Kondisi geopolitik saat ini berdampak hampir ke seluruh sektor ekonomi, termasuk properti. Sudah beberapa bulan belakangan ini, biaya konstruksi dan bangunan meningkat drastis.
Kondisi ini ternyata tidak langsung membuat harga rumah tapak serentak naik. Berdasarkan data dari Leads Property yang bertajuk Jakarta Property Market Update Q2 2026, harga rumah di Jabodetabek relatif stabil.
"Harga jual relatif stabil karena para pengembang menjaga tingkat harga agar terserap pasar," kata Martin Hutapea selaku Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia dalam keterangan tertulis, seperti dikutip BeritaKlik pada Jumat (19/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi permintaan, sampai kuartal II tahun 2026, di sekitar Jakarta dan daerah penunjang, jumlahnya masih di bawah pasokan, yakni 2.585 unit. Permintaan terbesar berada di kawasan Tangerang dari segmen menengah sekitar Rp 500 juta sampai Rp 2 miliar. Sementara, pasokan rumah sampai kuartal II mencapai 201.646 unit.
"Pasokan rumah tapak akan terus bertambah terutama di daerah suburban Jakarta," ujarnya.
Di sisi lain, tingkat penjualan rumah tapak di Jakarta dan sekitarnya mengalami pertumbuhan sekitar 97 persen di kuartal ini, meskipun BI Rate tengah naik menjadi 5,75 persen dan ada isu penurunan daya beli. Hal ini berkat jumlah pasokan dan permintaan masih seimbang, tidak terjadi kelangkaan.
Namun, kenaikan BI rate dan ketidakpastian ekonomi memang membuat pengembang memilih menunda meluncurkan proyek perumahan baru, Mereka perlu melakukan banyak penyesuaian terutama soal pembiayaan. Ditambah pinjaman bank untuk pembangunan rumah menjadi lebih sulit dengan bunga yang tinggi.
Martin juga melaporkan pengembangan berskala township ke depannya akan semakin terbatas. Township adalah pengembangan perumahan berbentuk kota mandiri. Saat ini pengembang di kawasan Jabodetabek lebih memilih mengembangkan hunian berkonsep townhouse dan cluster yang ukurannya lebih kecil.
(aqi/das)










































