Saat ini peminat terbesar rumah tapak (landed housing) adalah masyarakat kelas menengah. Banyak pengembang (developer) beralih untuk membangun perumahan yang sesuai dengan pasar.
Salah satu tren yang ditemukan saat ini adalah semakin banyak rumah-rumah tersedia 3 kamar. Menurut Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, pergeseran tren ini didasari pada permintaan bentuk rumah yang compact, yakni dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau dulu banyak yang 2 bed room (kamar tidur), sekarang 3 bed room. Melihat adanya penyesuaian target pasar. Jadi kalau kita lihat, untuk Gen Z dan milenial, mereka itu biasanya untuk rumah itu, at least kebutuhan dasarnya terpenuhi," katanya dalam acara JLL Media Briefing, di Jakarta pada Kamis (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya kamar ini dipakai sebagai kamar orang tua dan anak-anak. Sisanya adalah ruang berkumpul. Memang dengan banyaknya kamar dan dengan lahan yang semakin terbatas, secara tidak langsung mengurangi ruang terbuka di rumah. Namun, kembali ke tujuan awal, kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Selain itu, banyak calon pembeli mencari rumah saat ini mencari hunian yang memberikan mereka privasi.
Baca juga: Mal yang Nggak 'Dandan' Siap-siap Ditinggal! |
Ketika ingin berkumpul dengan teman dan kerabat, banyak yang memilih bertemu di luar, seperti mal, restoran, atau ruang berkumpul lainnya.
"Untuk di kelas ini (menengah), mereka biasanya rumah itu lebih private ya. Artinya untuk keluarga inti. Sosialisasi biasanya mereka lebih banyak di luar. Jadi memang fokusnya, rumah lebih private sehingga memang tidak perlu space yang terlalu luas," ungkapnya.
Sementara itu, berdasarkan data JLL Indonesia Media Briefing 2Q25 rumah yang paling banyak terjual sepanjang 2025 adalah yang harganya cocok untuk kelas menengah, yakni berkisar Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar (48 persen). Disusul rumah-rumah di bawah Rp 600 juta (27 persen), rumah Rp 1,3-2 miliar (12 persen), dan rumah seharga Rp 2-3 miliar (8 persen). Sementara itu, rumah yang harganya lebih dari Rp 3 miliar paling sedikit terjual atau hanya sekitar 5 persen.
"Pada paruh kedua tahun 2025, pasar landed housing di Greater Jakarta menunjukkan kinerja yang stabil melalui keseimbangan yang sehat antara peluncuran proyek baru dan permintaan. Penyerapan tetap selaras dengan peluncuran proyek baru, sehingga menghasilkan kinerja penjualan yang stabil dan sehat," kata Head of Research JLL Indonesia, James Taylor.
(aqi/das)










































