Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), lepas tangan terkait perbaikan jalan penghubung Enrekang-Sidrap di Desa Baringin yang sudah 80 tahun rusak parah. Warga pun secara swadaya dan gotong royong melakukan perbaikan dengan total dana terkumpul sekitar Rp 70 juta.
Warga bernama Muhammad Fadil Nugraha mengatakan panjang jalan rusak mencapai 6 km yang menghubungkan Jalan Lacobo, Kabupaten Enrekang dan Kalempang, Kabupaten Sidrap. Jalan ini merupakan penghubung Desa Baringin, Desa Labuku, Desa Tallang, Desa Banua dan Tanete Maiwa ke Sidrap.
"Itu jalan belum pernah dilakukan perbaikan sudah puluhan tahun, hanya jalan tanah yang belum pernah diaspal sejak kampung tersebut ada. Sehingga kami warga berinisiatif untuk mengerjakan secara swadaya," kata Fadil kepada detikSulsel, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga kemudian membuka donasi untuk melanjutkan perbaikan jalan tersebut yang selanjutnya dikerjakan secara gotong royong. Hasilnya terkumpul hingga Rp 70 juta yang kini digunakan warga membeli gorong-gorong untuk perbaikan jalan.
"Dana yang terkumpul Rp 70 juta yang merupakan murni swadaya masyarakat. Dana digunakan memperluas badan jalan serta pengadaan 60 unit gorong-gorong yang akan dipasang di 11 titik sepanjang jalan," bebernya.
Sampai saat ini, warga masih terus membuka donasi karena proses pengerjaan jalan masih panjang. Warga juga butuh dana untuk menyewa alat berat untuk memasang gorong-gorong.
"Sampai sekarang kami juga tetap open donasi untuk perbaikan jalan. Itu pasang gorong-gorong ternyata sulit dilakukan manual, harus sewa alat berat untuk pasang. Itu juga gorong-gorong masih kurang tapi sementara kami kerjakan dulu beberapa titik yang paling urgent dipasangi gorong-gorong," terangnya.
Jalan Enrekang-Sidrap 80 Tahun Rusak
Menurut Fadil, kondisi jalan tersebut sudah puluhan tahun tidak tersentuh perbaikan pemerintah. Dampak kondisi jalan yang rusak dan terjal juga kerap memicu kecelakaan.
"Bisa dibilang semenjak ada ini kampung atau 80 tahun lebih belum pernah disentuh perbaikan oleh pemerintah. Jalan tanah saja kita lewati kalau hujan setengah mati kita lewati itu jalan. Bahkan ibu hamil terpaksa melahirkan di mobil karena akses jalan yang rusak," jelasnya.
Fadil juga menyinggung persoalan jalan yang kerap menjadi janji politik saat musim pemilihan. Namun setelah terpilih, perbaikan tak kunjung terealisasi.
"Ini jalan setiap musim pemilihan bupati atau pemilihan dewan hanya dijadikan bahan politik. Tapi setelah terpilih tidak adami kabar. Makanya warga di sini kompak membuat postingan untuk menagih janjinya Pak Bupati Muhammad Yusuf Ritangnga," bebernya.
Dia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi Sulsel dapat segera mengambil alih penanganan jalan tersebut. Pasalnya, akses yang layak dinilai sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempermudah distribusi hasil pertanian warga.
"Kalau jalan ini bagus Lacobo-Kalempang, ekonomi bertumbuh, hasil pertanian warga lebih muda pendistribusiannya, kesehatan warga lebih cepat penanganannya," jelasnya.
Bupati Enrekang Donasi Rp 2 Juta
Warga Desa Baringin mengaku kecewa karena kurangnya perhatian Pemkab Enrekang untuk perbaikan jalan tersebut. Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga bahkan hanya menyumbang Rp 2 juta, jauh lebih sedikit dari swadaya masyarakat.
"Ada donasi masuk lagi Rp 32 juta dari swadaya warga dari sebelumnya terkumpul Rp 70 juta jadi total Rp 102 juta. Kalau untuk pemda secara resmi belum ada bantuan," ungkap Fadil kepada detikSulsel, Selasa (28/4).
Dia menyesalkan Pemkab Enrekang termasuk Bupati Enrekang yang kurang tanggap untuk membantu perbaikan jalan 6 km yang rusak. Bahkan secara pribadi hanya menyumbangkan Rp 2 juta.
"Kami kecewa dengan Pemkab sebab sempat disampaikan Pak Bupati akan koordinasi dengan Bupati Sidrap untuk pembangunan jalan. Tapi nyatanya tidak ada hasil koordinasi dan hanya ikut donasi Rp 2 juta. Jauh lebih banyak donasi warga," terangnya.
Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga mengakui memberikan donasi Rp 2 juta ke warga Desa Baringin. Yusuf berdalih donasi itu bukan untuk perbaikan jalan melainkan bantuan pribadi yang diperuntukkan konsumsi air minum warga.
"Dulu pernah ada orang Baringin yang kirimkan permohonan open donasi untuk gotong royong, jadi saya secara pribadi membantu sedikit (donasi Rp 2 juta) sekedar pembeli air minum. Itu ikhlas dan tidak ada tujuan apa apa selain ingin membantu," kata Yusuf kepada detikSulsel, Rabu (29/4).
Anggaran Perbaikan Jalan Terbatas
Terkait perbaikan jalan rusak di Desa Baringin, Yusuf mengaku anggaran pemkab sangat terbatas untuk pembangunan infrastruktur. Dia mengaku sudah menerima keluhan warga, namun saat ini pemkab belum bisa berbuat banyak.
"Untuk sementara anggaran daerah untuk pembangunan sangat kurang, kondisi keuangan daerah sangat susah. Jadi kami bukan tidak mau dengar atau tutup mata dengan keluhan masyarakat, tapi memang kondisi yang membuat kita tidak mampu berbuat apa-apa," bebernya.
Yusuf juga mengaku baru mengetahui kondisi jalan yang dikeluhkan masyarakat melalui pemberitaan media. Ia menyebut, hingga saat ini belum ada laporan resmi yang disampaikan langsung oleh masyarakat maupun pemerintah setempat melalui kepala desa atau camat.
"Informasi tentang jalan itu baru-baru saya tahu, itu juga lewat media. Tidak pernah ada masyarakat atau kepala desa atau camat datang menyampaikan secara resmi kondisi jalan itu," tambahnya.
Meski demikian, Yusuf memastikan pemerintah daerah tetap berupaya mencari solusi terbaik agar kebutuhan infrastruktur masyarakat dapat segera ditangani. Pihaknya tetap akan mengusulkan bantuan perbaikan infrastruktur kepada pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.
"Pemda wajib mengusulkan ke pemerintah pusat dan provinsi untuk bantuan perbaikan jalan. Tapi proses pengusulan juga butuh waktu dan belum pasti direspons atau disetujui, jadi saya takut menjanjikan apa-apa," katanya.
Simak Video "Video: Miris! Wanita di Poman Ditandu 9 Km ke Puskesmas gegara Jalan Rusak"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/hsr)










































