- Khutbah Idul Adha 2026 #1: Esensi Kurban Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #2: Qurban dan Pembentukan Umat yang Unggul Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #3: Momentum Tekankan Solidaritas dan Soliditas Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #4: Mencari Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Diri Manusia Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #5: Keteladanan Nabi Ibrahin sebagai Orangtua dan Nabi Ismail sebagai Anak dalam Membentuk Keluarga Sakinah Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #6: Memetik Pilar Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #7: Iman Yang Tunduk Dan Akal Yang Tercerahkan Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #8: Meningkatkan Ketakwaan, Menebar Kasih Sayang Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #9: Jalan Iman yang Menuntun Akal Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 #10: Ketika Pengorbanan Menjadi Jalan Surga Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 Bahasa Jawa #11: Idul Adha Paring Paring Piwucal Anak Supados Bekti Dateng Tiyang Sepah Khutbah Pertama Khutbah Kedua
- Khutbah Idul Adha 2026 Bahasa Jawa #12: Nyembelih Roso Kepemilikan Khutbah Pertama Khutbah Kedua
Khutbah Idul Adha 2026 mulai banyak dicari masyarakat Muslim, terutama mereka yang akan bertugas sebagai khatib pada pelaksanaan sholat Idul Adha 1447 H. Hal ini menjadi bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 berdasarkan keputusan sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag).
Khutbah menjadi salah satu sarana dakwah pada Hari Raya Idul Adha yang mengingatkan umat Islam tentang keteguhan iman, keikhlasan, serta pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Melalui khutbah, jemaah juga diajak untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain itu, khutbah sendiri memiliki kedudukan penting dalam rangkaian sholat Idul Adha karena berisi nasihat keagamaan dan refleksi tentang makna pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, banyak khatib dan pengurus masjid mulai menyiapkan materi khutbah yang relevan, menyentuh, dan mudah dipahami jemaah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artikel ini menghadirkan 12 kumpulan khutbah Idul Adha 2026 yang dapat dijadikan referensi siap pakai. Tersedia pilihan khutbah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan berbagai tema penuh makna, mulai dari keteladanan Nabi Ibrahim AS, hikmah berkurban, hingga pesan persatuan dan kepedulian sosial pada Hari Raya Idul Adha.
Khutbah Idul Adha 2026 #1: Esensi Kurban
Khutbah Pertama
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اللهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَ أَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَمَسَّكَ بِالدِّيْنِ وَسَلَكَ طَرِيقَ هِدَايَتِهِ.
أَمَّا بَعْدُ :
Hadirin sidang Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
Bertaqwalah kepada Allah tetapi jangan sambil lalu.
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
Allah tidak menerima ketika seorang
hamba bertaqwa sambil lalu.
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
Yang Allah terima hanyalah taqwa yang sesungguhnya. Dan diantara implementasi taqwa yang sesungguhnya dari seorang hamba adalah:
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
Berislamlah sampai mati dan matilah bersama Islam dan jangan sampai kematian datang merenggut, kita belum total sebagai seorang hamba Allah yang berserah diri kepada-Nya.
Sebab puncak tertinggi yang harus diraih oleh seorang hamba adalah taqwa. Allah berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ ...١٣
Artinya: 'Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.' (QS Al-Hujarat:13).
Ayyuhal muslimun rahimakumullah.
Semoga jemaah Idul Adha yang kita banggakan ini, tergolong orang yang dimampukan, menegakkan ibadah-ibadah di siang hari dan malam hari. Mudah-mudahan diantara kita ada yang sudah dipilih oleh Allah sebagai hamba yang diampuni dosanya yang telah lalu dan akan datang, dibebas dari fitnah kubur dan diselamatkan dari panasnya api neraka padahal umurnya masih panjang.
Mudah-mudahan pula kita semua dipilih oleh Allah sebagai hamba yang mendapatkan pahala menunaikan ibadah haji sebagaimana saudara kita yang sedang melaksanakannya di tanah suci Mekkah; padahal kaki kita masih menjejak tanah atau bumi Indonesia saat ini.
Hadirin sidang Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.
Orang yang tauhidnya lurus, orang yang sholatnya benar, orang yang mengamalkan sabar dalam hidupnya tanpa batas dan orang yang berkorban dalam hidupnya kepada Allah; maka orang seperti ini sebenarnya; dunia dan isinya sedang diwariskan kepadanya.
Jangan memandang sempit makna korban dalam Islam. Kata korban itu diambil dari bahasa Arab: yaitu dari kata 'qaruba-yaqrubu' yang bermakna dekat, kemudian mendapat penambahan tasydid sehingga jadilah 'qarraba-yuqarribu' yang bermakna 'mendekatkan. Oleh sebab itu, sesuatu perbuatan yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah disebut pengorbanan; dan apa saja yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah disebut korban; seperti hewan sembelihan, kekayaan, fikiran, tenaga, waktu, perasaan dan lain sebagainya.
Oleh karenanya, pengorbanan adalah nilai mulia yang mesti harus dimiliki dalam diri dan kehidupan kita, karena pengorbanan itulah yang akan menjadikan kita sebagai hamba yang berkedudukan tinggi dan mulia di hadapan Allah dan mulia pula di hadapan makhluk ciptaan-Nya.
Di pagi yang mulia ini, tentu kita teringat kepada kisah nabi Ibrahim AS, seorang hamba Allah yang berhasil mencapai puncak spiritual tinggi dan yang sangat hebat dalam melakukan pengorbanan demi pengorbanan, hingga sampailah ke pengorbanan yang sangat berat ; yaitu perintah menyembelih anaknya sendiri.
Bayangkan, 85 Tahun lamanya Nabi Ibrahim AS berdo'a, memohon kepada Allah siang dan malam, agar diberikan anak keturunan, akan tetapi ketika diberikan anak keturunan, Allah minta untuk diqurbankan kepada-Nya.
Bukan, ketika Allah pinta Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya, lalu saat nabi Ibrahim bersedia menerima perintah tersebut, Allah langsung ganti dengan seekor domba. Akan tetapi, mata pedang yang tajam itu sudah melesat ke leher nabi Ismail AS, namun saat itu Allah menunjukkan kuasa-Nya. Mata pedang yang tajam yang sebelumnya dibelahkan ke batu yang besar terbelah menjadi dua, tak mampu melukai leher nabi Ismail. Sampai akhirnya, Allah ganti nabi Ismail dengan seekor domba.
Hari ini, kita tidak diminta oleh Allah untuk mengorbankan istri kita, kita tidak diminta oleh Allah untuk mengorbankan anak keturunan kita. Allah hanya meminta kita untuk mengorbankan harta kekayaan, fikiran, tenaga, waktu, perasaan, jabatan yang kita pegang, untuk dikorbankan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena, hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
Artinya: 'Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Adz-Dzariyat:56).
Maka pengorbanan yang kita lakukan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. Dengan pengorbanan maka Allah akan mencintai dan melindungi kita, dengan pengorbanan maka pertolongan Allah akan datang kepada kita.
Ingatlah kisah nabi Ibrahim AS!. Nabi Ibrahim mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan perintah-Nya; yaitu dengan menjadi-kan anaknya sendiri, nabi Ismail AS, untuk disembelih sebagai korban.
Karena itu adalah perintah Allah, meskipun dengan berat hati, nabi Ibrahim melaksanakannya, walaupun pada akhirnya Allah ganti dengan seekor domba.
Hasilnya adalah:
Nabi Ibrahim dicintai oleh Allah,
Nabi Ismail dilindungi oleh Allah,
Keluarga nabi Ibrahim as dilindungi dari godaan setan yang terkutuk.
Hadirin sidang Idul Adha rahimakumullah!
Cobalah kita lihat, kita renungkan secara dalam keadaan kita pada hari ini, sangat memerlukan pengorbanan dari kita semua. Lihatlah berbagai masalah muncul di tengah-tengah kita; mulai dari rumah tangga kita, di masyarakat kita, sampai berbangsa dan bernegara. Bahkan negara-negara Islam difitnah dan dianiaya; anak-anak dibunuh, para wanita diperkosa, rumah-rumah mereka dibakar dan dihancurkan.
Keadaan ini mesti segera dirubah, dan yang akan merubahnya adalah Allah SWT dan diri kita itu sendiri.
Di dalam Al-Quran disebutkan, 'Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang akan merubah nasib diri mereka', Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ ...١١
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (QS. Ar-Ra'd: 11).
Untuk merobah keadaan yang kita jalani saat ini, jelas adalah suatu perjuangan yang berat, di sinilah pengorbanan kita diminta. Kita diminta untuk mengorbankan apa saja, harta kekayaan, fikiran, tenaga, waktu, perasaan bahkan jiwa sekalipun.
Di sinilah kedudukan yang tinggi di sisi Allah akan didapatkan, di sinilah kemenangan akan diperoleh, Allah berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ ٢٠
Artinya: "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (QS. At-Taubah: 20).
... اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Saat ini, kita semua sangat mendambakan tokoh pejuang yang sanggup berkorban, masyarakat yang mau berkorban. Lihatlah Rasulullah dan para sahabat terdahulu; mereka berhijrah dari Mekkah ke Madinah; dengan rela meninggalkan kampung halaman, harta benda dan keluarga, mereka berkorban apa saja, bahkan mempertaruhkan nyawa sekalipun.
Saat ini; masyarakat menunggu pengorbanan dari kita, siapapun kita. Masyarakat menunggu pengorbanan yang tulus dan ikhlas, pengorbanan yang benar dan jujur, pengorbanan yang murni dan sejati.
... اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Di pagi yang mulia ini, tidak semua orang bergembira sebagaimana yang kita rasakan. Cobalah lihat di ujung jalan sana, di ujung lorong sana; masih banyak orang-orang miskin, orang-orang tua yang tak mampu lagi bekerja dan anak-anak yang tidak ber-ayah dan ber-ibu, bersedih, menangis mengenang-kan nasib mereka diantara orang-orang yang sedang bergembira.
Ketika takbir mulai menggema, ketika sang anak yatim membukakan matanya, bukan baju baru yang ia lihat, bukan pula deretan kue dan makanan lezat yang tersedia di meja makan. Akan tetapi yang ia lihat adalah baju lusuh dengan raut wajah ibu dan ayahnya yang bertengger di dinding rumahnya. Ketika orang-orang di sekelilingnya bergembira ria, sang anak yatim bersedih menangis, kepada siapa ia mengadu, kepada siapa ia tundukkan wajahnya, ke tangan siapa ia kan ciumkan bibirnya untuk meluahkan kasih sayang dan bermaaf-maafan. Ayahnya sudah lama pergi, ibunya pun sudah lama meninggal, kakak abang
pun tak peduli karena kemiskinan. Ketika orang lain bergembira, ketika di sekelilingnya anak-anak lain didekap, dicium dan dimanja. Sang anak yatim jangankan baju baru, jangankan pelukan, dekapan dan ciuman dari orang terdekat. Makanan dan minuman pun tidak tersedia.
Mengapa kita tidak berkaca dari sejarah Rasulullah; ketika Rasulullah melihat seorang gadis kecil, berbaju lusuh yang menangis menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, bersedih melihat sekelompok anak kecil lainnya yang sedang bergembira ria bersama ayah dan ibunya di kota Madinah. Rasulullah kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya: "Wahai anakku, mengapa engkau menangis? Bukankah hari ini adalah hari raya?".
Dengan suara lirih, gadis itu bercerita kepada Rasulullah SAW. "Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan penuh kebahagiaan. Anak-anak bermain dengan riang gembira di depanku. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika dulu saat hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia." "Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah bahu-membahu dan kemudian ayahku meninggal di dalam peperangan tersebut. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?".
Hati Nabi langsung terenyuh, sambil membelai rambut gadis yatim itu, Nabi berkata; "Wahai Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu. Bagaimana pendapatmu tentang usul ku ini?".
Gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Dia menatap dengan penuh perasaan dan memastikan bahwa di hadapannya adalah Rasulullah SAW. Anak yatim itu kaget sekaligus bahagia sampai bibirnya tidak bisa berucap dan hanya menganggukkan kepala.
Rasulullah pun menggandeng tangan mungilnya ke rumah Aisyah. Sesampai di rumah; Rasulullah sendiri yang menyisirnya dan membersihkan badannya dengan penuh kasih sayang.
Dibantu Fatimah, gadis itu dipakaikan baju bagus dan diberi makanan serta uang saku. Dia lalu dipersilakan untuk bermain dengan anak-anak lainnya.
Teman-teman gadis itu heran, lalu bertanya, "Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?" Dengan senyum mengembang, gadis kecil itu menjawab, "Akhirnya aku memiliki seorang ayah dan ibu!'.
Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah!
Kita semua adalah anak yang dilahirkan dari seorang ibu. Mungkin ayah dan ibu kita sudah tiada atau mungkin ayah dan ibu kita jauh di ujung kampung sana. Atau jika mereka sedang bersamamu. Cobalah pegang tangan jemari mereka. Rasakan aliran kasih sayang yang tidak pernah terputus kepadamu. Bayangkan bagaimana ibumu melahirkanmu dengan bertaruh nyawa bersimbah darah. Atau bagaimana susahnya ayahmu membesarkanmu dengan bekerja di tanah lapang, sampai-sampai kulitnya terbakar oleh panasnya matahari. Berterima-kasihlah, bersyukurlah karena Allah masih memberikan kesempatan untuk berkorban dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di hari raya Idul Adha yang mulia ini, menyadarkan kita akan arti penting dari berkorban. Sebab masih banyak orang di sekeliling kita yang membutuhkan pengorbanan dari kita dan inilah peluang untuk mendekat-kan diri kepada Allah, sebagaimana kita ketahui bahwa pengorbanan adalah perbuatan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan pengorbanan yang diterima itu, hanyalah pengorbanan dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa.
Marilah masing-masing kita, menjadi contoh dalam memunculkan nilai pengorbanan, Kita mulai dari diri kita sendiri, kita mulai dari rumah tangga kita, kita tunjukkan di masyarakat kita, di tempat kita bekerja, dan dimanapun kita berada, sebagai apapun kedudukan kita.
Sesungguhnya semua itu akan kembali kebaikannya kepada kita; yaitu kita akan semakin dekat dengan Allah SWT.
... اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ .
Mudah-mudahan, melalui sempena Idul Adha ini, kita berjuang untuk menjadi pribadi yang berani berkurban dengan segenap harta kekayaan, fikiran, tenaga waktu, perasaan. Sebab, ketika ruh masih dikandung badan, rezeki berlimpah ruah, akal masih berputar sehat, mata masih terang memandang, tangan masih kuat menggenggam, maka tak ada alasan untuk tidak berqurban.
Sebab apabila masa kematian telah sampai, dimana diperlihatkan surga atau neraka di pelupuk mata. Maka tak akan ada yang bisa diulang kembali dan tak akan dapat dimajukan walau sedetik pun. Lihatlah bagaimana harapan hampa yang diteriakkan oleh orang-orang yang dahulunya ingkar di dunia".
رَبَّنَآ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ ١٢
Artinya: "Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin." (QS. As-Sajadah:12).
Tapi sayang, saat itu bukan lagi masa untuk memohonkan ampunan, bukan masa untuk menaruhkan harapan atau bertobat. Tapi masa itu adalah masa untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang telah dilakukan di dunia.
Apabila telah sampai masanya, saat itu tak ada yang mengiringi kita. Yang mengiringi hanya tiga yang Pertama, sanak family, keluarga, tetangga. Yang Kedua, Harta, dan yang Ketiga, Amal kebaikan. (Yarji'us naini wayabaka wahid) Yang dua akan pulang; keluarga akan pulang, harta akan pulang, yang menemani hanyalah amal kebaikan yang dibuat di dunia.
Keluarga, tetangga yang dulunya begitu dekat dengan kita, hanya akan mengantarkan kita menuju ke tempat peristirahatan terakhir, mereka angkat keranda mayat kita, mereka masukkan kita ke liang lahat, mereka jejak-jejak kita, lalu mereka pun pulang meninggalkan kita. Harta, yang dulunya kita bangga-banggakan, yang kita cari siang dan malam, juga ikut pulang meninggalkan kita. Hanya amal kebaikan yang akan menjadi teman setia di alam sana.
Jika pernah tangan digunakan untuk bergotong royong membangun masjid itulah yang akan menyelamatkan kita,
jika pernah tangan mengusap kepala anak yatim itulah yang akan menyelamatkan kita,
jika pernah malam terbangun di saat orang lain tertidur pulas, melawan rasa kantuk yang begitu berat, itulah yang akan menyelamatkan kita,
jika kita qurbankan harta kekayaan, fikiran, tenaga waktu, perasan dengan penuh ikhlas kepada Allah itulah yang akan menyelamatkan kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. قَالَ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. ثُمَّ اعْلَمُوا فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا }
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا وَعَنْ وَالِدِيْنَا وَعَنْ جَمِيع المُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ .
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Khutbah Idul Adha 2026 #2: Qurban dan Pembentukan Umat yang Unggul
Khutbah Pertama
الله أكبر (×9)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبرُ وللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ حَاكِمَ الْحُكَّامِ، جَاعِلِ النُّوْرِ وَالظَّلَامِ، وَجَعَلَ هَذَا الْيَوْمِ عِيْدًا لِلْإِسْلَامِ، وَحَرَّمَ عَلَيْنَا الصِّيَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلَّذِى أَمَرَناَ بِذَبِيْحَةِ الْقُرْباَنِ، اِتِّبَاعًا لِسَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ الْأَنَامِ وَمِصْبَاحُ الظَّلَامِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ وَأَطِيْعُواهُ وَكَبِّرُوْهُ تَكْبِيْرًا.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Sejak kemarin terdengar gema takbir, tahmid, dan tahlil menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha yang mubarak. Syukur Alhamdulillah, kita semua dapat berjumpa kembali dengan Hari Raya ini dalam keadaan sehat wal afiat. Langkah kaki kita menghadiri sholat ied ini merupakan bukti bahwa kita masih dikaruniai nikmat kesehatan dan keimanan, dua nikmat yang sangat besar sekali nilainya, tanpa bisa digantikan oleh selainnya. Semoga nikmat tersebut tetap kita peroleh sampai nyawa berpisah dari badan ini. Amin ya rabbal alamin.
Hari ini kita memasuki Hari Raya Idul Adha. Hari Raya ini dikatakan dengan Idul Adha karena pada hari raya ini dan tiga hari sesudahnya, atau disebut dengan Hari Tasyrik, kita semua diserukan untuk memotong hewan qurban yang merupakan bentuk ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT Dzat Yang Kuasanya tiada terbilang dan tiada terhingga. Allah SWT berfirman:
فصل لربك وانحر
"Sembahyanglah kamu kepada Rabb-mu dan berqurban-lah" (QS. Al-Kautsar: 2)
Menurut Mazhab Imam Syafi'i, memotong hewan qurban itu hukumnya sunnah muakkadah, artinya sunnah yang dikuatkan, meskipun ada imam madzhab yang mewajibkannya. Meskipun hukumnya sunnah muakkadah, namun bagi orang mampu yang tidak berqurban maka Rasulullah mengingatkan dengan keras:
مَنْ كَانَ لَهُ سِعَةٌ فَلَمْ يُضْحِ فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُوْدِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا
"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak melakukannya maka silakan mati dalam keadaan yahudi atau nasrani." Dalam riwayat lain:
مَنْ كَانَ لَهُ سِعَةٌ فَلَمْ يُضْحِ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak melakukannya maka janganlah mendekati tempat sholat kami."
Oleh karena itu, sudah pada tempatnya kita sebagai orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya untuk memenuhi panggilan berqurban tersebut.
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat Islam, selain sebagai bentuk kepatuhan dan kepasrahan kepada Allah serta sebagai upaya pendekatan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah), juga ada hikmah yang berdampak kemaslahatan bagi umat manusia. Di antara hikmah yang bisa kita petik adalah:
Meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihissalam dalam menerima cobaan dan ujian;
Menumbuhkan sifat kedermawanan, saling membantu (ta'awun), saling berkasih sayang (tarahum), dan terbinanya solidaritas sosial di kalangan umat Islam;
Menumbuhkan semangat berkorban di kalangan kaum muslimin pada khususnya.
Hikmah pertama, yakni meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihissalam dalam menerima cobaan dan ujian. Sebagaimana diceritakan dalam kitab suci Al-Qur'an bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam belum dikaruniai seorang anak sampai usianya lanjut sehingga beliau sangat ingin dikaruniai seorang anak dan senantiasa berdoa agar keinginan tersebut dikabulkan oleh Allah Ta'ala:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ
"Wahai Tuhanku berilah aku putra yang shalih" (QS as-Shaffat: 100)
Akhirnya Allah SWT menjawab dan mengabulkan doa beliau setelah sekian lama. Namun setelah beliau memperoleh seorang putra dan putranya itu berumur antara 9-11 tahun, Allah SWT memintanya kembali untuk dijadikan qurban sebagai persembahan. Tidak mudah bagi seseorang yang sudah sekian lama mendambakan seorang anak, tapi setelah anak itu lahir dan di usia yang sedang lucu-lucunya, diperintahkan untuk mengorbankannya. Secara manusiawi perintah tersebut sulit sekali untuk dipenuhi.
Tapi Nabi Ibrahim tidaklah demikian. Perintah tersebut diterimanya dengan penuh ketaatan dan kepasrahan. Sikap tersebut muncul karena keimanan yang total kepada Allah Ta'ala, bahwa semua perintah-Nya tidak lain adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Bahwa semua yang ada pada diri manusia tidak lain pada hakekatnya merupakan milik Allah. Apabila Allah memerintahkan untuk mengorbankannya, maka pada hakekatnya itu adalah mengembalikan sesuatu yang dititipkan ke umat manusia dikembalikan pada pemilik hakikinya.
Sebelum melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ibrahim merundingkan pada anaknya yaitu nabi Ismail. Sebuah contoh mulia bagaimana orang tua memusyawarahkan dengan anaknya terhadap sesuatu keputusan yang akan berakibat dan berdampak pada anak tersebut.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala anak itu sampai usia remaja, Ia berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS ash-Shaffat : 102)
Sungguh sangat mengagumkan seorang ayah yang sanggup menjalankan perintah mengorbankan anak satu-satunya yang sudah didambakan kelahirannya sekian lama. Lebih mengagumkan lagi adalah sikap anak tersebut yang penuh keyakinan dan kesabaran mendorong ayahnya untuk menjalankan perintah tersebut. Meskipun itu artinya mengorbankan nyawanya.
Ketika kepasrahan dan ketundukan yang luar biasa dari nabi Ibrahim dan nabi Ismail 'alaihissalam dalam menerima perintah tersebut, rupanya itu merupakan ujian dari Allah kepada mereka berdua. Maka tatkala mereka siap untuk melaksanakan perintah itu, Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS ash-Shaffat: 103-107)
Kepasrahan dan ketundukan nabi Ibrahim dan nabi Ismail 'alaihissalam dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT merupakan contoh terbaik yang patut menjadi teladan kita umat Islam. Saat ini banyak sekali umat Islam yang seakan tidak peduli dengan perintah Allah SWT di dalam ajaran agama.
Perintah Allah SWT dipilah dan dipilih untuk ditaati dan diimani. Mana perintah yang sesuai dengan kepentingan dan keinginannya, maka ia akan menjalankan perintah tersebut. Tapi jika sebaliknya, ia menganggap angin lalu saja perintah tersebut. Kepasrahan dan ketundukan total kepada Allah Dzat Yang Mahakuasa saat ini merupakan sesuatu yang sulit ditemukan di kalangan umat Islam.
Oleh karena itu, melalui momentum Idul Adha ini saya mengajak kita semua umat Islam untuk meneladani nabi Ibrahim dan nabi Ismail dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT, yaitu dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Karena semua perintah Allah apabila dilaksanakan secara benar pasti akan membawa kemanfaatan dan kemaslahatan pada orang yang menjalankan tersebut.
الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Pesan ibadah qurban yang kedua adalah menumbuhkan sikap ta'awun (saling membantu antar sesama umat manusia), khususnya di kalangan umat Islam. Penyembelihan hewan qurban jangan hanya dilihat semata-mata dari aspek penyembelihannya saja. Tapi juga harus dilihat bahwa penyembelihan itu merupakan simbol perilaku kedermawanan dan solidaritas sosial di antara umat manusia. Sesuatu yang menjadi salah satu pilar ajaran Nabi SAW.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَآدِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَى ]متفق عليه
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hubungan cinta kasih dan kasih sayang satu sama lain seperti satu jasad yang apabila ada salah satu bagiannya sakit maka seluruh tubuh itu akan merasakan sakit." (HR al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW telah mencontohkan pentingnya solidaritas tersebut, salah satunya melalui upaya mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Orang-orang Anshar bersedia memberikan sebagian bahkan setengah dari hartanya kepada kaum Muhajirin yang kebetulan ketika mereka pindah dari Makkah ke Madinah tidak sempat membawa apa-apa. Bahkan, kaum Anshar cenderung lebih mementingkan keperluan kaum Muhajirin daripada keperluan mereka sendiri. Sikap tersebut mendapat pujian dari Allah seperti disebut dalam Alquran surat al-Hasyr ayat 9:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)".
Ini merupakan gambaran umat Islam periode pertama (as-sabiqun al-awwalun) yang memiliki solidaritas dan kasih sayang yang amat tinggi. Sikap seperti ini sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Misalnya menyisihkan sebagian penghasilan untuk didonasikan kepada mereka yang membutuhkan, sesuai sabda Nabi SAW:
وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلُ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنَ لاَ زَادَ لَهُ ]رواه مسلم
"Barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal hidup maka hendaklah mendonasikan kepada orang yang tidak punya bekal hidup". (HR Muslim)
الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Pesan ibadah qurban yang ketiga adalah menumbuhkan semangat berkorban, khususnya di kalangan kaum muslimin. Tanpa adanya pengorbanan tidak mungkin dapat mencapai sesuatu yang diinginkan. Kemerdekaan negara Indonesia tercinta ini diperoleh tidak lain adalah merupakan hasil dari pengorbanan para pahlawan, yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita yang hidup menikmati kemerdekaan tersebut menjaga dan merawat dengan baik negara ini. Kita harus mau berkorban demi kemajuan negara ini. Tantangan dan ujian seberat apapun hendaknya tidak akan menggoyahkan semangat berkorban demi terjaganya negara tercinta ini. Di atas pundak kita umat Islam Indonesia, terpikul dua tanggung jawab sekaligus yaitu tanggung jawab keislaman (Mas-uliyah Islamiyah) dan tanggung jawab kebangsaan (Mas-uliyah Wathaniyah). Dua tanggungjawab yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya.
Dengan mengedepankan semangat pengorbanan, sebagaimana dipetik dari hikmah Idul Adha, insyaallah kita umat Islam dapat memikul tanggungjawab tersebut. Amin ya Rabbal alamin.
إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ المْنَاَّنِ، وَبِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُونَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ منِّيْ وَمِنْكُمْ تَلاَوَتَهُ إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ، (x7 ) لاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرْ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنْ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّهُمَّ انْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْفَاجِرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Oleh: KH Sholahudin Al Aiyub, Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal
Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia
Khutbah Idul Adha 2026 #3: Momentum Tekankan Solidaritas dan Soliditas
Khutbah Pertama
الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ x3
كَبِيْرًا, وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ, لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَاابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً ، وَأَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتَ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْناً وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلَتِهِ فَكَانَ ذَالِكَ مِنْ نِعْمَةِ اْلعُظْمىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ اْلعَتِيْقِ ذَاكِرًا أًسْمَآءَ رَبِّهِ اْلحُسْنىَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْباَعِهِ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الَّرحمن الرحيم. إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd..
Kaum muslimin jemaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Segala puji bagi Dzat yang Mahakuat. Di pagi hari nan cerah saat mentari mulai terik dan harapan yang membuncah, kebesaran Ilahi dikumandangkan di seluruh penjuru dunia.
Umat Islam sejagat berbondong-bondong menuju tempat-tempat suci untuk bersimpuh di hadapan-Nya dalam rangka Hari Raya Idul Adha nan bahagia.
Pada waktu yang bersamaan, kaum muslimin yang tengah menjalankan ibadah haji, kini tengah melontar Jumrah Aqabah setelah wukuf di Arafah sebagai simbol menundukkan ego dan melawan sifat-sifat syaithaniyah dan hayawaniyah yang ada dalam diri setiap manusia. Dengan spirit ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran-Nya, umat Islam di seluruh penjuru bumi menggemakan takbir dan tahmid yang menggetarkan kalbu mensyukuri hidayah yang telah diraihnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum muslimin jemaah sholat Idul Adha rahimakumullah
Idul Adha merupakan hari raya bersejarah untuk mengenang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas putranya, Ismail AS. Saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah melalui mimpinya untuk "menyembelih" anaknya yang sangat dicintai, dia menghadapi dua pilihan yaitu mengikuti dorongan perasaan dengan menyelamatkan Ismail, atau mentaati perintah Allah dengan totalitas ketundukan.
Di tengah kebimbangan itu, Ismail menyatakan dengan tegas atas pertanyaan ayahnya, bahwa ia siap dengan sepenuh hati untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kemudian, turunlah firman Allah SWT:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.
"Dan kami panggillah: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini sebagai ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS As-Shaffat: 104-107).
Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban, di setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Deskripsi historis ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT dan kerelaan untuk berkorban adalah esensi yang melekat dari ibadah Qurban. Nilai-nilai tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim dan ditanamkan kepada anak kesayangannya, Ismail as.
Sikap rela berkorban ini merupakan salah satu karakter keberimanan yang dimunculkan dari kedalaman spiritualitas demi sebuah tujuan tertinggi. Dalam konteks hubungan sosial, rela berkorban merupakan perwujudan sikap "altruisme", menjunjung nilai-nilai "mengutamakan orang lain" daripada diri sendiri. Yaitu, mengorbankan apa yang kita punya, bahkan yang kita cintai untuk kesejahteraan orang lain. Jika Nabi Ibrahim as. mengorbankan Ismail, sedangkan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dengan rela mengorbankan segala materi untuk membantu orang lain yang lebih memerlukan, walaupun mereka sendiri masih membutuhkannya. Allah berfirman:
وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"...Mereka (kaum Anshar) mengutamakan kepentingan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka, meski mereka sendiri masih memerlukannya..." (QS Al-Hasyr: 9).
Ayat ini menunjukkan keberhasilan Rasulullah SAW dalam menanamkan karakter kuat dan memupuk sikap solidaritas kemanusiaan di kalangan para sahabat. Atas alasan ini, mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kepentingan yang lebih besar. Untuk itu, hari raya Idul Adha seharusnya dijadikan momentum untuk penguatan karakter keimanan, memupuk rasa solidaritas yang mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.
Dalam satu studi tentang "Spending Money on Others", dalam ulasan Blanding, M (2023) Why giving to others makes us happy. Working Knowledge, Harvard Business School menyatakan bahwa para peneliti meminta partisipan untuk sekadar mengingat kembali saat mereka dermawan kepada orang lain dan membandingkan perasaan mereka saat mereka memberi kepada orang lain dan saat mengingat mereka menghabiskan uang untuk diri sendiri.
Para peneliti tersebut menemukan bahwa orang tidak mengekspresikan kebahagiaan saat mengingat menghabiskan uang untuk diri sendiri sebanyak dan sebaik saat mereka mengingat tindakan memberi kepada orang lain.
Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi sosial dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam Jurnal SCIENCE (2008) dengan judul tulisan yang mengejutkan: "Spending Money on Others Promotes Happiness" (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).
