Pengelola penginapan Pondok Boro, Taryono (35), mengatakan sebelum tarif penginapannya Rp 4.000 per hari, dulu sempat gratis. Tarif dibebankan karena sekarang ada listrik, air, biaya kebersihan yang harus dikeluarkan setiap harinya.
"Kita sifatnya sosial. Dulu malah gratis waktu zaman dulu. Tapi karena sekarang sudah ada listrik, PBB, dan perawatan, akhirnya ya ditarik Rp 4.000," kata Taryono kepada detikJateng, seperti dikutip pada Senin (20/4/2026).
Selain listrik dan air sudah termasuk, di penginapan ini juga tersedia tempat tidur. Meskipun sangat sederhana, tetapi cukup nyaman untuk ditempati. Bentuknya berupa papan los panjang tanpa alas empuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana penginapan di Pondok Boro, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (16/10/2015). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Papan tersebut seperti meja panjang dengan empat kaki yang pendek. Permukaannya ditutupi dengan terpal. Dalam pantauan detikJateng, tempat tidur itu tidak memiliki sekat antar pengunjung sehingga pengunjung layaknya tidur di meja panjang. Barang pribadi milik penyewa disimpan di pojokan kasur, ada yang dimasukkan ke dalam kardus dan rak-rak sederhana.
Lalu, sudah ada kipas angin di beberapa sudut ruangan. Toilet juga tersedia meskipun untuk umum. Air yang tersedia berasal dari sumur dan harus menimba air sebelum digunakan.
"WC komplit cuma ala kadarnya, pakainya sumur, timbanya hampir 16 kan buat mandi bareng-bareng. Kalau mau ke WC ya berjejer-jejer sudah terbiasa yang penting bisa untuk tidur nyaman," ujarnya seperti dikutip BeritaKlik pada Senin (20/4/2026).
Suasana penginapan di Pondok Boro, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (16/10/2015). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Hanya dapur dan tempat memasak yang tidak tersedia di penginapan ini. Namun, di dekat penginapan banyak warung makan sehingga penyewa tetap mudah untuk membeli makan.
Selain fasilitas, kondisi bangunan Pondok Boro juga sederhana. Bangunan tua yang umurnya hampir satu abad ini sudah tampak kusam dan terdapat beberapa kebocoran. Namun, pemilik dan pengelolanya masih mempertahankan bentuk aslinya. Hanya ada perbaikan kecil di bagian atap atau kayu yang rapuh.
Di dalamnya terdapat beberapa gang dan loteng yang menjadi kamar para penghuni, seperti Gang Tengah, Gang Lor, hingga Gang Sragen yang memang banyak dihuni perantau dari Sragen.
Salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, Shomad (52), telah tinggal di sana sejak awal 1990-an. Pria perantau asal Cirebon itu biasanya berjualan sampah MMT bekas
"Saya tinggal di sini semenjak tahun '90-an. Kesehariannya jualan. Dulu jualan pakaian terus 2012 beralih jualan sampah MMT bekas sampai sekarang. Jualannya di pasar," kata Shomad di Pondok Boro pada Kamis (16/10/2025).
Shomad mengatakan tempat singgah ini khusus laki-laki. Para penghuni berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kebumen, Sragen, hingga luar Jawa Tengah yang bekerja sebagai pedagang, kuli, atau sopir. Hubungan antar penyewa juga baik layaknya keluarga.
"Ya di sini kayak saudara semua, kayak kakak adik. Kalau ada yang kesusahan ya saling bantu," ujarnya.
Artikel ini sudah tayang di detikJateng
(aqi/zlf)












































