurang lebih 3.800 unit rumah dibangun di Jabodetabek. Dengan total permintaan tembus 3.700 unit rumah dan terjual 88 persennya.
(aqi/das)










































