Industri jasa broker properti di Indonesia kian bergerak menuju persaingan berbasis kualitas layanan dan kompetensi SDM. Broker tidak lagi hanya berperan mempertemukan penjual dan pembeli, melainkan dituntut menjadi konsultan properti yang memahami tren pasar, kebutuhan klien, hingga strategi pemasaran modern.
Direktur LJH Realty, Oka Mahendra, mengatakan perubahan perilaku konsumen dan masifnya digitalisasi membuat broker harus terus meningkatkan kapasitas diri dan mengedepankan layanan prima.
"Broker properti profesional perlu punya wawasan dan attitude yang baik. Kapasitas diri harus terus di-upgrade agar tetap relevan," ujar Oka dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, meningkatnya jumlah broker seiring pertumbuhan platform digital membuat standar profesionalisme semakin tinggi. Kemampuan komunikasi, pemahaman legalitas transaksi, hingga penguasaan digital marketing kini menjadi kebutuhan dasar.
Oka menilai broker profesional setidaknya memiliki lima kualifikasi utama. Pertama, konsistensi pengembangan diri. Profesionalisme tidak terbentuk dalam waktu singkat. Broker harus terus belajar, berlatih, dan memperbarui kemampuan pemasaran serta komunikasi.
Kedua, menerapkan standar layanan tinggi. LJH Realty menargetkan kualitas pelayanan setara lembaga perbankan nasional seperti Bank Central Asia (BCA).
"Untuk mencapai standar tersebut, perusahaan menyelenggarakan summit yang salah satu temanya adalah service excellence yang dibawakan oleh Wani Sabu, praktisi layanan pelanggan dan investigasi perbankan, dalam Summit LJH Realty 2026 awal Februari ini," katanya.
Ketiga, Oka menjelaskan, kompetensi pemasaran strategis, dimana broker properti dituntut mampu memahami psikologi konsumen, teknik negosiasi, dan strategi pemasaran berbasis data. Untuk itu, dalam Summit LJH Realty 2026 juga menghadirkan James Sutton, Principal & Premium Property Expert McGrath, dari Sydney, Australia guna berbagi praktik pemasaran terbaik internasional.
Keempat, lanjutnya adalah sertifikasi dan rekam jejak profesional. Broker properti profesional mengikuti pelatihan berkelanjutan, memiliki sertifikasi kompetensi, serta menunjukkan kinerja yang konsisten.
Dan terakhir, kelima, penguasaan teknologi digital. "Adalah kemampuan menggunakan media sosial, video edukasi, dan platform digital menjadi bagian penting dari profesionalisme modern," tegas Oka.
Pandangan serupa disampaikan CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda. Ia menyebut prospek bisnis broker properti masih terbuka lebar, namun hanya bagi pelaku yang mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.
"Peran broker kini bergeser menjadi konsultan yang memberi nilai tambah, analisis, dan edukasi. Bukan sekadar menawarkan produk," ujar Ali.
Ia menambahkan, digitalisasi dan transparansi informasi membuat konsumen semakin rasional. Dalam kondisi ini, layanan, kredibilitas, dan kompetensi menjadi pembeda utama broker yang mampu bertahan di tengah persaingan industri properti.
(das/das)









































