Kolaborasi antara kalangan akademisi dan pelaku industri dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pembangunan rumah subsidi di Indonesia. Sinergi tersebut diharapkan dapat menghasilkan berbagai kajian dan rekomendasi yang mendukung pengembangan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB-UI), Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., mengatakan kerja sama antara perguruan tinggi dan pengembang dapat memperkuat keterkaitan antara kajian akademik dengan praktik pembangunan di lapangan.
Menurutnya, banyak aspek yang dapat diteliti dalam sektor perumahan, mulai dari penentuan lokasi hunian, pengembangan infrastruktur kawasan, penggunaan bahan bangunan ramah lingkungan, hingga tata ruang yang berkaitan dengan mitigasi bencana dan struktur bangunan tahan gempa. Selain itu, survei kepuasan masyarakat terhadap perumahan juga dapat menjadi bahan kajian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerjasama ini bisa lebih luas lagi, karena kami memiliki lembaga kajian yang komprehensif tidak hanya tentang perumahan dan permukiman perkotaan (urban studies) tetapi juga yang berkaitan dengan aspek ketahanan dan lain-lain," kata Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB-UI), Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T.
Ia menambahkan, hasil penelitian yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat menjadi rekomendasi dan model pembangunan yang mendukung keberlanjutan program 3 juta rumah, terutama dalam peningkatan kualitas bangunan dan lingkungan perumahan bagi masyarakat.
Sementara itu, Direktur Utama PT Infiniti Triniti Jaya (Infiniti Land), Samuel S. Huang, mengatakan kolaborasi antara akademisi dan praktisi penting untuk menghasilkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai pembangunan rumah yang layak huni, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Kerja sama ini kami anggap baik sekali, karena akademisi dan praktisi bersinergi untuk mendapatkan sudut pandang yang valid tentang bagaimana membangun rumah yang layak huni terutama rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)," kata Direktur Utama PT Infiniti Triniti Jaya (Infiniti Land), Samuel S. Huang dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Menurut Samuel, hasil penelitian yang dihasilkan kalangan akademisi diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi pengembang perumahan subsidi dalam menghadirkan hunian yang lebih layak dan berkelanjutan. Selain itu, kajian tersebut juga dapat mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi backlog perumahan nasional yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencapai sekitar 9,9 juta unit.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan survei, observasi, serta pengumpulan data secara langsung di proyek-proyek perumahan yang sedang dikembangkan. Langkah ini dinilai dapat memperkuat relevansi hasil penelitian dengan kebutuhan di lapangan.
Di tengah kebutuhan hunian yang masih tinggi, sinergi antara dunia akademik dan sektor properti dinilai menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendorong peningkatan kualitas rumah subsidi, tidak hanya dari sisi keterjangkauan harga, tetapi juga kualitas bangunan, lingkungan, dan aspek keberlanjutan.
(zlf/zlf)











































