Anak pemilik kontrakan yang ambruk ke Sungai Ciliwung, Istiqomah, mengungkapkan tidak ada korban jiwa ketika terjadi longsor pada Jumat (6/3/2026). Kontrakan 3 lantai itu sejak tahun lalu memang sudah kosong.
"Baru tahun ini emang kita udah kosongin. Karena kan, udah miring-miring juga, bangunannya karena tanah," kata perempuan yang kerap disapa Komang kepada BeritaKlik pada Selasa (10/3/2026).
Setelah dikosongkan, kontrakan tersebut dipakai menjadi dapur keluarga mereka. Sementara tempat tinggalnya terpisah di rumah lain yang berjarak hanya satu rumah dari kontrakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat longsor terjadi, tidak ada barang berharga yang hilang, paling hanya peralatan dapur. Tempat tinggal mereka masih aman, meskipun dekat dengan titik longsor.
Komang mengungkapkan kontrakan tersebut dibangun oleh ayahnya sejak tahun 1980-an. Beberapa kali rumah tersebut direnovasi dan tidak ada masalah. Namun, pastinya kondisi lahan di pinggir kali sangat rentan mengalami erosi. Apalagi di bawah rumah tersebut banyak pipa-pipa pembuangan air warga sekitar. Tentu itu juga bisa memicu pergerakan tanah.
Lalu, hujan yang turun terus menerus dan penyangga bangunan di bawah yang tidak lagi kokoh sangat berpotensi menyebabkan erosi. Melihat bangunan kontrakan sudah miring, keluarganya tidak ambil risiko dan langsung menutup kontrakan untuk dipakai pribadi.
Mereka pun sebenarnya ada rencana untuk merenovasi dan merobohkan rumah tersebut seperti saran dari tetangga. Namun, mereka menimbang jika merobohkan sendiri terlalu berisiko bagi keselamatan tukang yang akan membongkar rumah karena tidak ada yang tahu kondisi tanah dan dinding turap di bawahnya.
Sebagai gantinya, pihaknya ingin memperbaiki jalanan di sekitar rumah saja yang memang sudah retak-retak besar. Namun, karena hujan terus menerus, niat tersebut belum terealisasi. Air hujan yang masuk lewat celah jalan tadi, menurutnya membuat tanah di bawahnya lunak sehingga longsor terjadi.
"Kita mau benerin kan tadinya, mau ditutup lah retakan itu, mau dibenerin dari atas. Cuman kan karena masih hujan terus, cuacanya nggak memungkinkan juga buat kerja. Terus, di bawahnya juga kan kita nggak tahu bawahnya itu tiangnya (dinding penyangga seperti turap) masih utuh atau nggak. Tanahnya udah tergerusnya itu seberapa banyak, kita juga nggak tahu, tanahnya udah kopong atau masih ada tanah, kita kan nggak tahu bagian bawahnya," ungkap Komang.
Meskipun musibah ini menghancurkan salah satu aset keluarganya, Komang tidak sedih karena sejak awal mereka sudah berniat untuk merobohkan rumah itu. Orang tuanya juga sudah memiliki rumah yang layak di kota lain sehingga masih ada tempat berteduh.
"Makanya longsor begini tuh, kami sekeluarga udah ikhlas," tuturnya.
(aqi/das)









































