Colomadu adalah salah satu kecamatan di Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi ini menjadi terkenal beberapa tahun belakangan ini setelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo membangun rumah pensiunnya di sana.
Ada temuan menarik terkait daerah ini dalam setahun terakhir. Berdasarkan data dari Rumah123, daerah Colomadu menjadi kawasan dengan harga tanah tertinggi se-Karanganyar.
Pada Oktober 2025, median harga tanah di sana sekitar Rp 3,58 juta per meter persegi. Berdasarkan data akhir Mei 2026, median harga tanahnya telah menyentuh Rp 3,83 juta per meter persegi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angka ini menempatkan Colomadu sebagai kawasan dengan harga tanah tertinggi di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar," kata Marisa Jaya selaku Head of Research Rumah123 kepada BeritaKlik pada Sabtu (6/6/2026).
Secara tahunan, harga tanah di Colomadu tercatat mengalami pertumbuhan yang cenderung stabil namun positif, yaitu sebesar 0,7 persen jika dibandingkan dengan Mei 2025.
Sementara itu, kecamatan lain, seperti Tawangmangu, Karanganyar Kota, dan Tasikmadu harganya masih berada di segmen menengah. Namun, daerah tersebut juga mengalami kenaikan harga meski tidak setinggi Colomadu. Tawangmangu naik 6,5 persen (YoY), Karanganyar Kota naik 10,7 persen (YoY), Kerjo naik 11,9 persen (YoY), dan Mojogedang naik 14,1 persen (YoY).
Menurut Marisa, penyebab nilai tanah di Colomadu bisa meningkat karena beberapa hal. Salah satunya adalah dipengaruhi oleh lokasi. Kawasannya berada di koridor dekat jalan utama, akses gerbang tol, serta area yang paling menempel dengan Bandara Adi Soemarmo sehingga mencatatkan harga yang cenderung lebih premium.
Namun, nilainya ada juga yang lebih terjangkau. Letaknya biasanya berada agak masuk ke dalam gang atau jauh dari koridor utama.
"Perbedaan harga yang mencolok ini mencerminkan kesenjangan aksesibilitas serta intensitas aktivitas ekonomi yang nyata antar kawasan," jelasnya.
Selain lokasi, Colomadu juga telah memiliki infrastruktur yang terkoneksi dengan Tol Trans-Jawa Ruas Solo-Ngawi yang merupakan akses distribusi dari sisi barat Karanganyar dan Tol Solo-Yogyakarta yang menghubungkan Colomadu ke Yogyakarta.
"Colomadu pun sukses bertransformasi menjadi hub atau titik simpul strategis antara Solo, Yogyakarta, dan Semarang (Joglosemar)," ungkap Marisa.
Ada pula Bandara Adi Soemarmo yang menjadi motor penggerak utama bagi aktivitas logistik, industri perhotelan, dan mobilitas bisnis.
Sebelumnya, harga tanah di Colomadu juga ramai dibicarakan setelah Ketua Realestat Indonesia (REI) Komisariat Surakarta, Oma Nuryanto, mengatakan nilai tanah di sana telah tembus hingga Rp 9 juta per meter persegi.
"Memang karena Pak Jokowi juga Presiden atau mantan Presiden juga akan mendongkrak harga tanah di sekitaran Colomadu," kata Oma kepada BeritaKlik pada Selasa (2/6/2026).
Semula diperkirakan nilai tanah di sana Rp 5 juta per meter persegi. Dalam dua tahun nilainya meningkat hingga Rp 7-9 juta per meter persegi. Dengan ini, Colomadu termasuk salah satu kecamatan dengan nilai tanah tertinggi di Karanganyar.
"Kurang lebih ya karena tergantung luas tanah juga. Yang sekarang ya range (sekitar) Rp 9 juta sampai Rp 7 sampai Rp 8 juta. Tergantung luas tanahnya juga. (Semakin luas?) Semakin murah karena luasan 500 meter persegi sama 2.000 meter persegi otomatis lebih mahal yang kecil," jelasnya.
Selain karena rumah pensiun Jokowi, penyebab harga tanah di Colomadu naik adalah Jalan Adipati yang sudah terhubung ke jalan tol dan Bandara Internasional Adi Soemarmo (SOC).
(aqi/abr)










































