Rumah saat ini bukan lagi sesuatu yang private dan harus ditutupi dari orang lain. Banyak orang justru memperlihatkan rumahnya dan kesehariannya di media sosial.
Lewat konten hanya di rumah, mereka bisa mendapatkan pengikut (followers) ribuan bahkan jutaan. Bahkan jika dia seorang selebriti, segala hal tentang rumahnya, termasuk lama pengerjaan, drama pembangunan, hingga harga rumahnya bisa menjadi pembicaraan hangat oleh masyarakat. Padahal mereka tidak tinggal di sana, tidak menyumbang uang sepeser pun, atau tidak pernah diundang ke sana.
Lantas, kenapa isi rumah dan cara mereka berkegiatan sehari-hari sangat menarik perhatian orang lain?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata sifat manusia yang kepo atau penasaran terhadap kehidupan dan rumah orang lain sudah terjadi sejak lama, jauh sebelum teknologi semakin maju seperti sekarang.
Dilansir dari House & Garden, menurut seorang ahli perilaku manusia dan psikolog klinis Dr. Sophie Mort hal ini bermula karena ketertarikan seseorang untuk memahami bagaimana orang lain hidup dan bagaimana ruang mencerminkan kepribadian, nilai-nilai, dan gaya hidup seseorang.
"Itu menarik bagi kita karena kita mungkin ingin membayangkan cara hidup yang berbeda, atau kita mungkin ingin mendapatkan wawasan tentang pilihan orang-orang yang kita kagumi. Ini adalah cara bagi kita untuk mengeksplorasi identitas kita, memahami norma-norma masyarakat, dan mengukur kehidupan kita sendiri dibandingkan dengan kehidupan orang lain," kata perempuan yang kerap dipanggil Dr. Soph, seperti dikutip BeritaKlik pada Jumat (27/3/2026).
Lebih lanjut, reaksi kita terhadap kondisi tempat tinggal orang lain juga dapat mengungkapkan banyak hal tentang rasa keberpihakan dan rasa tidak aman pada diri kita.
Ketika kita mengagumi rumah seseorang, itu sering kali mencerminkan keinginan dan cita-cita kita. Sebagai contoh kita menyukai rumah yang banyak tanaman, rumah yang luas, rumah dengan kamar tidur masing-masing, hingga dapur di dalam rumah. Oleh karena itu, ketika kita mengagumi rumah seseorang, secara tidak sadar kita membayangkan bagaimana jika bentuk ruangan tersebut jadi milik kita.
Rasa ini juga yang memunculkan rasa terinspirasi. Sebab, kekaguman juga dapat berasal dari keinginan untuk terhubung dengan orang lain yang memiliki selera dan nilai yang sama dengan kita.
Sebaliknya, perasaan tidak nyaman atau menghakimi tempat tinggal orang lain dipicu karena kecemasan kita. Misalnya, rumah yang berantakan dapat memicu ketidaknyamanan bagi seseorang yang selalu rapi atau mencium bau tak sedap dan amis dari rumah seseorang membuat kita tidak nyaman saat berada di sana karena di rumah tidak pernah mencium bau seperti itu.
Ketidaknyamanan atau keinginan untuk mengkritik ketika melihat rumah orang juga bisa karena ingin membuat diri merasa lebih baik dan membuat pemilik rumah sakit hati atau tidak senang dengan rumahnya. Fenomena ini tidak semuanya dilakukan secara sengaja, ada beberapa kejadian dilakukan secara tidak sengaja.
Semakin majunya teknologi, orang lain semakin mudah untuk mengetahui kondisi rumah dan keseharian seseorang. Jika melihat ke belakang, pada awal abad ke-20, satu-satunya cara untuk melihat bagian dalam rumah orang lain adalah melalui undangan atau melalui halaman majalah sosial.
Hal ini menyebabkan muncul persepsi bahwa gaya rumah pedesaan Inggris merupakan arsitektur incaran semua orang. Sebab, gaya rumah itu banyak dipakai oleh masyarakat kelas atas yang sering muncul di majalah.
Ketika Instagram, YouTube, hingga Google Maps muncul, melihat rumah orang lain dan artis sekalipun menjadi sangat mudah. Bahkan dengan foto sekilas kita bisa tahu merek barang, harganya, dan tipenya.
"Kemudian, muncul rasa persaingan. Tiba-tiba, tampaknya tidak apa-apa untuk mengkritik rumah orang lain, hanya untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa apa yang telah kita lakukan lebih baik. Kita tidak hanya memiliki selera yang bagus, tetapi juga lebih baik daripada selera orang lain," ujar dr Soph.
dr Soph menegaskan rasa tertarik dan penasaran terhadap rumah dan kehidupan orang lain itu wajar. Hal tersebut bisa dipelajari dan ada teorinya, yakni teori perbandingan sosial.
"Dalam kasus kehidupan orang yang kaya, melihat 'bagaimana kehidupan orang lain' dapat menjadi bentuk pelarian atau cara untuk merasakan kemewahan dan kekuasaan secara tidak langsung," ungkapnya.
(aqi/abr)











































