Bahan Bangunan Naik, Asosiasi Wanti-wanti Ancaman Impor-Pabrik Tutup

Bahan Bangunan Naik, Asosiasi Wanti-wanti Ancaman Impor-Pabrik Tutup

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Senin, 04 Mei 2026 18:45 WIB
Pembangunan rumah tahan gempa di Lombok sedang berjalan. Pemerintah menjalankan program ini dengan melibatkan Kadin untuk memasok bahan baku.
Ilustrasi bahan bangunan. Foto: PUPR
Jakarta -

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) Gomas Harun mengungkapkan kondisi industri bahan bangunan sedang tidak baik-baik saja imbas kenaikan harga plastik, LPG, hingga BBM. Kenaikan harga bahan bangunan cukup bervariasi tergantung dengan material yang dipakai, kisarannya sekitar 15-40 presen.

Bahan bangunan dan produk turunannya yang terbuat dari plastik, seperti tangki air plastik, pipa PVC, kabel listrik paling terdampak karena terbuat dari plastik.

"Di pasar kenaikan bahan bangunan bervariasi 20-40 persen. Bahan bangunan yang berhubungan dengan plastik (paling tinggi harganya)," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, bahan bangunan non-plastik, seperti batu bata, semen, hingga pasir ikut terdampak dengan kenaikan 10-15 persen imbas kenaikan BBM.

"Tetap ada kenaikan. Karena Pengangkutannya kan tetap memakai kendaraan truk, sekitar 10-15 persen," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Kenaikan ini tidak bisa dianggap sepele, ada banyak efek domino yang akan terjadi. Mulai dari muncul oknum-oknum yang menjual bahan bangunan dengan harga tinggi karena stoknya langka di pasar, masuknya produk-produk impor yang lebih murah yang membuat produk lokal tidak laku, hingga kelangkaan bahan-bahan bangunan karena produsennya berhenti produksi imbas naiknya harga produksi.

"Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, industri hulu kita masih belum kompeten dalam menyediakan bahan baku yang memadai, baik dari sisi kapasitas, stabilitas pasokan, maupun harga yang kompetitif. Akibatnya, industri hilir dan masyarakat sering menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi gejolak harga maupun kelangkaan material di pasar," jelas Gomas.

Gomas juga menyebut jika harga terus naik, bahan-bahan bangunan yang akan terancam langka adalah baja dan produk dari plastik.

"Plastik dan baja. Kalau semen dan keramik atau granit sudah bisa diatasi karena sudah banyak pabrik. Malah akan terus bertambah," ucapnya.

Jika ini dibiarkan, produsen bahan bangunan lokal tidak akan selamat. Dengan biaya produksi yang tinggi, apabila tidak ada keuntungan, tinggal menunggu waktu pabrik-pabrik tersebut gulung tikar.

Gomas mengaku asosiasi telah menerima banyak keluhan dari pemasok imbas kenaikan harga bahan bangunan akhir-akhir ini. Namun, tidak ada yang bisa mengubah keadaan karena memang semua serba mahal, bahkan banyak pengusaha yang memangkas margin atau selisih pendapatan penjualan dengan biaya produksi demi bisa bertahan.

"Sudah banyak yang mengeluh kepada pemasok. Tapi pemasok seperti saya juga tidak bisa buat apa apa. Kita sekarang jualan hanya demi menutup biaya karyawan dan operasional pabrik. Belum lagi harga elpiji melonjak. Margin sudah kami tekan seimut mungkin. Kalau begini terus, prediksi bulan Juni akan banyak pabrik yang tutup," tuturnya.

Ia meminta kepada semua pengusaha tetap optimis dan kompak bertahan di situasi seperti ini. Jangan sampai ada pengusaha yang merugikan masyarakat dengan memasang harga tinggi yang melebihi kenaikan harga di pasaran demi keuntungan pribadi.

"Dunia usaha perlu hadir sebagai bagian dari solusi dengan memastikan kebutuhan material bahan bangunan tetap tersedia dan harga yang sampai ke masyarakat adalah harga yang terbaik dan wajar," tegas Gomas.

Harapannya pemerintah bisa lebih cepat dan tegas mengatasi hal ini. Penghapusan bea masuk impor LPG dan beberapa bahan baku plastik menjadi 0 persen dinilai belum ampuh menstabilkan harga bahan bangunan.




(aqi/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita BeritaKlik Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads