Tak Banyak yang Tahu, Cikal Bakal Fondasi Cakar Ayam Berawal dari Ancol

Tak Banyak yang Tahu, Cikal Bakal Fondasi Cakar Ayam Berawal dari Ancol

ilham fikriansyah - detikProperti
Selasa, 26 Mei 2026 06:08 WIB
Tak Banyak yang Tahu, Cikal Bakal Fondasi Cakar Ayam Berawal dari Ancol
Prof Ir Sedyatmo. Foto: Istimewa
Jakarta -

Ada banyak jenis fondasi yang digunakan pada bangunan, salah satunya adalah fondasi cakar ayam. Bisa dibilang, fondasi ini banyak digunakan karena dianggap kokoh.

Bagi yang belum tahu, cakar ayam adalah fondasi yang terbuat dari pelat baja, lalu ditanam dan mencengkram dasar bangunan untuk memperkokoh dari beban bangunan.

Fondasi ini nggak hanya di gunakan di Tanah Air saja, lho. Ternyata fondasi cakar ayam sudah digunakan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Jerman, hingga Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, tahukah kamu siapa penemu fondasi cakar ayam? Ternyata penemunya adalah orang Indonesia! Siapakah dia?

Prof Ir Sedijatmo adalah penemu fondasi cakar ayam. Ia menemukan fondasi ini ketika masih bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada 1962.

ADVERTISEMENT

Sedikit informasi, Prof Ir Sedijatmo lahir di Jawa Tengah pada 1909. Ia termasuk salah satu tokoh sipil Indonesia yang mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1930-1934. Ia mulai bekerja di berbagai instansi pemerintah setelah lulus kuliah.

Mengutip buku "Prof. Ir. Sedijatmo Karya dan Pengabdiannya" oleh Mardasana Safwan dan diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, pada Mei 1962 Prof Ir Sedijatmo ditugaskan memimpin Pusat Listrik Negara Uap (PLTU) di Tanjung Priok.

Ia mendapatkan tugas dan tanggung jawab terhadap pengaliran listrik dari sentral ke Gelora Senayan (sekarang Gelora Bung Karno). Di masa itu, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games edisi keempat, sehingga harus selesai pada Agustus 1962.

Namun ada satu kendala besar yang sangat krusial, yakni pemasangan jaringan transmisi. Soalnya tiang transmisi harus didirikan di kawasan Ancol yang tanahnya lunak atau lembek karena dekat laut. Mau tak mau, Prof Ir Sedijatmo harus putar otak supaya proyek tersebut bisa selesai dalam waktu dekat.

Saat tengah berpikir keras, ia masih sempat berpiknik dengan anak-anaknya ke kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Dia teringat masa kecil saat sedang bermain di pantai, ia pernah termenung memandangi pohon kelapa yang berdiri tegak di tanah yang lunak.

Prof Ir Sedijatmo berpikir sejenak sambil melihat pohon kelapa yang berakar serabut bisa berdiri kokoh di tanah lunak walaupun diterpa angin kencang. Padahal, jenis pohon di pesisir yang kuat memiliki akar tunjang.

Setelah diamati, Prof Ir Sedijatmo mengambil kesimpulan akar serabut sangat efisien karena dapat 'mencakar' tanah seluruhnya dan sekelilingnya. Akar ini dinilai lebih kuat menahan berdirinya pohon dibandingkan akar tunjang yang mencapai lapisan tanah keras jauh di bawah permukaan.

Dari pengamatannya itu, ia memikirkan untuk memasang tiang transmisi di Ancol yang mirip dengan akar serabut tersebut. Akhirnya sistem fondasi baru ini disebut 'sistem cakar ayam'.

Prof Ir Sedijatmo kemudian mendesain sistem konstruksi ini yang terdiri dari pelat beton setebal 10 cm dan sejumlah pipa beton berdiameter 1 meter dan tinggi 2 meter.

Setelah pipa beton ditanam tegak di dalam tanah, dibuatlah pelat beton di atasnya sedemikian rupa sehingga pelat dan pipa-pipa menjadi satu kesatuan. Di atas pelat itu kemudian didirikan tiang transmisi yang berupa rangka-rangka besi itu.

Berkat pengamatannya dari pohon kelapa, Prof Ir Sedijatmo dapat menyelesaikan seluruh proyek tiang transmisi listrik sebelum batas waktu yang ditentukan. Bahkan, hak paten penemuannya ini telah didaftarkan ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Prancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Denmark, Brasil, dan lainnya.

Dilansir dari Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, fondasi cakar ayam memiliki beberapa kelebihan, contohnya seperti tidak memerlukan sistem drainase serta daya topang bangunan yang kuat (dapat mencapai 600 ton per kolom). Tak hanya pada bangunan, fondasi ini juga bisa digunakan pada pembangunan jalan.

(ilf/das)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita BeritaKlik Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads