Hotel terapung bernama Grand Lagoona di Koh Chang Lagoona, Thailand dulunya adalah ikon wisata. Namun, banyak yang menyebut hotel disebut terkena kutukan. Banyak kejadian aneh yang sering terjadi selama hotel tersebut beroperasi.
Dilansir The Mirror, hotel dari bekas kapal angkatan laut Amerika Serikat merupakan milik miliarder Thailand yang bermimpi memiliki hotel terapung. Hotel ini mulai beroperasi pada 1998.
Kesialan hotel ini disebut dimulai ketika sebuah pohon beringin tumbang saat kapal berlabuh di lokasi laguna. Pohon yang tumbang tersebut merupakan tumbuhan yang disucikan oleh masyarakat sekitar. Tidak disebutkan apa yang menyebabkan pohon tersebut tumbang. Namun, reaksi warga sekitar tidak bagus. Mereka marah dan mulai menyebut kapal tersebut membawa hal buruk seperti terkena kutukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak berhenti di sana, ditemukan banyak pekerja dan tamu yang sakit, terjatuh, bahkan meninggal saat tinggal di hotel tersebut. Namun, tidak ada bukti konkret mengenai isu ini.
Lokasi hotel tersebut ternyata tidak cocok untuk dibuka sebagai penginapan. Daerah yang dikelilingi air itu merupakan tempat kesukaan nyamuk. Banyak tamu terkena demam berdarah hingga malaria. Kabar ini tersebar di antara tamu hingga mereka takut menginap di sana. Mengingat Thailand negara tropis, udara di sana sangat lembap dan sulit untuk setiap ruangan terasa sejuk. Sementara, pada saat itu, hotel tersebut tidak memakai perangkat pendingin otomatis sehingga banyak yang mengeluh tidak nyaman.
Semua desas-desus pada hotel tersebut bukanlah penyebab utama hotel ini tutup. Pihak hotel mengklaim bahwa hotel tersebut tutup karena masalah keuangan pada 2012.
Meski tidak beroperasi, hotel itu masih ada di tempat. Hingga pada 2024, hotel tersebut terbakar tiba-tiba, bahkan hingga kini tidak diketahui penyebabnya.
Kapal perang AS yang diubah jadi hotel di Thailand bernama Grand Lagoona Hotel Foto: Getty via Express |
Sekitar 50 petugas berusaha memadamkan api, tetapi gagal karena angin kencang. Kapal dibiarkan berasap selama beberapa minggu, kemudian ada kelompok yang diperintahkan untuk membongkar sisa-sisa yang hangus.
Kapal yang tadinya hanya membisu di tengah hutan, kini benar-benar tak berbentuk. Bagian luarnya berubah coklat, dalamnya rusak berat, tetapi kerangkanya masih berdiri tegak di tengah lahan tersebut.
Hingga pertengahan 2025, hanya lambung kapal yang tersisa, sementara bagian atasnya dikirim ke daratan dan dijual sebagai besi tua.
Di luar soal isu kutukan, hotel ini pada awal dibukanya sangat diminati oleh wisatawan. Sebab, ini merupakan konsep penginapan paling unik di wilayah tersebut. Selain itu, interiornya pun mencerminkan hotel mewah pada masanya. Sayangnya hotel tersebut berakhir menjadi rongsokan karatan.
(aqi/das)











































