Di tengah gurun Australia Selatan, terdapat sebuah kota unik bernama Coober Pedy. Kota ini diketahui mempunyai cuaca dengan suhu panas yang ekstrem, sehingga sejumlah warga memilih mendirikan hunian di bawah tanah. Apa alasannya?
Sebagai informasi, Coober Pedy terletak di wilayah yang suhunya bisa mencapai 52 derajat Celcius. Para penduduk akhirnya membangun hunian di bawah tanah demi mendapatkan suhu yang lebih stabil, sehingga lebih nyaman untuk ditinggali.
Dilansir dari BBC, hampir seluruh kehidupan di kota ini berlangsung di bawah permukaan tanah. Rumah-rumah dibangun dengan cara menggali batu pasir bekas tambang opal, lalu diubah menjadi hunian lengkap dengan kamar tidur, dapur, ruang tamu, hingga fasilitas modern seperti listrik, air mengalir, dan internet. Tak hanya rumah, fasilitas umum seperti gereja, toko buku, galeri seni, hingga kolam renang juga berada di bawah tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cuaca panas di kota Coober Pedy, ini diperparah dengan minimnya vegetasi dan kelembapan yang sangat rendah, sehingga membuat kehidupan di atas tanah menjadi tidak nyaman dan penuh tantangan.
Solusi hunian bawah tanah muncul dari kebiasaan para penambang opal yang sudah terbiasa bekerja di dalam terowongan dengan suhu lebih stabil. Mereka kemudian mulai menggali ruang tinggal di dalam bukit batu pasir, yang secara alami mampu menjaga suhu tetap konstan di kisaran 22 hingga 24°C, sepanjang tahun tanpa bantuan pendingin atau pemanas.
Rumah bawah tanah di Coober Pedy, Australia Selatan. Foto: Mark Kolbe/Getty Images |
Dari segi biaya, pembangunan rumah bawah tanah di Coober Pedy tidak jauh berbeda dengan rumah konvensional. Namun, keunggulan utamanya terletak pada hematnya energi karena tidak membutuhkan pendingin udara. Alhasil, biaya listrik lebih murah serta memudahkan penduduknya yang tinggal wilayah terpencil dengan infrastruktur terbatas.
Interior rumah bawah tanah ini juga tak kalah menarik. Dinding batu pasir berwarna hangat menciptakan suasana nyaman, sementara beberapa penghuni bahkan mengukir furnitur langsung dari batu. Ada pula rumah yang dilengkapi kolam renang pribadi hingga ruang hiburan.
Sampai sekarang, sekitar 60 persen penduduk Coober Pedy memilih tinggal di hunian bawah tanah. Jika dilihat dari luar, kota ini tampak seperti hamparan gurun kosong dengan gundukan tanah dan pipa ventilasi. Namun, di bawahnya justru terdapat kehidupan yang dilakukan para penduduknya, mulai dari memasak, mencuci, hingga belajar.
Selain efisiensi energi, rumah bawah tanah juga menawarkan kelebihan lain seperti minim polusi suara, bebas serangga, serta lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem. Bahkan, dalam beberapa kondisi, struktur bawah tanah juga dinilai lebih aman dari dampak gempa ringan dibanding bangunan di permukaan.
Harga properti di Coober Pedy juga relatif terjangkau. Rumah bawah tanah dengan tiga kamar tidur dapat dijual dengan harga jauh lebih murah dibandingkan rumah di kota besar. Hal ini menjadikan kawasan ini menarik sebagai alternatif hunian di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim global.
Gereja bawah tanah di Coober Pedy, Australia Selatan. Foto: Dok. Buzznick |
Berdasarkan laporan Britannica, Coober Pedy sendiri merupakan pusat produksi opal dunia yang telah berkembang sejak awal abad ke 20. Kota ini resmi menjadi wilayah administratif pada tahun 1960 dan mengalami pertumbuhan pesat seiring meningkatnya aktivitas pertambangan. Nama Coober Pedy berasal dari istilah Aborigin yang berarti orang kulit putih di dalam lubang.
Kondisi geografis dan geologis wilayah ini berupa batu pasir yang lunak dan mudah digali menjadi faktor utama yang memungkinkan berkembangnya konsep hunian bawah tanah. Kini, rumah, gereja, hingga hotel bawah tanah tidak hanya menjadi solusi terhadap iklim, tetapi juga daya tarik dan inspirasi desain hunian masa depan di tengah ancaman pemanasan global.
(ilf/ilf)













































