Ragam Sorotan MBG Ramadan di Sulawesi: Siswa Batal Puasa-Ada Obat Cacing

Ragam Sorotan MBG Ramadan di Sulawesi: Siswa Batal Puasa-Ada Obat Cacing

Tim detikSulsel - detikSulsel
Rabu, 25 Feb 2026 07:45 WIB
Penampakan menu MBG di Bone yang dibagikan saat Ramadan.
Foto: Penampakan menu MBG di Bone yang dibagikan saat Ramadan. (dok. Istimewa)
Makassar -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat Ramadan menuai beragam sorotan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tengah (Sulteng), hingga Sulawesi Barat (Sulbar). Penyalurannya saat pagi hari dikritik karena dinilai membuat siswa batal berpuasa hingga ada orang tua keheranan menemukan menu MBG berisi obat cacing.

Diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) mengatur distribusi MBG saat Ramadan dimulai pada Senin (23/2/2026). Hal itu diatur dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelayanan MBG pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447 H/2026 M dan Libur Imlek 2026.

Dalam surat edaran itu ditegaskan menu MBG dilarang memakai produk pabrikan ultra processed food (UPF). Menu yang disajikan tidak dianjurkan dari makanan yang cepat basi, bercita rasa pedas, maupun yang berpotensi menimbulkan insiden keamanan pangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rekomendasi menu untuk makanan kemasan meliputi telur asin, abon, dendeng kering, buah, atau makanan khas lokal lainnya, serta kurma (opsional) dengan tetap memperhatikan keamanan pangan, mutu makanan, serta standar gizi menurut kelompok usia penerima manfaat," kata Kepala BGN, Dadan Hindayana dalam keterangannya.

Namun sejak program MBG kembali berjalan, menu yang disajikan mendapat kritikan dari berbagai orang tua siswa. Berikut ragam sorotan terkait program MBG saat Ramadan di berbagai wilayah di Pulau Sulawesi:

ADVERTISEMENT

Siswa Batal Puasa gegara MBG di Pasangkayu

Di Kabupaten Pasangkayu, Sulbar, sejumlah siswa TK dan SD dilaporkan batal berpuasa gegara MBG yang disalurkan pada pagi hari. Para siswa diduga tergoda dengan menu ready to eat atau makanan siap saji dalam paket MBG.

"Saya justru menyoroti menunya yang ready to eat dibagikan pagi-pagi, jadi sangat menggoda anak-anak untuk batalkan puasa meskipun tidak ada niat sebelumnya, tapi ada godaan atau pemicunya," ungkap anggota DPRD Pasangkayu, Robin Chandra Hidayat kepada wartawan, Selasa (24/2).

Anak Robin yang berusia 6 tahun dan baru belajar puasa turut terdampak. Rekan anaknya yang lain di bangku TK membatalkan puasa setelah menerima MBG menu siap santap pada Senin (23/2) pagi.

"Ada juga warga menyampaikan anaknya baru masuk SD akhirnya batalkan puasa. Jadi makanan kering ini kan juga sangat menarik, full aroma dari roti, kemudian susu dan kacang goreng, ada juga telur," bebernya.

Ketua Fraksi NasDem DPRD Pasangkayu ini meminta agar perwakilan BGN di setiap kabupaten bisa mengevaluasi waktu distribusi MBG saat Ramadan. Dia mengaku tidak sedikit siswa TK dan SD yang baru belajar puasa.

"BGN harus evaluasi waktu, termasuk menunya yang ready to eat. Itu juga bentuk toleransi negara terhadap umat Islam, mari jaga kemuliaan bulan suci Ramadan," jelas Robin.

MBG Menu Roti-Kacang di Majene Disorot

Penyaluran MBG di Kabupaten Majene, Sulbar, juga disorot karena menyajikan menu kering dengan sajian minimalis yang standar gizinya dipertanyakan. Orang tua siswa menduga menu kering yang disajikan jauh dari harga yang ditetapkan per porsi.

Dalam video yang heboh di media sosial, orang tua mengkritisi menu MBG di SD wilayah Majene. Menu MBG itu dinilai sangat minimalis karena hanya berisi 1 jeruk, kacang telur, telur 1 butir dan roti.

