Seorang pria pemilik bengkel las mendadak viral di awal 2000-an. Sebab, ia seorang diri menghancurkan sebuah pabrik beton dan seisi kota dengan tank 'DIY' karena kesal tanahnya diserobot.
Pria tersebut bernama Marvin Heemeyer, seorang pemilik bengkel las kecil di Granby, sebuah kota kecil di Colorado, Amerika Serikat. Kehidupan Heemeyer yang semula tenang mulai terusik karena sebuah perusahaan beton mendirikan pabrik tepat di sebelah bengkelnya.
Dilansir dari situs Grunge, sebuah perusahaan beton milik Keluarga Docheff mendirikan pabrik baru di Granby pada awal 2000-an. Pabrik ini berdiri tepat di samping bengkel las milik Heemeyer yang sudah lebih dulu ada sejak 1990-an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya Heemeyer nggak masalah dengan adanya pabrik beton. Namun ia mulai terusik karena perusahaan itu menyerobot sebagian lahan miliknya, termasuk akses masuk ke dalam bengkel las.
Pihak pabrik beton mengklaim jika lahan tersebut masuk ke dalam wilayah miliknya dan tercatat secara sah. Di sisi lain, Heemeyer mengklaim lahan yang dicaplok oleh pabrik beton itu telah melanggar aturan zonasi dan merugikan bisnisnya.
Permasalahan ini berbuntut panjang yang membuat akses keluar-masuk bengkel ditutup sewenang-wenang oleh pabrik beton. Situasi ini sangat merugikan Heemeyer karena kehilangan banyak pelanggan.
Tak tinggal diam, Heemeyer mengadu ke polisi dan wali kota untuk menggugat pabrik beton. Bukannya mendapat jalan keluar yang adil, ternyata polisi, wali kota, dan pabrik beton sudah kongkalikong supaya gugatan Heemeyer tidak digubris.
Pengadilan justru menuntut balik Heemeyer karena bengkel las miliknya tidak punya saluran septic tank. Usut punya usut, investigasi yang dilakukan oleh media lokal mengungkap kalau saluran septic tank itu telah ditutup oleh pemilik pabrik beton.
Sempat melakukan banding, tapi keputusan pengadilan tetap menjatuhkan denda kepada Heemeyer pada 2003. Ia pun harus membayar denda yang nilainya cukup fantastis sampai harus menjual beberapa aset miliknya.
Kondisi keuangan yang semakin menipis membuat Heemeyer terpaksa menjual bengkel las miliknya. Sempat dianggap menyerah dan kalah, tapi justru menjadi titik balik perlawanan Heemeyer terhadap ketidakadilan.
Membuat Tank DIY Demi Hancurkan Pabrik Beton-Gedung Pemerintah
Bulldoser berjuluk 'Killdozer' yang dibuat oleh Marvin Heemeyer untuk meratakan kota. Foto: Dok. CBS News |
Heemeyer menyewa sebuah gudang kecil di pinggiran kota Granby untuk memulai hidup baru. Dari seluruh aset miliknya, hanya tersisa satu yang masih tersimpan, yakni sebuah buldoser.
Alat berat itu justru menjadi senjata bagi Heemeyer untuk melakukan balas dendam. Ia membuat tank secara do it yourself (DIY) supaya bisa menghancurkan bangunan milik pemerintah dan pengusaha pabrik beton.
Dikutip dari All That's Interesting, buldoser itu diubah menjadi 'tank' yang dilengkapi pelat baja tebal sebagai pelindung. Lalu dibuat lapisan pelindung tambahan dari beton setebal 30 cm agar tidak tembus peluru.
Tank DIY yang dibangun selama 1,5 tahun itu dilengkapi kamera CCTV yang dilapisi antipeluru supaya Heemeyer bisa melihat kondisi jalan. Ia juga memasang senapan kaliber semi otomatis untuk menghancurkan bangunan.
Tank sudah jadi, eksekusi pun dilakukan pada 4 Juni 2004. Heemeyer mengunci dirinya di dalam kokpit buldoser dan mengendarai alat berat itu ke tengah kota. Tujuannya cuma satu yaitu ingin balas dendam terhadap pemerintah yang tidak adil terhadap dirinya.
Buldoser 'Killdozer' yang dibuat oleh Marvin Heemeyer untuk menghancurkan bangunan kota. Foto: Dok. Ski-Hi News |
Buldoser yang mendapat julukan 'Killdozer' oleh media lokal mulai bergerak. Alat berat ini mencapai target pertama, pabrik beton milik Docheff untuk dihancurkan lebih dulu. Lalu buldoser bergerak ke tengah kota untuk menghancurkan rumah mantan wali kota, kantor surat kabar yang menjelekkan namanya, kantor polisi, dan balai kota.
Polisi hingga tim taktis SWAT berusaha melumpuhkan killdozer milik Heemeyer. Namun usaha mereka sia-sia karena tank DIY itu benar-benar anti peluru sehingga tidak bisa tembus.
Namun aksi balas dendam Heemeyer terhenti akibat kesalahan dirinya sendiri. Kala itu ia berusaha menghancurkan sebuah toko perkakas, tapi ternyata ada ruang bawah tanah yang tidak bisa menahan bobot berat buldoser.
Tank DIY milik Heemeyer kemudian jeblos ke dalam basement. Sempat berusaha untuk keluar, tapi ternyata radiator buldoser rusak dan tidak bisa dikendarai lagi. Akhirnya, Heemeyer memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke kepala.
Aksi nekat Heemeyer telah menghancurkan sedikitnya 13 bangunan di kota Granby dan menyebabkan kerugian sekitar US$ 7 juta atau Rp 124 miliar jika mengikuti kurs saat ini (Rp 17.810).
Menariknya, Heemeyer sama sekali tidak berniat membunuh orang-orang, ia hanya ingin menghancurkan bangunan-bangunan penting di kota itu, termasuk pabrik beton yang telah mengusik bisnis bengkel las miliknya.
Setelah kejadian itu, kota Granby mulai berbenah dan telah dibangun ulang. Walau jejak kerusakannya telah hilang, tapi aksi Heemeyer tidak akan pernah dilupakan karena ada seorang tukang las yang berani melawan ketidakadilan, meski dengan cara yang sangat berbahaya.
(ilf/abr)













































