Kebanyakan arsitek terkenal dunia memiliki gelar dan latar belakang pendidikan yang linear, yakni dari arsitektur. Namun, Tadao Ando bisa menerbangkan namanya sebagai arsitek terkenal dunia dengan sebutan arsitek otodiak.
Ia dikenal sebagai arsitek otodidak karena ia belajar semuanya sendirian dan tidak memiliki gelar akademik secara resmi. Meskipun begitu, karyanya bisa mendunia, bahkan dia dengan berani mengatakan tidak ada arsitek lain yang bisa mengikuti karyanya.
"(Karya saya) tampak seperti sesuatu yang bisa dibuat siapa saja. Tetapi (tidak ada) orang lain yang bisa membuatnya. Ini adalah arsitektur saya," kata Tadao Ando kepada CNN, seperti dikutip BeritaKlik pada Senin (18/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ando adalah nama yang sangat terkenal di tanah kelahirannya, Jepang dan dunia. Ia lahir pada 1941 sebagai anak tertua dari sepasang anak kembar laki-laki yang dipisahkan sejak bayi. Ando kemudian tinggal bersama neneknya. Dari sana, bakat di bidang kerajinan tangan tumbuh.
Masa lalu Ando bisa dikatakan tidak ada arah menjadi arsitek. Ia adalah seorang petinju profesional dan pernah menjadi sopir truk. Hal itu ia tekuni hingga usia 24.
Dunianya berubah total saat ia pergi ke Eropa. Tidak diketahui tujuannya untuk apa ke sana, tetapi bangunan-bangunan di negara itu sukses menyihirnya. Ia terpana pada karya-karya Le Corbusier, arsitek aliran Puris asal Swiss-Prancis yang menonjolkan desain betonnya.
Kemegahan karya Le Corbusier benar-benar meninggalkan kesan yang dalam baginya. Bahkan hingga saat ini lewat karya-karyanya. Saking sukanya dengan karya Le Corbusier, ia menamai anjing peliharaannya Corbusier.
Setelah berlayar kembali ke kota kelahirannya di Osaka, tanpa gelar atau pelatihan dari seorang ahli, Ando mendapatkan lisensi arsitekturnya dan mulai mendesain bangunan.
Saat itu, ia dikenal sebagai arsitek "gerilya perkotaan". Ia mulai membangun dunia barunya dari terlibat dalam proyek pembangunan rumah-rumah mungil dengan halaman dalam yang luas. Lalu, menjajal membangun kompleks perumahan yang luas, hingga gereja.
Hasil kerja kerasnya selama 30 tahun membangun dunia baru akhirnya diakui oleh sesama arsitek profesional. Pada 1995, ia dianugerahi penghargaan tertinggi: The Pritzker Architecture Prize yang merupakan Nobel-nya arsitektur.
Penghargaan internasional tahunan ini selalu diberikan kepada arsitek yang karyanya dianggap memberikan kontribusi besar bagi kemanusiaan dan lingkungan.
Mengikuti jejak Le Corbusier, karya-karya Ando kebanyakan menonjolkan bangunan yang terbuat dari beton yang tampak minimalis, tetapi sangat memperhatikan detail dan megah.
Karya terobosannya yang paling diingat dunia adalah sebuah rumah beton bertulang tanpa jendela yang dibangun pada 1976 dengan sebuah rumah beton bertulang tanpa jendela.
Terletak di antara tiga rumah tradisional Jepang, Row House di Sumiyoshi adalah benteng terpencil yang hanya mendapat cahaya alami dari halaman dalamnya. Rumah ini bertolak belakang dengan konsep rumah pada umumnya. Namun, rumah ini yang justru membuat Ando memenangkan penghargaan dari Asosiasi Arsitektur Jepang.
Penghuni rumah tersebut pada 2017 mengungkapkan setelah tinggal di sana selama 35 tahun, rumah tersebut sangat layak ditempati seperti rumah pada umumnya.
"Meskipun merasakan perubahan musim di kulit saya di halaman setiap hari, terkadang saya merasa kesal dengan rumah ini. Terkadang saya merasa senang tinggal di sini, dan terkadang rumah ini menantang saya, (tetapi) saya tidak pernah bosan dengan semua pengalaman itu," ujarnya.
Proyek terkenal dari perjalanan kariernya adalah proyek di pulau Naoshima pada pertengahan tahun 1980-an. Ia tidak bekerja sendirian. Ia yang bertanggung jawab mendesain Museum Benesse House.
Galeri seni tersebut dibuat sebagian terkubur di dalam tanah, seperti yang telah menjadi ciri khas Ando, dan para seniman diundang untuk membuat karya untuk lokasi unik ini.
Ternyata ide brilian Ando memicu sebuah tren. Pada dekade berikutnya, Ando membangun enam bangunan publik lagi di sana, rumah-rumah terbengkalai diubah menjadi wisma tamu, seniman terkenal asal Jepang Yayoi Kusama memasang salah satu karyanya berupa labu berbintik-bintiknya di ujung dermaga, dan festival seni tiga tahunan Naoshima kini mendatangkan sekitar 800.000 wisatawan ke pulau itu setiap tahunnya.
Karya lainnya yang tak kalah fenomenal adalah Bukit Buddha, sebuah patung setinggi 13,5 meter yang telah didirikan di Sapporo, Hokkaido, 15 tahun sebelum Ando tiba. Ia mengubah area sekitar patung tersebut menjadi karya yang artistik.
Patung tersebut ditutupi dengan beton buatan yang atasnya adalah tanah yang ditumbuhi lavender. Jika dilihat dari kejauhan hanya bagian atas kepala patung yang terlihat samar-samar. Patung Buddha dapat diakses oleh pengunjung melalui terowongan sepanjang 40 meter.
Salah satu hasil karya Ando di Malibu berupa rumah pinggir pantai, dibeli oleh mantan suami Kim Kardashian, Kanye West seharga Rp 1,2 triliun.
Kanye West Beli Rumah di Malibu Rp 1,2 T, Mahakarya Arsitek Tadao Ando Foto: Dirt.com/ Istimewa |
Masih banyak karya fenomenal dari Ando. Bukan hanya di Jepang, ada pula di Amerika, China, Prancis, Italia, hingga Jerman.
Meskipun sejak awal tak pernah mengambil pendidikan formal di bidang arsitektur, kisah Tadao Ando membuktikan mimpi dan minat bisa mematahkan stereotip yang ada di masyarakat.
(aqi/zlf)











