"MBG hari kelima bulan Ramadan, 1 jeruk, 1 kacang Garuda, ini kacang seribu ini, telur 1 buah, roti, ini juga roti seribu. Diketahui ini (menu dari) SPPG di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat," kata warga Majene dalam video beredar.

Menanggapi hal itu, Wakil Koordinator Regional BGN Sulbar, Hasri mengklaim setiap menu yang dibagikan sesuai standar gizi. Dia mengaku menu MBG yang disajikan sesuai dengan anjuran ahli gizi.

"Menurut ahli gizi, itu kan sudah sesuai, tapi kalau kita lihat dari variasi menunya mungkin, ya banyak tanggapan, kan di sana sudah ada takaran kandungan karbohidrat, serat," ujar Hasri kepada wartawan, Selasa (24/2).

Dia turut menanggapi soal masih banyak warga yang salah kaprah soal biaya per porsi menu MBG. Menurut Hasri, ada klaster biaya untuk masing-masing peserta didik sesuai dengan tingkatannya.

"Beberapa belum teredukasi bahwa anggaran 1 porsi itu (dikiranya full makanan) Rp 15 ribu, itu sesungguhnya ada tingkatan. Kelas 3 SD ke bawah sampai TK itu (biaya menunya) Rp 8 ribu, sampai SMA Rp 10 ribu," imbuhnya.

Edukasi di Balik Siswa Batal Puasa karena MBG

BGN Sulbar menyinggung soal penyaluran MBG yang dianggap memicu siswa batal berpuasa di Pasangkayu. Hasri menuturkan, diperlukan peran orang tua dan guru dalam memberikan edukasi saat menerima MBG selama Ramadan.

"Kalau soal membatalkan puasa, itukan masing-masing orang tua menuntun, di sini perannya lagi gurunya, (memberikan) edukasi," terang Hasri.

Hasri menjelaskan, jadwal distribusi MBG saat Ramadan sudah sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Sementara menu MBG kering dipilih agar tetap tahan hingga bisa dikonsumsi para siswa saat berbuka.

"Kalau kita dari BGN, kenapa kita bagi saat sekolah kan untuk buka puasa, makanya makanan kering," ujarnya.

Di sisi lain, Hasrul memastikan BGN Sulbar terus melakukan pengecekan ke beberapa dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Hal ini untuk memastikan SPPG tidak memberikan menu MBG minimalis yang bisa memicu perdebatan publik.

"Tiap hari kami berikan penekanan ke setiap SPPG, melakukan hal yang sama lagi akan kena dampak dari BGN langsung. Maksudnya (penekanan soal jangan diberikan) yang menu-menu minimalis itu," tutur Hasri.

Menu MBG di Palu Dianggap Tak Sesuai Anggaran

Guru SD di Palu mengaku miris dengan menu MBG yang dinilai tidak sesuai anggaran.Foto: Guru SD di Palu mengaku miris dengan menu MBG yang dinilai tidak sesuai anggaran. (dok. Istimewa)

Guru SDN 6 Kayumalae di Palu, Sulteng, mengaku miris dengan menu MBG saat Ramadan dinilai tidak sesuai anggaran yang ditentukan Rp 15 ribu per hari. Kritikan itu disampaikan guru lewat rekaman video yang viral di media sosial.

Dari video beredar, seorang guru wanita awalnya menyampaikan bahwa sekolah menerima MBG untuk dua hari. Untuk hari pertama pada 23 Februari, menunya berupa 1 kotak susu, 2 pisang, 1 bungkus roti dan 4 butir telur puyuh.

"Yang bikin miris ini terus terang untuk besok (24 Februari), karena ini dikirim untuk menu MBG 2 hari, ini untuk besok hari Selasa, isinya roti, ada kurma 3 butir sama kacang 1 bungkus," tutur guru dalam video beredar.

"Kacang ini harganya Rp 1.500 kurma entah berapa ribu, terus rotinya ini harga Rp 1.000-an. Ini yang dimaksudkan MBG yang anggarannya Rp 15.000 per hari. Jadi kasihan ya," tambahnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur Sulteng Reny A Lamadjido menyadari keresahan guru SD tersebut. Dia pun telah berkoordinasi dan meninjau dapur MBG untuk melakukan pembinaan.