Temuan ilmiah tersebut menunjukkan, bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya. Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri. Logika terbalik yang jamak terjadi justru mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi demi mengejar kebahagiaan semu.
Momentum Idul Adha yang menekankan prinsip solidaritas dan soliditas publik jika benar-benar dijadikan landasan untuk membangun negeri dapat dimulai saat ini. Seberat apapun problem yang dihadapi oleh negara ini, dengan modal semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, niscaya berbagai masalah akan teratasi. Sebab, rakyat dan para pemimpinnya merasa "berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing". Langkah ini juga akan mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan mencintai harta (hubbud dunya) secara berlebihan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum muslimin jemaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Berdasarkan paparan di atas, ibadah qurban mempunyai dua nilai: kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail. Sikap ini penting untuk diteladani, terutama bagi generasi muda Indonesia.
Ismail adalah figur anak saleh, atau prototipe generasi muda yang baik. Ia berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya. Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya. Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya dan berkata:
يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
"...Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Shaffat: 102).
Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang "shadiqal wa'di", yaitu jujur dan menepati janji. Imam al-Thabari dalam kitab Jami'ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail. Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya. Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah.
Itulah hebatnya Ismail. Andai saja generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Kesalehan Ismail ini sudah sepatutnya menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda zaman sekarang. Apalagi, sejak 2012 lalu hingga 2035, Indonesia telah dan akan dibanjiri generasi muda usia produktif, atau yang biasa disebut bonus demografi.
Yaitu, periode jumlah tenaga kerja produktif jauh lebih banyak daripada tenaga non produktif. Puncak bonus demografi adalah antara tahun 2020-2035, di mana jumlah penduduk produktif (usia 15-64) akan jauh lebih besar dari pada usia non produktif (di bawah 15, dan di atas 64).
Ini artinya peranan generasi muda sekarang sangat strategis. Namun, bangsa ini juga tengah dihadapkan pada problematika yang menimpa generasi muda; mulai dari kasus penyalahgunaan narkoba, miras, terorisme, dan kekerasan. Menurut Indonesia Drugs Report 2022 yang dirilis oleh Pusat Penelitian Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional (Puslitdatin BNN) prevalensi jumlah penduduk usia 15-65 tahun yang terpapar narkoba pada 2021, setidaknya pernah pakai, pada 2021 adalah sejumlah 4,8 juta jiwa. Menurut data mereka, rentang usia pertama kali dalam menggunakan narkoba adalah pada 17 sampai 19 tahun. Di sinilah mengapa usia remaja menjadi rentang usia pengguna narkoba terbanyak dan pada usia mereka 35 sampai 44 tahun, ketergantungan ini dapat menjadi tanpa henti. Selain itu, kekerasan yang melibatkan pemuda juga masih terus menghiasi berita-berita di media massa, seperti bullying, tawuran, dan geng motor.
Hal ini bisa terjadi antara lain dikarenakan cara berfikir yang pendek, tidak mempunyai harapan hidup, serta mementingkan diri sendiri. Apalagi didasarkan pada sebuah keyakinan yang ingin cepat mendapatkan kesenangan hidup dengan cara mengorbankan diri dan bahkan menyakiti orang lain. Ini tidak boleh dibiarkan. Bagi orang tua dan juga generasi muda, perlu meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim AS, supaya bisa terhindar dari hal-hal negatif. Sebab, Nabi Ibrahim telah berhasil membangun keluarga dengan karakter pasrah total kepada Allah SWT. dan gigih berjuang untuk meraih apa yang diinginkan dengan kesungguhan tekad dan komitmen ilahiyah.
Dalam istilah agama, hal ini lebih kita kenal sebagai ikhtiar dan tawakkal (i'qil wa tawakkal). Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu-kesatuan yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tercapainya keseimbangan dalam perjalanan kehidupan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum muslimin jemaah sholat Idul Adha rahimakumullah
Tidaklah tercapai suatu tujuan ataupun cita-cita dalam kehidupan, melainkan harus didukung oleh ikhtiar atau totalitas usaha dalam meraihnya. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam upaya meraih tujuan hidup. Namun tidak instan, perlu usaha keras dan totalitas untuk meraih cita dengan karakter kuat dan semangat berkorban. Hal ini tidak akan bermakna, serta seringkali menjadi sia-sia, apabila tidak dibarengi dengan totalitas kepasrahan dan doa kepada Allah SWT.
Tentang kedua prinsip ini, istri Nabi Ibrahim, Hajar telah mengajarkan kepada kita dalam peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya dan berputus asa.
Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Kita tahu bahwa Hajar tidak mendapatkan apa yang dicari dari hasil upayanya saat naik ke gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi dari karunia Allah SWT. lewat tendangan kaki balita Nabi Ismail as. Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya tetapi karena karunia Allah SWT.
Sai mengisyaratkan makna perjuangan hidup yang pantang menyerah. Setiap orang harus siap berjuang keras dan pantang menyerah. Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya.
Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat. Terkadang juga, keberhasilan datang menghampiri usaha keras. Tetapi, jangan sampai terjerumus lupa diri kepada Allah, Sang Penentu segala hasil. Ini penting agar kita tidak sombong, angkuh, dan lupa atas keberhasilan tersebut. Itulah tujuan yang ingin dicapai dengan sikap tawakkal dalam totalitas usaha, sebagaimana dicontohkan Hajar saat mendaki dan menuruni bukit Shafa dan Marwah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum muslimin jemaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Di akhir khutbah ini, saya ingin memberikan underline bahwa Idul Qurban mengantarkan kita untuk dapat meneladani kisah sukses keluarga Nabi Ibrahim. Pertama, sosok Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail AS mengajarkan kepada kita tentang pentingya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup. Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini.
Kedua, peristiwa qurban mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari untuk memupuk solidaritas kemanusiaan. Tanpa adanya pengorbanan, manusia akan mementingkan dirinya sendiri, lalu menjadi manusia rakus dan acuh terhadap lingkungan sekitar.
Di hari raya idul Adha kali ini, mari kita kobarkan semangat dan optimisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan meneladani totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah; kerelaan pengorbanan dan kejujuran Nabi Ismail, serta kegigihan dan ikhtiyar yang dilakukan oleh Hajar.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ السُّعَدَآءِ المَقْبُوْلِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِييْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالى فِي القُرآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . قُلْ إِنَّمَا أَنَاْ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلهُكُمْ إِلهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْلِقَآءَ رَبَّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْههِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِننْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَررَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَللله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.
الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ.
وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّددِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْييآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُررْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيْنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَاافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيْنَ
Oleh: KH M Cholil Nafis, Lc, PhD, Wakil Ketua Umum MUI 2025-2030
Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia
Khutbah Idul Adha 2026 #4: Mencari Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Diri Manusia
Khutbah Pertama
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا وَمَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ، وَتَكْفِيْرِ الذُّنُوْبِ وَالرَّفْعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْمَقَامَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha rahimakumulah
Di awal khutbah hari raya Idul Adha ini, marilah kita tundukkan hati dan lafalkan syukur kepada Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya, masih memberikan kita kesehatan dan umur panjang untuk bisa hadir kembali melaksanakan sholat sunah Idul Adha, di hari yang penuh sejarah, penuh teladan, dan penuh pengorbanan ini. Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, dan umatnya. Semoga kita dikumpulkan bersamanya di akhirat, dalam surga yang penuh rahmat dan nikmat. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, di hari yang mulia ini, saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang tumbuh dari hati, jiwa, dan amal saleh yang ikhlas. Takwa sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, yang siap meninggalkan apa pun demi menjalankan perintah Tuhannya. Hingga apa yang ia lakukan tidak hanya menjadi sekadar cerita saat ini, tetapi menjadi panggilan untuk ditanamkan dalam laku hidup kita semua.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha rahimakumullah
Hari raya Idul Adha tidak sekadar hari raya biasa. Ia merupakan peringatan tentang kesabaran paling tinggi, ketika taat pada perintah Allah harus rela mengorbankan anak sendiri. Dalam kisahnya, tepat pada hari ini, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Disembelih oleh tangannya sendiri, di hadapan matanya, dan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk patuh pada perintah-Nya.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai salah satu kisah kesabaran yang sangat luar biasa untuk kita teladani bersama. Allah swt berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya, "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.'" (QS Ash-Shaffat, [37]: 102).
Dalam potongan kisah tersebut, kita menyaksikan dua sosok luar biasa, (1) ayah yang berserah penuh kepada Allah dengan mengorbankan putranya, dan (2) anak yang menerima takdir dengan sabar dan ikhlas. Nabi Ibrahim tidak hanya menunjukkan ketaatan sebagai seorang hamba, tapi juga keberanian sebagai seorang ayah yang sanggup menundukkan rasa cintanya kepada sang anak demi patuh kepada Tuhannya. Begitu juga Ismail, keteguhan hatinya memperlihatkan bahwa jiwanya tidak goyah sekalipun diperintah untuk menyerahkan nyawanya.
Namun juga perlu kita ketahui, bahwa apa yang dilakukan keduanya tidak sekadar hubungan antara ayah dan anak biasa. Keduanya adalah manusia pilihan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Maka keteladanan ini bukanlah ajakan agar orang tua bisa meminta apa pun pada anaknya, atau agar anak selalu menuruti tanpa berpikir. Karena pelajaran besarnya adalah tentang kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas, dan pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah
Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan putranya, dan pisau telah siap di tangannya, serta Nabi Ismail telah ridha dan pasrah pada perintah Allah. Pada saat itulah, datang seruan dari Allah swt, bahwa semua itu hanyalah ujian keimanan, dan tidak benar-benar akan mengambil nyawa sang anak. Kemudian Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang agung. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)
Artinya, "Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar." (QS Ash-Shaffat, [37]: 105-107).
Inilah ruh dari Idul Adha, yaitu tunduk patuh dan menerima pada apa yang Allah tetapkan sebagaimana yang tercermin dalam diri Nabi Ibrahim, serta ikhlas dan sabar sebagaimana dalam diri Nabi Ismail. Ibrahim tidak hanya semata menyembelih, tapi melepas rasa kepemilikan yang berlebihan, menyembelih ego, menyembelih rasa takut yang menghalanginya dari total patuh kepada Allah.
Lantas, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini? Pelajarannya adalah menerima terhadap semua takdir dan ketentuan Allah dengan ikhlas dan percaya, bahwa semua itu benar-benar yang terbaik bagi kita semua, tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa memberontak. Karena ketika Ibrahim dan Ismail pasrah dan menerima semuanya, apa yang terjadi? Allah memberikan ganti dari ujian tersebut dan tidak menjadikan Ismail sebagai kurban.
Pelajaran dan penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi, dalam kitab Tafsir wa Khawathirul Umam, jilid IV, halaman 417, ia mengatakan:
وَتُعَلِّمُنَا هَذِهِ الْوَاقِعَةُ أَنَّكَ إِذَا مَا جَاءَ لَكَ قَضَاءٌ مِنَ اللهِ إِيَّاكَ أَنْ تَجْزَعَ، إِيَّاكَ أَنْ تَسْخَطَ، إِيَّاكَ أَنْ تَغْضَبَ، إِيَّاكَ أَنْ تَتَمَرَّدَ، لِأَنَّكَ بِذَلِكَ تُطِيْلُ أَمَدَ الْقَضَاءِ عَلَيْكَ، وَلَكِنْ سَلِّمْ لِقَضَاءِ اللهِ فَيُرْفَع هَذَا الْقَضَاءُ، لِأَنَّ الْقَضَاءَ لاَ يُرْفَعُ حَتَّى يُرْضَى بِهِ
Artinya, "Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa jika datang suatu ketetapan dari Allah kepadamu, maka janganlah engkau gelisah, jangan marah, jangan murka, dan jangan memberontak. Karena jika engkau melakukan itu, itu hanya akan memperpanjang masa ketetapan itu atas dirimu. Akan tetapi, berserah dirilah pada ketetapan Allah, niscaya ketetapan itu akan diangkat. Sebab, suatu ketetapan tidak akan diangkat hingga diridhai oleh yang menerimanya."
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah
Dengan demikian, maka Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita arti sejati dari cinta yang tidak melampaui cinta kepada Allah. Nabi Ismail mengajarkan kepada kita makna kesabaran, keikhlasan, dan ridha dalam menerima takdir. Inilah keteladanan yang kita cari dalam diri manusia, yaitu menjadi hamba yang patuh tanpa syarat, dan menjadi manusia yang teguh saat diuji dengan pengorbanan.
Mari kita pulang dari sholat Idul Adha ini dengan membawa semangat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ke dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita sembelih ego kita yang sombong, kita tebas rasa tamak dan dengki, dan kita gantikan dengan ketundukan, keikhlasan, dan ketakwaan yang sejati. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala keadaan, dan semoga ibadah kita diterima sebagaimana Allah menerima pengorbanan Ibrahim dan Ismail.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
ٱلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ ٱلْأُضْحِيَةَ تَذْكِرَةً بِفِدَاءِ خَلِيلِهِ، وَجَعَلَ أَيَّامَ ٱلنَّحْرِ مَوَاسِمَ قُرْبَاتٍ وَرَفْعَاتٍ فِي سَبِيلِهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ، وَتَأَسَّى بِسُنَّتِهِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. فَانْظُرُوْا أَنَّ أَعْظَمَ الْقُرْبَاتِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ مَا قُدِّمَ فِيهَا مِنْ دَمٍ يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُهُ، وَمَا طَابَ فِيهَا مِنْ نَفْسٍ تُرِيدُ رِضَاهُ فَأَكْرِمُوا هَذِهِ الْمَوَاسِمَ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ رَحْمَةٍ وَنَفَحَاتٍ وَتَجَلِّيَاتٍ مِنْ عِنْدِهِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Oleh: Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama
Khutbah Idul Adha 2026 #5: Keteladanan Nabi Ibrahin sebagai Orangtua dan Nabi Ismail sebagai Anak dalam Membentuk Keluarga Sakinah
Khutbah Pertama
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ الْأَضَاحِي، وَجَعَلَهَا قُرْبَانًا إِلَيْهِ، وَدَلِيلًا عَلَى التَّقْوَى، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَسْأَلُهُ التَّوْفِيقَ وَالرِّضَا
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah.
Allah Maha Besar dengan kebesaran yang agung. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.
Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan ibadah qurban kepada hamba-hamba-Nya, menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya dan sebagai bukti ketakwaan. Kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya, serta meminta taufik dan keridhaan-Nya.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.
Jemaah Idul Adha yang dimulyakan Allah.
Hari ini kita merayakan Idul Adha, hari besar yang mengingatkan kita pada peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketaatan luar biasa Nabi Ismail. Ini bukan sekedar kisah sejarah melainkan pelajaran hidup tentang bagaimana orang tua bersikap kepada Allah dan anak bersikap terhadap Allah dan orang tuanya.
،ﻣﻌﺎﺷر اﻟﻣﺳﻠﻣﯾن رﺣﻣﻛم ﷲ
Di antara sosok teladan dalam Al-Qur'an adalah Nabi Ibrahim اﻟﺳﻼم ﻋﻠﯾﮫ, seorang ayah, suami, dan pemimpin umat yang memiliki sifat sabar, tawakal, dan penuh kasih sayang dalam membina keluarganya. Keteladanan yang ada dalam diri beliau adalah
1. Kepemimpinan Spiritual
Nabi Ibrahim membimbing keluarganya menuju tauhid, bahkan saat diperintahkan untuk menyembelih putranya:
) يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (
"Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pendapatmu.
Ismail berkata: "wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar"
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Ini adalah bentuk kepemimpinan spiritual yang mengakar dalam cinta kepada Allah dan pendidikan tauhid.
2. Keteladanan istri: Siti Hajar
Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di padang tandus, Hajar berkata:
"اللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: "نَعَمْ" قَالَتْ: "إِذًا لَنْ يُضَيِّعَنَا"
"Apakah ini perintah Allah, wahai Ibrahim? Ibrahim menjawab, "ya"
"Kalau begitu Allah tidak akan menyia nyiakan kami" (Hadis riwayat Bukhari)
Siti Hajar adalah contoh istri yang taat, kuat, dan yakin pada ketentuan Allah.
3. Tujuan Akhir: Mencetak Generasi Saleh
Nabi Ibrahim selalu berdoa untuk anak cucunya:
(رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي)
" Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang orang yang tetap mendirikan sholat" QS. Ibrahim: 40)
(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ)
"Ya tuhan kami jadikanlah kami orang orang yang berserah diri kepadaMu dan anak cucu kami juga". (QS. Al-Baqarah: 128)
Nabi Ibrahim mempunyai anak yang taat karena didikan orang tuanya. Dikisahkan dalam Al Qur'an surat Ash Shaffat : 102 bagaimana keteguhan Ismail kecil taat kepada orang tuanya. Nabi Ismail, yang masih belia saat itu tidak membangkang, tidak mengeluh, bahkan menyemangati ayahnya untuk taat kepada perintah Allah. Inilah contoh nyata anak yang berbakti dan taat kepada Allah serta kedua orang tuanya.
Apa yang bisa kita teladani dari nabi Ismail?
1. Taat kepada Allah sepenuh hati, meski perintah-Nya terasa berat.
2. Berbakti kepada orang tua, mendengarkan dan menghormati keputusan mereka.
3. Sabar dan rela berkorban, demi kebaikan dan nilai-nilai agama.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd. Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Idul Adha juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban. Kata "qurban" berasal dari "qaruba" yang berarti mendekat. Maka, berqurban adalah bentuk mendekatkan diri kita kepada Allah, dengan harta, waktu, tenaga, dan bahkan perasaan.
Begitu pula yang dilakukan Nabi Ismail AS. Ia rela menjadi qurban jiwa, bukan karena paksaan, tetapi karena keimanan yang mendalam.
(وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ)
"Maka Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 107)
Allah pun mengganti Ismail dengan hewan sembelihan, karena telah terbukti keikhlasan dan ketaatan mereka.
Psan kepada para anak: teladanilah Ismail AS dengan ketaatan dan bakti kepada orang tua.
Kepada para orang tua: teladanilah Ibrahim AS dengan mendidik anak-anak dalam iman dan komunikasi yang lembut.
Kepada kita semua: mari jadikan momen Idul Adha ini untuk menghidupkan kembali semangat pengorbanan dan ketaatan dalam kehidupan kita.
اللهم اجعلنا من عبادك الصالحين، واجعل أولادنا من المتقين البارين، وارزقنا قلوبًا خاشعة، وأعمالا متقبلة.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallaah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd.
Akhir kata, mari kita sambut Hari Raya Idul Adha ini dengan hati yang penuh syukur, ketaqwaan yang tinggi, dan semangat berbagi. Semoga Allah SWT menerima ibadah qurban kita, memberkahi kita, serta melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua.Selamat Hari Raya Idul Adha! Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga kita semua menjadi hamba yang taat dan bertaqwa kepada-Nya.
Semoga menjadi khutbah yang bermanfaat, dan semoga kita bisa meneladani Nabi Ibrahim dalam kehidupan kita sehari-hari.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah Kedua
الله اكبر - اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ بِالْأَفْرَاحِ وَالسُّرُورِ وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِينَ جَزِيلَ الْأُجُورِ وَكَمَا الضَّيَافَةَ فِي يَوْمِ الْعِيدِ لِعُمُومِ الْمُؤْمِنِينَ بسعيهيمُ الْمَشْكُور . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْعَفْوُ الْغَفُورُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولَهُ الذِي نَالَ مِنْ رَبِّهِ
مَا لَم يَنلَهُ مُقَرَبُ وَلَا رَسُولٌ مُطَرْ مَبْرُورُ. اللهم صَلِّ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْأُمِّي وَعَلَى اللَّهِ وصحبه الذِينَ كَانُوا يَرْجُونَ لَن تَبُورًا وَسَلَّم تسليما كثيرا .
امَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا ان يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ يَتَجَلَّى اللَّهُ فِيهِ عَلَى عِبَادِهِ مِنْ كُلِّ مُقِيمِ وَمُسَافِرِ. فَيُبَاهِي لَكُمُ مَلَائِكَتَهُ وَانْتُمْ مُكَبِّرُونَ فِيهِ إِظْهَارًا لِشَعَائِرِهِ في كُلِّ مَكان طَاهِرٍ ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَرْكَ قَائِلًا عَلِيمًا.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَارْضَ عَنْهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ .
اللَّهُمَّ اغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ . اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَادَ وَالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْقَحْطِ وَالْوَبَاءَ وَالسَّيُوفَ والمُخْتَلِفَة وَالشَّدَائِدَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْمِحْنُ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَصَةً وَمِنَ بُلْدَانِ المُسلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلَا خَوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلَا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ روفُ الرَّحِيمُ .
عِبَادَ اللهِ : إِنَّ اللَّهَ يَاءُ مُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ندى القربى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِضُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ الله أَكْبَرُ.
Oleh: Ariadi S. Ag, Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen
Sumber: Kemenag Yogyakarta dan Buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun
Khutbah Idul Adha 2026 #6: Memetik Pilar Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah
Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SwT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita di pagi yang indah ini bisa berkumpul bersama menikmati hangatnya sinar mentari, dan segarnya udara di pagi sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai ekspresi mengagungkan Ilahi Robbi. Dan melaksanakan sholat sunah dua rakaat Idul Adha sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah
Idul Adha adalah momen penting dimana kita diingatkan kembali atas kisah pengorbanan Nabi Ibrahim 'alaihi salam bersama putranya, Nabi Ismail 'alaihi salam. Sebuah kisah yang begitu luar biasa, yang menyentuh kalbu dan jiwa, peristiwa yang jarang bisa dilaksanakan oleh manusia biasa. Ayah dan anak keduanya kompak menunjukkan ketundukan yang sempurna kepada Allah Rabb al-'Alamin. Nabi Ibrahim menunjukkan keberanian luar biasa untuk melaksanakan perintah Allah, meskipun itu berarti harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai yaitu anak kesayangannya. Dan di sisi lain, kita juga kagum kepada Nabi Ismail as yang juga menunjukkan ketaatan yang luar biasa kepada ayah dan kepada Tuhannya walaupun harus mengorbankan dirinya.
Kisah tersebut diabadikan Allah dalam Al-Qur'an surat as-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar."
Nabi Ibrahim adalah figure bapak yang taat kepada Tuhan tetapi menghormati pendapat orang lain. Beliau berjiwa demokratis mengajak bermusyarah dengan putranya untuk minta pendapatnya. Begitu pula sang anak sama sama punya keimanan yang tinggi menyatakan kesediannya, sehingga terjadi harmoni dalam melaksanakan perintah Tuhan. Tidak ada paksaan dalam beragama.
Kisah tersebut di atas sangat menarik untuk diambil pelajaran penting dalam keberagamaan kita di masa kini. Keberagamaan harus bertumpu pada kesadaran penuh akan nilai-nilai spiritual. Nabi Ibrahim adalah teladan keberagamaan yang tidak hanya menitikberatkan ibadah ritual, tetapi juga keberanian moral, keikhlasan, dan kepatuhan yang teguh kepada perintah Tuhan.
Oleh karena itu, dalam kesempatan yang baik ini, khatib akan mengemukakan beberapa poin yang dapat kita ambil sebagai ibrah dari kisah nabi Ibrahim dan Ismail. Di mana keberagamaan keduanya bisa dijadikan sebagai model keberagamaan Islam berkemajuan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Yang pertama adalah keikhlasan dalam beribadah: Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa segala bentuk ibadah kita harus dilandasi oleh keikhlasan. Tidak ada pamrih dalam beribadah, hanya semata-mata mencari ridha Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah surat al-Bayyinah:
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS al-Bayyinah ayat 5)
Ibrah yang kedua adalah keberanian menghadapi tantangan. Islam mengajarkan umatnya untuk terus bergerak maju, menghadapi segala tantangan dengan keberanian dan keteguhan hati. Nabi Ibrahim adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang tidak gentar menjalani ujian Allah.
وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS an-Nisa' ayat 125)
Dan Ibrah yang ketiga adalah semangat pembaruan (Tajdid). Keberagamaan yang diajarkan Nabi Ibrahim bukanlah yang stagnan. Beliau selalu mencari kebenaran dan berupaya mendekatkan diri pada Allah. Ini adalah semangat yang harus dihidupkan umat Islam untuk terus berkarya dan memberi manfaat kepada lingkungan.
۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS al-Baqarah ayat 124)
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jemaah yang dirahmati Allah
Di era modern sekarang ini, semangat keberagamaan Nabi Ibrahim bisa menjadi panduan untuk kita dalam melaksanakan Islam berkemajuan. Dalam menghadapi berbagai tantangan, umat Islam harus tetap memprioritaskan nilai-nilai ketaatan kepada Allah, memperkuat ukhuwah, dan memberi kontribusi positif kepada masyarakat.
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Mumtahanah ayat 6).
Kisah nabi Ibrahim tidak hanya mencerminkan kerelaan pengorbanan beliau tetapi juga menjadikannya sebagai model iman, kesabaran, dan pengabdian. Tindakannya beresonansi dalam praktik dan kepercayaan Islam, menginspirasi orang percaya untuk menegakkan iman mereka dengan ketulusan dan keberanian.
Para sarjana telah mengeksplorasi kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dari berbagai perspektif, menekankan signifikansi teologis, moral, dan spiritualnya. Banyak sarjana menyoroti bahwa kesediaan Ibrahim untuk mengorbankan putranya menunjukkan penyerahan tertinggi kepada Allah. Tindakan ini dipandang sebagai contoh mendalam dari keyakinan dan ketauhidan (keesaan Tuhan) dan kepercayaan penuh dan patuh pada kebijaksanaan ilahi.
Pengorbanan nabi Ibrahim sering ditafsirkan sebagai pelajaran dalam memprioritaskan pengabdian kepada Allah daripada keterikatan duniawi. Para sarjana seperti Ibn al-'Arabi telah membahas narasi sebagai panggilan untuk melepaskan berhala pribadi atau apa pun yang mengalihkan perhatian dari Allah.
Beberapa sarjana merefleksikan tantangan etika yang dihadapi Ibrahim, menekankan perjuangan internal dan keyakinannya yang tak tergoyahkan. Aspek ini dipandang sebagai pengingat bagi orang-orang percaya untuk menghadapi dilema moral mereka sendiri dengan keberanian dan kepercayaan kepada Allah. Dan Tindakan Ibrahim dipandang sebagai landasan ajaran Islam, ritual yang menginspirasi seperti pengorbanan Idul Adha. Tindakan tersebut melambangkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesiapan orang percaya untuk membuat pengorbanan pribadi demi kebaikan yang lebih besar.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Akhirnya saya mengajak hadirin untuk mencontoh, keimanan, ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, sehingga melahirkan jiwa berani berkorban, tidak egois dan mendahulukan musyawarah. Marilah kita memanfaatkan kesempatan yang ada untuk selalu berbuat baik. Mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah yang entah sampai kapan sisa umur ini masih ada. Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sehingga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang Allah, umur yang dipenuhi barakah Allah. Harta yang kita punyai, mari kita gunakan untuk kepentingan kebaikan, kita gunakan untuk meraih kesenangan di akhirat yang abadi. Jangan sampai kita menyesal berkepanjangan ketika kelak kita berada di alam keabadian.
Untuk menguatkan keimanan kita agar menjadi iman aktif marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah SwT. Dan kita yakin doa ini akan diamini para malaikat juga akan dikabulkan Allah SwT.
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
Oleh: Prof Dr H Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Sumber: Laman Suara Muhammadiyah
Khutbah Idul Adha 2026 #7: Iman Yang Tunduk Dan Akal Yang Tercerahkan
Khutbah Pertama
اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
إِنَّ الْـحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
نَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْا بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقَائِمُ بِأَمْرِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالشُّكْرِ وَهَذَا الدِّيْنِ مَتِيْنٌ فَأَوْثِقُوْا عُرَاهُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
فَأَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin jama'ah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Dengan kasih sayang dan karunia-Nya yang tak terhingga, kita kembali dipertemukan di pagi yang mulia ini-hari yang insya Allah penuh berkah, penuh makna, dan penuh syukur. Hari Idul Adha 1447 H, hari raya umat Islam kedua setelah Idul Fitri.
Alhamdulillah, dengan izin Allah, kita semua dapat hadir di tempat ini dalam keadaan sehat, damai, dan dalam limpahan nikmat yang tak terhitung dalam rangka menunaikan salah satu sunnah mulia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: merayakan Idul Adha dan menunaikan ibadah udhiyah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah, dimulai hari ini, kemudian dilanjutkan 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, insya Allah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, suri teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan.
Semoga pula tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang setia mengikuti jalan hidup beliau hingga hari akhir kelak.
Ma'asyiral muslimin, jemaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,
Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1447 H memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan, serta membuat kita semua berkumpul di tempat ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka.
Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar dan anaknya Nabi Ismail. Mari kita bayangkan, bahwa lebih dari 4.000 tahun lalu tiga manusia agung itu (Ibrahim, Hajar dan Ismail) berjalan kaki sejauh lebih dari 2.000 km (atau sejauh Makassar-Jakarta) dari negeri Syam (yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Yordania dan Lebanon) menuju jazirah tandus, Makkah al-Mukarramah.
Bayangkan, bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa. Bagaimana pula Ka'bah yang pada awalnya hanya dithawafi oleh tiga manusia agung itu. Hingga hari ini, jutaan manusia mengunjungi kota Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, dan mereka berasal dari berbagai penjuru dunia.
Jika kita buka lembar sejarahnya, Mekkah pada zaman Nabi Ibrahim adalah padang tandus yang panas, gersang, dan sepi tanpa penghuni. Kondisinya tergambar dalam doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Ibunda Hajar dan Nabi Ismail:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Perayaan Idul Adha yang kita laksanakan hari ini sejatinya bukan hanya rutinitas tahunan yang selalu dilewati tanpa makna. Ia adalah pengingat yang memanggil memori ingatan kita pada peristiwa ribuan tahun yang lalu. Peristiwa yang menjadi penentu arah masa depan peradaban manusia.
Untuk apa? untuk kita ambil pelajaran penting tentang arti sebuah pengorbanan.
Sebuah pengorbanan dari tiga manusia agung, Nabi Ibrahim, istrinya yaitu Ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail. Pengorbanan yang melampaui batas nalar akal manusia.
Dalam pengorbanan ini ada pergulatan antara hati dan logika. Antara keinginan pribadi dan kepatuhan kepada perintah Allah subhanahu wa ta'ala.
Mari kita bayangkan sekali lagi, bagaimana mungkin seorang bapak diperintah untuk menyembelih anaknya? Akal sehat mana di dunia ini yang membenarkan perbuatan itu. Hati nurani mana yang tidak tersentak dan menggigil membayangkan sebuah peristiwa aneh dan janggal tersebut.
Kata Nabi Ibrahim kepada anaknya:
قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ
"(Yaa bunayya -panggilan sayang) Wahai Anakku sayang, tadi malam Ayah bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih dirimu, apa pendapatmu, Nak?"
Awal menerima perintah itu Nabi Ibrahim ragu-ragu, namun mimpi itu terulang sebanyak tiga kali, dan akhirnya beliau benar-benar yakin bahwa itu adalah perintah dari Allah.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam di satu sisi mengimani bahwa mimpi menyembelih anaknya adalah kebenaran wahyu, tapi di sisi lain, dia akan melihat anaknya terputus urat lehernya disembelih oleh tangannya sendiri.
Betapa getirnya perasaan itu, membayangkan tubuh kecil yang pernah dipeluk dalam rindu dan dijaga dengan penuh kasih sayang, kini harus ia rebahkan sendiri ke tanah, lalu mengayunkan pisau ke lehernya.
Ini ujian tidak hanya menantang akal sehat, tetapi juga mengguncang hati manusia paling kuat sekalipun.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Tapi akhirnya Nabi Ibrahim memenangkan keimanannya. Betapa pun tidak masuk di akal perintah itu, dia hiraukan. Siapapun yang menolak, bahkan setan sekalipun, akan beliau lawan demi menjalankan perintah Allah tersebut.
Apa kira-kira respons Nabi Ismail ketika disampaikan padanya perintah tersebut?
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Ayah, kerjakan apa yang Allah perintah kepada Ayah, Insya Allah aku sabar dengan perintah itu." Tidak ada sedikitpun bantahan, tidak ada keberatan, kalau itu perintah Allah, apapun konsekuensinya harus dilaksanakan.
Ini bukan sekedar ketaatan biasa. Ini adalah puncak dari pemahaman tentang hidup dan makna pengabdian. Bagi Nabi Ismail, hidup bukan mutlak milik dirinya. Hidup adalah titipan, jika Sang Pemilik memintanya kembali maka tidak ada alasan untuk tidak menyerahkannya.
Kepasrahan Nabi Ismail adalah cermin dari jiwa yang telah merdeka dari rasa memiliki, dan benar-benar berserah kepada kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan karena takut dan pasrah, tapi karena Nabi Ismail paham betul, ini adalah perintah Allah, dan perintah ini harus dikerjakan apapun resikonya, termasuk jika dengan itu nyawa sendiri harus menjadi taruhannya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Lalu ketika perintah untuk menyembelih Nabi Ismail disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada istrinya ibunda Hajar, bayangan kita, kira-kira apa reaksinya?
Reaksi normal seorang dari ibu yang begitu mencintai buah hatinya. Buah hati yang kehadirannya ditunggu dengan penuh harap dalam penantian yang panjang. Dalam munajat penuh cucuran air mata di malam-malam sepi. Karena berharap betul dikarunai Allah seorang keturunan shaleh.
Reaksi wajar ibunda Hajar pasti akan menganggap suaminya tidak waras. Tapi kejadian itu tidak pernah tertulis oleh tinta emas sejarah.
Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ibunda Hajar ridha dengan perintah itu. Dengan sepenuh hati, ia mempersilakan sang suami untuk melaksanakan perintah Allah menyembelih sang buah hati.
Urusan gejolak yang membuncah di lubuk hati tak perlu ditanyakan, Ibunda Hajar juga manusia, seorang ibu sebagaimana ibu-ibu pada umumnya. Banjir linangan air mata, sesak di dada, tentu juga dirasakan.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Namun pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih, Allah menggantinya dengan seekor domba, yang kemudian menjadi bagian dari syari'at Islam berupa kurban yang dilaksanakan setiap tahunnya pada hari Idul Adha. Seperti yang akan kita laksanakan insya Allah.
Perintah itu ternyata hanya ujian keimanan bagi Nabi Ibrahim, ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail 'alaihissalam. Tiga manusia agung itu lulus dari ujian. Ujian demi ujian, cobaan demi cobaan dilewati dengan sepenuh keyakinan dan keimanan.
Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Salah satu pelajaran besar dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihis-salam adalah bahwa dalam perkara ibadah, spirit utamanya adalah iman (ketundukan).
Bukan untuk dipertanyakan logikanya, atau ditimbang-timbang hikmah dan maslahatnya, jika terlihat ada manfaat, dijalankan, jika tidak, ditinggal. Seperti itu bukan ruh ibadah yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ibadah justru akan kehilangan makna apabila dasarnya hanya logika atau perhitungan manfaat.
Memang benar, setiap perintah Allah sarat dengan hikmah dan maslahat. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسَهَا عَلَى الْحُكْمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا، وَرَحْمَةٌ كُلُّهَا، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا
"Sesungguhnya syariat itu dibangun dan didasarkan atas dasar hikmah dan kemaslahatan bagi para hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Syariat secara keseluruhan adalah keadilan, rahmat, kebijaksanaan, dan maslahat."
Namun demikian, tidak semua hikmah selalu dapat dijangkau oleh akal manusia. Ada kalanya perintah Allah tampak "ganjil" di mata logika, tetapi justru di situlah letak ujian keimanannya.
Misalnya, Shalat; kenapa harus lima waktu? Kenapa jumlah rakaatnya berbeda-beda? Kenapa juga harus menghadap kiblat, padahal Allah Maha Melihat ke mana pun arah kita?
Puasa, kenapa menahan makan, minum, dan syahwat di siang hari, padahal itu semua halal di waktu lain?
Kemudian thawaf, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam-apa rahasianya, kenapa harus seperti itu?
Demikian pula, dengan penyembelihan hewan kurban, kenapa harus menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu, dan tidak pada waktu yang lain? Dan lain sebagainya.
Semua ini tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh akal. Tapi sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap ibadah memiliki makna yang dalam dan dampak yang besar dalam kehidupan, meskipun tak selalu tampak di permukaan. Karena itu, sikap terbaik seorang hamba adalah tunduk dan yakin, bahwa setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan, meski belum kita pahami sepenuhnya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Lalu, di mana letak fungsi akal? Bukankah akal juga merupakan anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia sebagai pembeda dari makhluk lainnya?
Menarik untuk menyimak apa yang disampaikan oleh Imam asy-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat, jilid 2, hlm. 513:
ٱلْأَصْلُ فِي ٱلْعِبَادَاتِ بِٱلنِّسْبَةِ إِلَى ٱلْمُكَلَّفِ ٱلتَّعَبُّدُ دُونَ ٱلِٱلْتِفَاتِ إِلَى ٱلْمَعَانِي، وَأَصْلُ ٱلْعَادَاتِ ٱلِٱلْتِفَاتُ إِلَى ٱلْمَعَانِي
"Hukum asal dalam ibadah bagi seorang mukallaf adalah bersifat ta'abbudi (murni penghambaan), tanpa memperhatikan makna-makna (rasional) nya. Sedangkan hukum asal dalam kebiasaan (muamalah dan adat) adalah memperhatikan makna dan tujuan yang terkandung di dalamnya."
Di sini, Imam asy-Syathibi menjelaskan dengan jelas hubungan antara iman dan akal. Dalam urusan tata interaksi sosial serta relasi antar manusia, akal memang penting. Dalam hal ini, bahkan umat Islam dituntut untuk mendayagunakan secara maksimal akalnya untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Jika tidak, maka umat akan tertinggal dan hanya menjadi bulan-bulanan peradaban lain.
Lihatlah kemajuan pesat ilmu pengetahuan teknologi hari ini. Jauh berbeda dengan apa yang ada di zaman Nabi. Ambil contoh, penggunaan internet untuk menyebarkan dakwah, aplikasi seluler Al-Qur'an, atau kemajuan di bidang kedokteran yang menyelamatkan banyak nyawa.
Apakah semua inovasi itu dilarang dalam Islam? Tentu saja tidak sama sekali, bahkan sangat dianjurkan dengan tetap memperhatikan aturan Islam. Umat ini sangat membutuhkan individu-individu yang menguasai teknologi dan sains agar tidak hanya menjadi konsumen pasif di tengah derasnya arus peradaban, melainkan menjadi agen perubahan dan kontributor.
Namun demikian, sekali lagi, dalam konteks ibadah, fondasi utamanya adalah iman. Dengan kata lain, akal berfungsi untuk memahami kehidupan, sedangkan iman berperan dalam menundukkan diri sepenuhnya dalam pengabdian.
Oleh karena itu, pada momentum bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini, marilah kita belajar menempatkan iman dan akal secara proporsional.
Dalam ibadah, iman seyogyanya harus di garda terdepan, sementara akal mengikuti dari belakang dan menopangnya. Hal ini dikarenakan tidak semua perintah Allah dapat dipertimbangkan dengan logika, seperti yang terbukti pada perintah Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim.
Mari gunakan akal untuk memahami, tapi jangan menjadikan akal sebagai syarat untuk taat kepada syari'at. Karena iman yang sejati adalah ketika kita tetap tunduk pada syariat, meski hikmahnya belum dipahami. Wallahu a'lam bishawab.
Demikian Khutbah Idul Adha 1447 H pada kesempatan mulia ini.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah Kedua
اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلا
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَقِرَاءَتَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَسْبِيْحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَمْجِيْدَنَا وَتَحْمِيْدَنَا وَخُشُوْعَنَا يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْن
إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
Oleh: Ashabul Yamin S.Pd, Alumnus Ma'had Aly An-Nuur
Sumber: Laman Ma'had 'Aly An-Nuur
Khutbah Idul Adha 2026 #8: Meningkatkan Ketakwaan, Menebar Kasih Sayang
Khutbah Pertama
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Pada hari yang penuh berkah ini, kita berkumpul untuk merayakan Idul Adha, hari raya yang penuh dengan makna pengorbanan dan ketakwaan. Sebuah momen untuk kembali merefleksikan diri, untuk meneguhkan hati dan niat kita, untuk mengukur sejauh mana kita dapat mengorbankan ego, harta, dan waktu demi kebaikan bersama.
Hari ini, Allah mengingatkan kita untuk tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi untuk berkurban demi kesejahteraan umat, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS. Sebuah pengorbanan yang bukan hanya terkait dengan darah hewan kurban, tetapi lebih dalam lagi, tentang kepedulian sosial dan ketakwaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Allah berfirman dalam surat al-Kautsar:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)
Artinya, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus."
Setelah Allah menjelaskan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada Nabi Muhammad saw, Ia memerintahkan untuk mendirikan sholat dan berkorban. Surah ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menyadari bahwa segala nikmat yang kita terima adalah anugerah besar dari Allah. Maka, sebagai bentuk syukur, kita diwajibkan untuk mendirikan sholat dan melaksanakan ibadah kurban, yang keduanya saling melengkapi dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Menurut Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah Zuhaili, al-Kautsar adalah telaga yang Allah persiapkan di surga bagi Nabi Muhammad saw, tempat umat beliau kelak akan meminum airnya yang begitu menyegarkan. Nikmat ini adalah hadiah terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Ketika kita melakukan ibadah kurban, kita juga menyertakan doa agar kita bisa meraih keberkahan serupa di akhirat nanti.
