Sektor perumahan mengalami perlambatan di kuartal I 2026. Namun, beberapa wilayah justru mencatatkan kenaikan penjualan.
CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan ada anomali dalam pasar properti. Secara umum tren pasar perumahan di Jabodebek-Banten mengalami penurunan, tetapi Bekasi, Bogor, dan Depok mengalami pertumbuhan penjualan.
"Tren pertumbuhan pasar perumahan di Bekasi dan Bogor itu relatif terjadi pertumbuhan naik terus tapi landai. Yang membuat anomali sebetulnya karena di Banten terjadi penurunan jadi seakan-akan anomali," kata Ali dalam Indonesia Property Watch Housing Market Update Q1-2026, Kamis (30/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren kenaikan penjualan rumah terbesar terjadi di Bekasi. Membandingkan data kuartal I 2026 dengan triwulan sebelumnya, terjadi peningkatan sebesar 18,1 persen.
Menurut Ali, kenaikan tersebut didorong oleh proyek perumahan pengembang besar di Bekasi. Pengembang yang menjadi benchmark di Bekasi itu mencatatkan penjualan yang tinggi.
"Beberapa pengembang proyek perumahan yang dari pengembang besar yang land bank-nya luar biasa ini membukukan penjualan yang luar biasa di Q1 dan itu di (rumah seharga) Rp 1-2 miliar," katanya.
Hal itu juga membuktikan terjadi pergeseran minat pembeli. Dari sebelumnya banyak orang membeli rumah yang harganya di bawah Rp 1 miliar menjadi relatif lebih banyak di kisaran harga Rp 1-2 miliar.
Lebih dari itu, Ali mengatakan kenaikan penjualan di Bekasi lebih tinggi daripada kenaikan nilai unit penjualan, yakni 5,7 persen. Kondisi tersebut menjadi indikasi penjualan segmen rumah tinggi di Bekasi naik di kuartal I 2026.
Di sisi lain, ia menyebutkan penjualan rumah di Jabodebek-Banten pada kuartal I 2026 dibandingkan triwulan sebelumnya turun 12,9 persen. Sementara itu, unit terjual turun 14,2 persen. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya aktivitas keagamaan.
"Memang ini ada dampaknya dari Q1 itu karena banyak aktivitas keagamaan, adanya bulan Ramadhan, kemudian Imlek, kemudian Idul Fitri, kemudian ada Nyepi, itu paling tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat untuk membeli rumah," tuturnya.
Untuk diketahui, data yang dipaparkan IPW dihimpun dari 73 proyek perumahan non subsidi di Jabodebek-Banten non subsidi.
(dhw/das)









