"Saya mengapresiasi ibu guru. Kepedulian beliau terhadap anak-anak patut kita hargai. Ini bentuk perhatian agar anak-anak kita benar-benar mendapatkan asupan yang sesuai standar gizi," ujar Reny dalam keterangannya, Selasa (24/2).

Reny menegaskan program MBG ini sangat baik. Pihaknya akan mengawal agar gizi dalam setiap paket MBG yang disajikan sesuai standar dan diberikan tepat waktu.

"Kalau ada yang tidak sesuai lagi, kabari saya. Ini bagian dari tugas kami melakukan pembinaan. Mari kita perbaiki bersama," tegas Reny.

Ortu Heran Ada MBG Isi Obat Cacing di Parepare

Penampakan menu MBG berisi obat cacing yang dibagikan untuk siswa SD di Parepare saat Ramadan.Foto: Penampakan menu MBG berisi obat cacing yang dibagikan untuk siswa SD di Parepare saat Ramadan. (dok. Istimewa)

Di Parepare, Sulsel, orang tua siswa justru dibuat heran dengan MBG yang dibagikan saat Ramadan berisi obat cacing. Temuan yang mengejutkan itu terjadi di salah satu SDN Kecamatan Bacukiki Barat pada Senin (23/2).

"Saya kaget pas anak pulang sekolah bawa paket MBG itu. Isinya ada satu butir telur rebus, terus ada susu kotak satu sama roti satu bungkus. Yang bikin saya bingung, kok ada kurma dua biji tapi di sebelahnya ada obat cacing merek Alben satu tablet," ungkap Ruslan kepada detikSulsel, Selasa (24/2).

Ruslan menganggap model penyajian dan cara distribusi obat MBG tidak tepat meskipun tujuannya untuk kesehatan. Dia khawatir anak-anak bisa salah mengkonsumsi obat tersebut tanpa pengawasan.

"Anak saya bilang ini makanan dari sekolah. Tapi saya lihat ada obatnya. Ini kan bahaya kalau anak langsung telan saja karena dikira bagian dari menu tambahan atau suplemen manis," tegasnya.

Ruslan menekankan, seharusnya ada sosialisasi dan edukasi lebih dulu jika dalam pembagian MBG diselipkan obat-obatan tertentu. Pasalnya kemunculan obat cacing membuat orang tua siswa was-was.

"Jangan digabung begitu saja dengan telur rebus dan roti. Kalau begini kan kita jadi was-was, prosedur medisnya bagaimana?" imbuh Ruslan.

Standar Gizi MBG Ramadan di Bone Dipertanyakan

Penampakan menu MBG yang disalurkan saat Ramadan di Bone.Foto: Penampakan menu MBG yang disalurkan saat Ramadan di Bone. (dok. Istimewa)

Standar gizi menu MBG yang dibagikan saat Ramadan di Kabupaten Bone, Sulsel, dipertanyakan. Orang tua siswa bimbang dengan menu kering MBG yang ditawarkan hanya berupa roti, keripik tempe, kurma dan buah.

"Isi MBG untuk anak sekolah roti, keripik tempe, kurma, salak yang diberikan untuk 3 hari. Apakah ini bergizi kalau roti isi cokelat," kata salah satu orang tua berinisial RN (28) di Lamuru kepada detikSulsel, Selasa (24/2).

Dia menyadari program MBG sebagai upaya memenuhi nutrisi anak sekolah. Namun dia menyoroti kandungan gizi makanan siap saji yang ditawarkan kepada siswa.

"Gizi dari keripik tempe ini apakah bagus untuk siswa. Kalau saya melihat ini dapur hanya asal membagikan saja makanan untuk siswa tanpa memperhatikan kualitas gizi," sebutnya.

Menanggapi hal tersebut, Korwil BGN Bone Andi Muhammad Akbar beralasan menu yang disajikan sudah sesuai standar dan anjuran ahli gizi. Makanan yang disajikan diklaim sudah dihitung berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG).

"Itu sudah diatur oleh ahli gizi dengan memenuhi AKG-nya, seperti memenuhi karbohidrat, protein, dan buah. Kebetulan juga di bulan Ramadan ini dibuat menu kering, dan kembali lagi membuat makanan basah setelah bulan Ramadan," jelas Akbar.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Nanik Ogah Jawab Saat Ditanya Motor Listrik MBG, Pilih Menghindar"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads