Colliers Indonesia mengungkapkan sebanyak 29.000 unit dari 206.000 unit apartemen di Jakarta hingga kuartal I 2026 belum laku terjual. Di antara 29.000 unit tersebut ada 26.000 unit yang siap huni dan bisa dibeli dengan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen.
"Kalau kita lihat di chart ini, jadi total unit yang terserap sampai Q1 2026 itu ada 206.000 unit, di mana yang belum terserap sekitar 29.000 unit itu ada 27.000 unit yang sudah siap dihuni yang ini bisa memanfaatkan insentif PPN DTP, karena ini unit yang sudah siap diserahterimakan. Kemudian sampai akhir tahun, sisa akhir tahun 2026, yaitu dari Q2 sampai Q4 itu ada sekitar lebih kurang 2.000 unit (akan selesai pembangunannya)," kata Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam Colliers Virtual Media Briefing Q1 2026 pada Rabu (8/4/2026).
Insentif PPN DTP hanya bisa diklaim untuk pembelian apartemen yang sudah siap huni. Pemerintah juga telah menetapkan insentif tersebut berlaku 100 persen sepanjang tahun 2026 untuk hunian dengan harga maksimal Rp 2 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan insentif ini membantu mendorong daya beli apartemen di Ibu Kota. Pasalnya saat ini masyarakat masih berorientasi bahwa hunian adalah rumah tapak, bukan rumah vertikal seperti apartemen. Oleh karena itu, sektor apartemen hingga saat ini belum tumbuh secara maksimal dan masih ada ratusan ribu unit yang kosong.
Ferry mengungkapkan penjualan apartemen di Jakarta hingga 2026 ditopang oleh unit siap huni, sekitar 60 persen. Ia mengatakan sudah menjadi tren berulang bahwa penjualan apartemen di awal tahun rendah, nantinya pada akhir tahun penjualan tersebut akan meningkat. Ia menyarankan masyarakat untuk segera membeli apartemen selagi tidak dibebankan pajak pembelian.
"Harga juga sebenarnya stabil di sekitar angka 36 juta per meter persegi, tapi yang menarik di sini adalah sekitar 60 persen penjualan (unit) baru itu datang dari unit yang siap huni. Jadi pembeli sekarang memang lebih cari yang pasti dan bisa langsung ditempati. Sementara proyek-proyek baru yang masih dalam tahap konstruksi lebih banyak diserap di segmen high end (premium)," jelasnya.
Tren pembeli ini juga mempengaruhi visi pengembang. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan unit yang siap huni dahulu baru setelah itu membangun apartemen baru. Selain itu, beberapa unit yang dijual pun ditawarkan sudah termasuk perabotannya untuk mempermudah calon penghuni.
Ferry melihat ke depannya, tren ini masih akan diterapkan, di mana pengembang menunda ekspansif dan lebih memprioritaskan penjualan unit yang siap ditempati. Lalu, untuk harga kemungkinan ada kenaikan mengingat harga konstruksi dari tahun ke tahun naik.
(aqi/zlf)










































