LKP3A Ungkap Kelalaian Bidan Marfiani di Kasus Ibu-Bayi Meninggal di Selayar

LKP3A Ungkap Kelalaian Bidan Marfiani di Kasus Ibu-Bayi Meninggal di Selayar

Nurhidayat Said - detikSulsel
Selasa, 03 Feb 2026 09:20 WIB
Ilustrasi Persalinan
Foto: Getty Images/iStockphoto
Selayar -

Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LKP3A) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kepulauan Selayar menyesalkan kasus kematian ibu dan bayi saat ditangani oleh bidan Marfiani di Pulau Rajuni. Dia menilai Marfiani melakukan kelalaian karena menangani persalinan di rumah pribadi.

"Prihatin mengetahui seorang ibu dan bayinya kehilangan nyawa akibat kelalaian petugas kesehatan. Lebih-lebih melayani pasien di rumahnya," ujar Ketua LKP3A Fatayat NU Selayar Andi Nastuti kepada detikSulsel, Senin (2/2/2026).

Nastuti menyebut tindakan bidan tersebut telah melanggar prosedur pelayanan kesehatan yang berlaku. Padahal, pemerintah telah menyediakan fasilitas puskesmas pembantu (pustu) di wilayah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa yang dilakukan bidan tersebut dengan melayani di rumahnya sudah menyalahi prosedur kecuali rumahnya memiliki tempat praktik dan berizin," katanya.

Menurutnya, Pustu seharusnya menjadi tempat utama untuk mendekatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak di desa. Namun, penggunaan rumah pribadi sebagai tempat bersalin justru berujung pada hilangnya dua nyawa sekaligus.

ADVERTISEMENT

"Hal ini harus menjadi perhatian dinas terkait dan pemerintah sehingga ke depannya tidak terulang lagi. Sangat disayangkan sampai kehilangan dua nyawa akibat kelalaian," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang ibu hamil bernama Jumasiah atau Masya meninggal dunia bersama bayinya saat melahirkan di Pulau Rajuni, Kepulauan Selayar. Pihak keluarga menyoroti kinerja bidan setempat, Marfiani karena sempat menolak merujuk korban ke rumah sakit.

Kakak kandung Masya, Hasan (43) mengatakan korban meninggal dunia pada akhir Desember 2025 lalu. Menurut dia, korban meninggal saat ditangani di rumah pribadi bidan Marfiani.

"Jumasiah atau Masya meninggal sama bayinya waktu melahirkan," ujar Hasan kepada detikSulsel, Minggu (1/2).

Hasan mengatakan Masya selama ini berdomisili di Pulau Tarupa. Saat akan melahirkan, korban dibawa ke Pulau Rajuni yang memiliki fasilitas pustu.

"Yang sangat mengganjal pikiran saya, kenapa pasien itu ditangani di rumah pribadi, kenapa tidak di Pustu. Apa fungsinya Pustu itu sebenarnya," ketus Hasan.




(hmw/hmw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads