Istana Westminster yang juga difungsikan sebagai Gedung Parlemen Inggris sedang direncanakan untuk renovasi gila-gilaan. Biaya yang diusulkan mencapai hampir £40 miliar atau Rp 915 triliun (kurs Rp 22.900) dengan durasi pengerjaan hingga 61 tahun. Rencana ini berpotensi menjadikan proyek renovasi termahal dan terpanjang dalam sejarah Inggris, sehingga memicu perdebatan sengit.
Gedung bergaya Neo Gothic ini dikabarkan sudah sangat rapuh hingga diperlukan renovasi dan restorasi secara menyeluruh. Saat ini, biaya operasionalnya juga sangat mahal, dengan memakan biaya £1,5 juta atau Rp 34 miliar per minggu. Kerusakan struktur bangunan, kebocoran atap, dan potensi kebakaran menjadi alasan direncanakannya proyek ini.
Dilansir dari BBC, Rabu (18/2/2026), para anggota parlemen telah menerima proposal renovasi Istana Westminster yang kondisinya semakin memburuk. Peringatan juga diberikan bahwa menunda pemugaran bangunan bersejarah tersebut justru akan menimbulkan biaya yang lebih besar dan risiko keselamatan yang kian tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini akan berarti peningkatan risiko keselamatan dan operasional serta akan menyebabkan penurunan kualitas Istana yang terencana dan mahal," ujar Dewan Klien Komite Renovasi, dikutip dari BBC.
Berdasarkan laporan resmi dari situs Parlemen Inggris, program Restoration and Renewal diajukan untuk mengamankan masa depan gedung Parlemen yang sebagian besar berasal dari era Victoria dan telah mengalami kemunduran struktural selama beberapa dekade. Dewan Klien R&R menilai kondisi bangunan telah melewati titik di mana penundaan pekerjaan besar tidak lagi berkelanjutan.
Laporan tersebut juga merekomendasikan dimulainya pekerjaan tahap awal selama tujuh tahun dengan batas anggaran £3 miliar atau Rp 68 triliun. Tahap ini mencakup pembangunan ruang sidang dan kantor sementara, perbaikan interior Menara Victoria, persiapan restorasi halaman biara abad pertengahan, pembangunan terowongan bawah tanah, serta dermaga sungai di Sungai Thames untuk logistik konstruksi.
Namun, rencana berskala raksasa ini banjir kritikan keras dari kalangan oposisi. Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menilai proyek tersebut telah di luar kendali dan melenceng jauh dari tujuan awal perbaikan keselamatan bangunan.
"Proyek restorasi Parlemen sudah di luar kendali, dan publik seharusnya marah seperti saya," ujar Badenoch, dikutip dari BBC.
Badenoch menilai bahwa proyek yang direncanakan dengan anggaran sangat besar, menunjukkan kegagalan pengendalian anggaran dan perencanaan yang lemah. Selain itu, dengan memakan waktu renovasi hingga 61 tahun juga dianggap tidak efisien dan menghambat fungsi istana sebenarnya.
Badenoch bahkan menyebut proyek ini berisiko menjadi simbol kegagalan pengelolaan properti publik. Proyek ini seharusnya merupakan pekerjaan penting untuk menjaga agar bangunan bersejarah yang berharga tetap aman dan berfungsi. Namun, proyek ini malah berubah menjadi proyek gagal yang sia-sia.
Berdasarkan laporan resmi dari situs Parlemen Inggris, Dewan Klien R&R menyadari besarnya beban fiskal yang ditanggung pembayar pajak. Meski demikian, mereka menilai proyek ini akan membawa manfaat ekonomi signifikan, termasuk mendukung ribuan lapangan kerja, program magang, serta peluang bagi industri konstruksi modern dan pengrajin tradisional di seluruh Inggris Raya.
Pihak Parlemen kini dihadapkan pada dua opsi utama renovasi jangka panjang, yakni pemindahan penuh seluruh anggota parlemen selama proses renovasi atau perbaikan bertahap sambil gedung tetap digunakan. Dewan Klien R&R menyatakan bahwa keputusan untuk memulai pekerjaan restorasi diperlukan sekarang, dikarenakan kondisi gedung saat ini tidaklah layak sesuai fungsinya.
Masa depan Istana Westminster masih berada di persimpangan. Di tengah tekanan biaya yang terus membengkak dan risiko keselamatan yang meningkat, proyek renovasi ini terancam menjadi proyek tak berujung yang akan membebani pembayar pajak Inggris selama beberapa generasi ke depan.
(das/das)









































