Ahmedabad, kota bersejarah di India, kini tengah menjalani evaluasi yang akan menentukan nasib statusnya sebagai Kota Warisan Dunia. Tim ahli internasional turun langsung untuk memeriksa apakah kota ini masih layak mempertahankan pengakuan bergengsi tersebut.
Tim gabungan dari UNESCO dan ICOMOS memulai misi pemantauan di Ahmedabad. Misi ini berlangsung selama empat hari untuk menilai kondisi pelestarian warisan budaya kota tersebut.
Dilansir dari situs The Times of India, audit ini bertujuan untuk memastikan apakah Ahmedabad masih menjunjung tinggi nilai universal luar biasa yang menjadi dasar penetapannya sebagai Kota Warisan Dunia. Penilaian ini dinilai krusial mengingat meningkatnya tekanan pembangunan urban di kawasan bersejarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim yang terlibat terdiri dari dua pakar ICOMOS dan dua pejabat dari Archaeological Survey of India. Mereka melakukan evaluasi sebagai bagian dari Misi Pemantauan bersama Komite Warisan Dunia.
Agenda dimulai dengan pengarahan di Riverfront House, sebelum dilanjutkan dengan inspeksi lapangan intensif di kawasan Kota Bertembok Ahmedabad. Fokus utama adalah menilai dampak proyek pembangunan terhadap kawasan bersejarah.
Evaluasi ini menjadi semakin penting karena Ahmedabad tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Commonwealth Games 2030 serta mengajukan diri sebagai kandidat tuan rumah Olimpiade 2036. Status sebagai Kota Warisan Dunia dianggap sebagai nilai tambah strategis.
Sebelumnya Komite Warisan Dunia UNESCO menyoroti kemajuan dalam dua aspek penting, yaitu rencana konservasi warisan dan revisi pedoman desain perkotaan. Hal ini menjadi perhatian utama dalam evaluasi.
Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah pembangunan kembali Stasiun Kereta Api Kalupur yang dinilai sebagai ancaman karena skala proyeknya. Para ahli mendesak penghentian perubahan zonasi hingga dilakukan kajian dampak warisan budaya.
Proyek lain yang turut diawasi meliputi fasilitas pemadam kebakaran, proyek parkir, terminal bus, hingga konservasi Benteng Bhadra dan Museum Sardar Patel. Kekhawatiran utama adalah meningkatnya lalu lintas kendaraan yang dapat merusak karakter kawasan bersejarah.
Meskipun lebih dari 100 rumah warisan telah direnovasi, UNESCO menilai upaya tersebut belum cukup. Salah satu target yang belum tercapai adalah pendirian pusat pelatihan konstruksi tradisional bagi para pengrajin lokal.
Tekanan juga datang dari warga kota yang menuntut dilibatkan dalam proses evaluasi. Mereka ingin memastikan suara komunitas lokal turut dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan terkait masa depan kota.
Sebagai informasi, dilansir dari situs resmi UNESCO, Ahmedabad dikenal dengan arsitektur monumental dari era Kesultanan Gujarat abad ke 15, termasuk Benteng Bhadra dan Masjid Jama yang mencerminkan perpaduan nilai budaya dan keagamaan.
Kota ini juga memiliki arsitektur domestik khas berupa rumah-rumah berhalaman dengan konstruksi kayu dan batu bata kapur. Desain ini tidak hanya estetis, tetapi juga dirancang untuk kenyamanan iklim dan efisiensi ruang.
Kota Ahmedabad didirikan pada tahun 1411 oleh Sultan Ahmad Shah I dan menjadi kota pertama di India yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia pada 2017. Kawasan kota bertemboknya mencerminkan perkembangan sejarah panjang dengan lapisan budaya yang beragam dan tetap bertahan hingga kini.
(das/das)










































