Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat menurunkan tarif barang asal RI ke AS dari 32 persen menjadi 19 persen. Pengusaha furnitur RI melihat masih ada peluang mengakali tarif bea masuk tersebut agar bisa lebih rendah lagi.
Pengusaha furnitur RI ternyata memiliki beberapa cara untuk menekan tarif tersebut. Apa lagi pangsa pasar ekspor furnitur Indonesia masih paling besar ke AS yaitu sekitar 54-56 persen.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengungkapkan, salah satu caranya adalah dengan membangun usaha di Amerika Serikat. Ia mengaku akan segera menjajaki usaha membuat konsorsium di Amerika Serikat agar bisa menurunkan tarif barang masuk dari Indonesia ke sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Strategi paling jitu adalah membangun usaha di sana. Jadi kita bangun usaha, konsorsium di Amerika. Tapi nanti tradingnya saja. Tradingnya aja, jadi kita pasok ke sana. Nah kita harapkan dengan kita punya usaha di sana, dia minta pengecualian tarifnya nol karena ada entitas di sana," ujarnya usai konferensi pers IFEX 2026, ICE BSD City, Tangerang, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, salah satu hal yang dikhawatirkan oleh Amerika Serikat sebenarnya bukan masalah tarif barang masuk, melainkan lapangan kerja.
"Jadi kalau kita bisa gelar usaha di sana, apalagi kalau misalnya memungkinkan assembling line, ujung saja, ini dibuka tarifnya sama mereka. Satu orang lapangan kerja itu dihitung sama mereka itu. Betapa berartinya. Concern-nya di situ sebetulnya, tarif itu adalah strategi," ungkapnya.
Dalam waktu dekat, HIMKI akan menjajaki negara bagian mana yang cocok untuk strategi tersebut. Rencananya, bulan Mei mereka akan berkunjung ke Amerika Serikat.
"Kita lagi lihat-lihat, apa mungkin nggak gitu ya. Kan kita bukan negara yang ekspansif, kita kan negara produsen. Di sana UMR-nya mahal. Tapi kita harus lihat, kalau itu membuka ruang tarif menjadi nol, mengapa tidak? Kita harus membela pasar," tuturnya.
Strategi lainnya adalah bekerja sama dengan perusahaan Amerika yang sejalan dengan HIMKI. Contohnya membeli kayu dari Amerika Serikat lalu mengolahnya di Indonesia, kemudian ekspor lagi ke Amerika Serikat.
Hal itu karena masyarakat Amerika Serikat lebih menyukai perabotan rumah yang menggunakan kayu yang biasa dipakai di sana, seperti pohon oak, cherry, dan pohon pinus.
"Kenapa? Karena kalau barang itu nyampe ke Amerika Serikat, ya menyesuaikan perubahan suhu, cuaca, itu jadi aman dan mereka sangat populer atau sangat terbiasa dengan bahan itu," paparnya.
Ia berharap, dengan cara seperti itu, tarif yang dikenakan ke Indonesia bisa berubah menjadi nol persen alih-alih 19 persen.
"Tapi kita harapkan akan terjadi pertumbuhan atau mengarah ke tarif nol," kata Sobur.
(abr/das)










































