Dolar Rp 17.800 Bikin Industri Properti Waswas, Harga Rumah Bisa Ikut Naik

Dolar Rp 17.800 Bikin Industri Properti Waswas, Harga Rumah Bisa Ikut Naik

Danica Adhitiawarman - detikProperti
Sabtu, 30 Mei 2026 09:12 WIB
Ilustrasi Beli Rumah
Ilustrasi rumah (Foto: Ezequiel Demaestri via Freepik)
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) semakin mendominasi mata uang garuda. Bahkan dolar Amerika Serikat (AS) sudah menembus level Rp 17.800 terhadap rupiah.

Pelemahan rupiah ini tentu berpengaruh terhadap dunia usaha, termasuk sektor properti. Seperti apa pengaruhnya?

Menurut CEO Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, pasar properti masih akan melambat hingga akhir tahun. Pelemahan mata uang rupiah yang terus berlanjut dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Hal ini menimbulkan beberapa indikasi masyarakat memilih untuk menunda beli rumah baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bila daya beli tidak mencukupi mungkin membeli rumah saat ini dapat menjadi beban. Pasar rumah akan selalu ada, namun animo masyarakat sedikit melambat," ucap Ali kepada detikProperti, Jumat (29/5/2026).

Di sisi lain, bagi yang punya daya beli lebih kuat dapat memanfaatkan peluang untuk membeli rumah. Apalagi dengan memanfaatkan kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN). Sebab, harga rumah relatif belum mengalami kenaikan dalam jangka pendek ini.

ADVERTISEMENT

Lalu, bagi yang sudah membeli rumah, kondisi ekonomi ini semestinya tidak membuat nasabah menunggak bayar cicilan kredit pemilikan rumah (KPR). Namun, sebagian orang berpotensi tidak mampu membayar akibat kenaikan bunga, mengingat pemerintah berpotensi menaikkan BI-Rate.

"Non-performing loan (NPL) bank mulai meningkat karena daya beli masyarakat tertekan. Sebagian tidak bisa mencicil akibat juga floating rate yang sudah berlangsung sejak tahun lalu," ucapnya.

Selain itu, melemahnya rupiah dalam jangka panjang dapat meningkatkan biaya konstruksi. Bahan konstruksi semakin mahal. Bangunan berbasis besi dan baja sudah naik 23 persen. Biaya konstruksi baru pun sudah naik 10-13 persen sehingga membuat para pengembang menahan pembangunan baru.

"Harga rumah masih tertahan meskipun harga konstruksi naik. Pengembang fokus pada rumah ready stock daripada membangun baru. Para pengembang hati-hati menaikkan harga rumah terkait daya beli yang masih belum pulih," jelasnya.

Terpisah, Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto menilai kurs mata uang dolar AS yan semakin kuat memang memberikan tekanan pada sektor properti. Aspek yang paling terdampak adalah dari sisi pembangunan dan daya beli masyarakat.

Ketika rupiah melemah, terutama kalau melemahnya cukup dalam,biasanya akan muncul kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga. Apalagi suku bunga sudah sempat disesuaikan oleh Bank Indonesia.

Kemudian, muncul kekhawatiran tentang kemampuan masyarakat dalam mengambil kredit jangka panjang seperti KPR.Pelemahan rupiah biasanya akan meningkatkan kehati-hatian baik dari sisi konsumen maupun pelaku usaha industri properti.

"Kemungkinan respon masyarakat itu mungkin yang saya perkirakan ini mereka bisa saja menunda pembelian rumah atau memilih rumah dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.

Masyarakat juga bisa memilih memperbesar uang muka kalau punya dana lebih. Hal ini supaya cicilannya menjadi lebih ringan.Lalu, mereka bisa saja menunggu suku bunga lebih stabil.

Menurutnya, ada potensi terjadi perlambatan keputusan dalam membeli properti.Dengan begitu, saat ini merupakan fase 'wait and see', tapi bukan sampai menjadi krisis properti.

Dari sisi pengembang, terjadi kenaikan biaya konstruksi, terutama bagi proyek apartemen dan rumah mewah. Sebab, produk tersebut banyak menggunakan produk impor.

Pengembang akan tetap melanjutkan pembangunan, tetapi lebih adaptif dan selektif.Strategi yang biasanya pengembang lakukan adalah fokus pada proyek-proyek yang demand-nya kuat.

Kemudian mereka juga tidak terlalu agresif melakukan ekspansi untuk proyek baru. Pengembang akan lebih menjaga cash flow, memberikan promo, dan skema pembayaran yang lebih fleksibel.

(das/das)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita BeritaKlik Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads