Jakarta - Korea Utara hampir memiliki hotel tertinggi di dunia. Sayangnya, bangunan ini tidak pernah selesai alias mangkrak, begini penampakannya.
Foto: Ambisi Korut Punya Hotel Tertinggi di Dunia Berujung Mangkrak 3 Dekade
Hotel ini berada di Ibu Kota Korea Utara, Pyongyang, dengan ketinggian 330 meter, lebih tinggi sedikit dari Menara Eiffeil di Paris. Jika dibandingkan Burj Khalifah yang mencapai 828 meter memang tidak apa-apanya. Namun, proyek hotel ini sudah dimulai sejak 1987, lebih tua daripada Burj Khalifah, jadi pantas disebut hampir menjadi bangunan hotel tertinggi di dunia. Foto: Vincent Yu via Business Insider
Nama hotel ini adalah Ryugyong, tetapi setelah proyeknya mangkrak, banyak orang yang menyebutkan sebagai Hotel Malapetaka. Padahal awal proyek ini dijalankan karena Korut memiliki ambisi ingin membangun hotel untuk menghormati mantan pemimpin Korea Utara, Kim Il Sung. Foto: KTG North Korea Travel
Bangunannya berbentuk piramida, semakin ke atas semakin mengerucut. Total ada 105 lantai di dalamnya dan akan ada 3.000 kamar dengan restoran berputar di bagian atas. Kondisi terbaru bangunan hotel ini diketahui karena tidak ada foto terbaru. Foto yang tersebar di internet adalah foto-foto yang diambil periode 2012-2013. Foto: Greg Baker via Business Insider
Hotel tersebut berhenti dibangun pada 1992 setelah runtuhnya sekutu dan pendukung Uni Soviet. Pembangunannya sempat dilanjutkan setelah 16 tahun, tepatnya pada 2008 setelah perusahaan Mesir bernama Orascom menyatakan minat pada proyek itu. Perusahaan ini sempat menambahkan eksterior kaca pada fasad bangunan. Namun, akhirnya mangkrak lagi hingga hari ini. Foto: Eric Lafforgue/Art In All Of Us/Corbis via Getty Images
Faktor utama yang membuat proyek ini tidak tersentuh karena kekurangan dana. Korea Utara memang tidak pernah mengungkap biaya pembangunannya, tetapi Elle Décor menaksir biayanya mencapai lebih dari US$ 750 juta atau setara dengan Rp 13 triliun (kurs Rp 17.853). Sementara itu, jika ingin melanjutkan pembangunannya, diperkirakan membutuhkan US$ 2 miliar atau setara Rp 35 triliun lagi. Biaya ini setara 7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Utara. Foto: Eric Lafforgue/Art In All Of Us/Corbis via Getty Images











































