Sebuah rumah bersejarah sedang dijual di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja. Rumah kuno bergaya jengki itu merupakan peninggalan seorang pahlawan nasional, yakni Prof dr M Sardjito.
Dikutip dari detikJogja, Dokter Sardjito sendiri lebih dikenal sebagai nama rumah sakit. Padahal, dia adalah rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1949-1961, dan juga rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII) di rentang tahun 1963-1970.
Sejak menjabat sebagai rektor UGM pada 1949, Sardjito tinggal di rumah tersebut. Sekarang rumah itu dirawat dan dijaga oleh Budhi Santoso (70), yaitu seorang kerabat dari keluarga Sardjito.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat beredar kabar di media sosial bahwa rumah peninggalan Sardjito akan dilepaskan. Budhi membenarkan bahwa rumah peninggalan Sardjito memang dijual.
Budhi memberikan ide untuk menjual rumah. Sebab, menurutnya rumah sudah tidak terawat. Adapun harga jual rumah tak disebutkan.
Keputusan untuk menjual rumah sudah disepakati oleh ahli waris, yakni cucu Sardjito, Alita dan Dyani Poedjioetomo. Keduanya saat ini tinggal di Jakarta.
"Yang punya ide melepas rumah ini memang saya, karena kenapa? Masalahnya, maaf ya, tidak dirawat dengan baik-baik. Akhirnya berunding lah (dengan ahli waris), setuju, nah sekarang masih dalam proses lah," kata Budhi saat ditemui detikJogja di rumah Sardjito, Kamis (14/5/2026).
Dia mengatakan rumah tak akan dijual menggunakan jasa broker atau perantara serta media sosial untuk menjual rumah. Pasalnya, ia ingin rumah ini dirawat oleh pihak yang tepat.
Budhi justru memilih menawarkan rumah ini secara langsung ke pihak-pihak tertentu, termasuk UGM dan UII. Ia tidak ingin rumah bersejarah dibeli tetapi akhirnya berubah menjadi kafe.
Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
"Kalau harapan saya, memang yang punya ide untuk mengembalikan ke UGM memang saya, daripada ke orang asing, maaf lho ya, pasti jadi kafe. Kalau memang itu (mau dijual) ya tawarkan ke UGM atau UII, soalnya dulu Pak Sadjito pernah jadi Rektor UII juga, itu akan lebih terhormat, akan dirawat," tuturnya.
Selain itu, rumah peninggalan Sardjito berdiri di atas lahan seluas 1.206 meter persegi. Bangunan itu memiliki luas kurang lebih 800 meter persegi.
Fasad rumah bergaya jengki ini berbentuk atap segitiga besar khas rumah kuno zaman pascakolonial. Lalu, terdapat halaman yang luas dan asri.
Interior rumah itu menggunakan ubin merah mengkilat. Seluruh rumah termasuk tiga kamar seluas 5x5 meter dihiasi ubin ini.
Bangunan ini tak banyak mendapat sentuhan perbaikan sejak berdiri puluhan tahun silam. Bahkan, furnitur di dalamnya masih asli.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(dhw/ilf)











