Kemudian, Allah memerintahkan fashalli li rabbika wanhar, yang dalam penjelasan Tafsir al-Qurthubi diartikan sebagai sholat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban setelah sholat. Menyembelih hewan kurban sebelum sholat Id tidak sah, karena tata cara ini sesuai dengan urutan yang Allah ajarkan. Ini menunjukkan pentingnya melaksanakan ibadah dengan benar sesuai dengan petunjuk-Nya.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Di titik inilah, kita perlu menggali lebih dalam makna kurban tidak hanya sebagai ritual, tetapi sebagai sarana membumikan nilai kepedulian sosial. Karena dalam Islam, kemaslahatan (maslahah) adalah roh dari setiap ajaran. Tujuan agama bukan hanya melahirkan pribadi-pribadi taat secara ritual, tetapi juga menciptakan kehidupan sosial yang adil, harmonis, dan saling peduli.
Rasulullah saw. bersabda:
تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى
Artinya, "Kamu akan melihat orang-orang Mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)." (Shahih al-Bukhari)
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kepedulian sosial adalah inti dari agama kita. Agama tidak hanya mengajarkan kita untuk beribadah dalam kesendirian, tetapi untuk menjalin hubungan dengan sesama. Kurban adalah cara kita memperlihatkan kasih sayang terhadap yang membutuhkan, dan menjalin ukhuwah Islamiyah yang kuat.
Rasulullah juga bersabda:
لاَ يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ
Artinya, "Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia." (Shahih al-Bukhari)
Pesan ini sangat jelas, bukan hanya sekadar melaksanakan ibadah yang mengarah pada diri kita sendiri, tetapi juga memperhatikan orang lain. Sehingga, keberagamaan kita tidak hanya berhenti di masjid atau di rumah ibadah, tetapi juga harus meluas kepada tindakan nyata dalam membantu dan mengasihi orang lain.
Di sinilah letak sejati keberagamaan kita diuji. Sejauh mana kita menjadikan agama sebagai alat pemberdaya kehidupan, bukan sebagai beban yang memisahkan. Kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme. Menyisihkan sebagian rezeki bukan sekadar berbagi, tetapi mengokohkan ukhuwah.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Kemudian, mari kita renungkan juga makna yang terkandung dalam Sunan Tirmidzi:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمٍ إِنَّهَا لَتَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا
Artinya, "Tidak ada amal anak Adam pada hari Nahr yang paling disukai Allah selain daripada mengalirkan darah (menyembelih kurban). Kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, rambut, dan kukunya. Dan sungguh, darah kurban itu lebih dahulu jatuh ke sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Oleh karena itu, berkurbanlah dengan hati yang lapang."
Hadits ini mengajarkan kita bahwa setiap tetes darah dari hewan kurban kita memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Darah ini bukan sekadar cairan yang mengalir, tetapi ia adalah simbol pengorbanan kita yang dengan ikhlas kita persembahkan untuk Allah. Yang lebih mengagumkan, darah tersebut sudah diterima oleh Allah sebelum menetes di bumi. Ini adalah bentuk keistimewaan dari Allah yang menunjukkan betapa besar pahala dan makna dari ibadah kurban.
Kita juga diingatkan dalam Hasyiyah Asy Syarqaawi, bahwa Imam Rafi'i menyampaikan hadits:
عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فَإِنَّها عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ
Artinya, "Besarkanlah hewan kurban kalian, karena sesungguhnya hewan kurban itu akan menjadi tumpangan kalian di shirath."
Perkataan ini mengingatkan kita bahwa kurban bukan sekadar ritual. Lebih dari itu, kurban menjadi jalan kita menuju keselamatan di akhirat, terutama ketika kita melewati shirat-jembatan tipis yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang mendapat rahmat Allah. Oleh karena itu, kita diajak untuk memilih hewan kurban yang terbaik, sebagai bentuk kesungguhan kita dalam beribadah dan pengorbanan kita di jalan-Nya.
Betapa agungnya pahala dari kurban ini. Setiap tetes darah yang kita sembelih adalah kebaikan yang tak terhingga banyaknya di sisi Allah. Jadi, mari kita lakukan ibadah ini dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan keikhlasan, karena dalam setiap tetes darah yang mengalir itu ada keberkahan yang Allah janjikan.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Sekarang, mari kita renungkan firman Allah dalam Surat Al-Hajj (QS. 22:37):
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ
Artinya, "Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya."
Pada masa jahiliyah, orang-orang Arab mengalirkan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, serta mempersembahkan dagingnya di sana. Mereka percaya bahwa darah tersebut adalah persembahan kepada Tuhan. Namun, Allah menegaskan bahwa Dia tidak membutuhkan darah atau daging hewan kurban kita. Apa yang Allah inginkan adalah ketakwaan kita.
Islam dengan jelas memisahkan antara ajaran yang benar dengan tradisi yang tidak sesuai. Tidak ada kaitan antara darah yang mengalir di bumi dengan asupan kepada penguasa langit. Bahkan, daging kurban tidak dipersembahkan sebagai sesajen, tetapi diberikan kepada yang membutuhkan, yaitu fakir dan miskin, sebagai wujud dari kepedulian sosial yang mendalam.
Ma'asyiral muslimin jemaah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Idul Adha mengajarkan kita bahwa pengorbanan yang sesungguhnya bukan hanya terlihat dalam bentuk hewan yang disembelih, tetapi lebih kepada keikhlasan hati, ketulusan niat, dan kepedulian kita terhadap sesama.
Hari ini adalah kesempatan untuk merenung dan memperbaiki diri. Setiap tetes darah yang mengalir dari hewan kurban kita, sesungguhnya adalah simbol pengorbanan spiritual, yang harus diikuti dengan pengorbanan dalam bentuk tindakan nyata yang membawa manfaat bagi umat. Kepedulian sosial bukan hanya sebuah pilihan, tetapi menjadi tanggung jawab kita sebagai umat yang bertakwa.
Semoga setiap pengorbanan kita hari ini diterima oleh Allah, dan menjadi amal yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Mari kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai awal dari perbaikan diri, untuk menjadi umat yang lebih bertakwa, peduli terhadap sesama, dan senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama makhluk-Nya.
جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُولِينَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. آمِينَ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Oleh: Ustadz Muhammad Rizky Fadillah, Penulis Keislaman NU Online Jombang, Alumni Ma'had Aly Tebuireng
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama Jombang
Khutbah Idul Adha 2026 #9: Jalan Iman yang Menuntun Akal
Khutbah Pertama
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
نَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوا بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْقَائِمُ بِأَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالشُّكْرِ وَهَذَا الدِّيْنِ مَتِيْنٌ فَأَوْثِقُوْا عُرَاهُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
فَأَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin jama'ah sholat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Dengan kasih sayang dan karunia-Nya yang tak terhingga, kita kembali dipertemukan di pagi yang mulia ini-hari yang insya Allah penuh berkah, penuh makna, dan penuh syukur. Hari Idul Adha 1446 H, hari raya umat Islam kedua setelah Idul Fitri.
Alhamdulillah, dengan izin Allah, kita semua dapat hadir di tempat ini dalam keadaan sehat, damai, dan dalam limpahan nikmat yang tak terhitung dalam rangka menunaikan salah satu sunnah mulia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: merayakan Idul Adha dan menunaikan ibadah udhiyah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah, dimulai hari ini, kemudian dilanjutkan 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, insya Allah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, suri teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan.
Semoga pula tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang setia mengikuti jalan hidup beliau hingga hari akhir kelak.
Ma'asyiral muslimin, jemaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1446 H memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan, serta membuat kita semua berkumpul di tempat ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka.
Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar dan anaknya Nabi Ismail. Mari kita bayangkan, bahwa lebih dari 4.000 tahun lalu tiga manusia agung itu (Ibrahim, Hajar dan Ismail) berjalan kaki sejauh lebih dari 2.000 km (atau sejauh Makassar-Jakarta) dari negeri Syam (yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Yordania dan Lebanon) menuju jazirah tandus, Makkah al-Mukarramah.
Bayangkan, bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa. Bagaimana pula Ka'bah yang pada awalnya hanya dithawafi oleh tiga manusia agung itu. Hingga hari ini, jutaan manusia mengunjungi kota Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, dan mereka berasal dari berbagai penjuru dunia.
Jika kita buka lembar sejarahnya, Mekkah pada zaman Nabi Ibrahim adalah padang tandus yang panas, gersang, dan sepi tanpa penghuni. Kondisinya tergambar dalam doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Ibunda Hajar dan Nabi Ismail:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلُوةَ فَاجْعَلْ أَفْدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki lah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Perayaan Idul Adha yang kita laksanakan hari ini sejatinya bukan hanya rutinitas tahunan yang selalu dilewati tanpa makna. la adalah pengingat yang memanggil memori ingatan kita pada peristiwa ribuan tahun yang lalu. Peristiwa yang menjadi penentu arah masa depan peradaban manusia.
Untuk apa? untuk kita ambil pelajaran penting tentang arti sebuah pengorbanan.
Sebuah pengorbanan dari tiga manusia agung, Nabi Ibrahim, istrinya yaitu Ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail. Pengorbanan yang melampaui batas nalar akal manusia.
Dalam pengorbanan ini ada pergulatan antara hati dan logika. Antara keinginan pribadi dan kepatuhan kepada perintah Allah subhanahu wa ta'ala.
Mari kita bayangkan sekali lagi, bagaimana mungkin seorang bapak diperintah untuk menyembelih anaknya? Akal sehat mana di dunia ini yang membenarkan perbuatan itu. Hati nurani mana yang tidak tersentak dan menggigil membayangkan sebuah peristiwa aneh dan janggal tersebut.
Kata Nabi Ibrahim kepada anaknya:
قَالَ يُبُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
"(Yaa bunayya -panggilan sayang) Wahai Anakku sayang, tadi malam Ayah bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih dirimu, apa pendapatmu, Nak?'
Awal menerima perintah itu Nabi Ibrahim ragu-ragu, namun mimpi itu terulang sebanyak tiga kali, dan akhirnya beliau benar-benar yakin bahwa itu adalah perintah dari Allah.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam di satu sisi mengimani bahwa mimpi menyembelih anaknya adalah kebenaran wahyu, tapi di sisi lain, dia akan melihat anaknya terputus urat lehernya disembelih oleh tangannya sendiri.
Betapa getirnya perasaan itu, membayangkan tubuh kecil yang pernah dipeluk dalam rindu dan dijaga dengan penuh kasih sayang, kini harus ia rebahkan sendiri ke tanah, lalu mengayunkan pisau ke lehernya.
Ini ujian tidak hanya menantang akal sehat, tetapi juga mengguncang hati manusia paling kuat sekalipun.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Tapi akhirnya Nabi Ibrahim memenangkan keimanannya. Betapa pun tidak masuk di akal perintah itu, dia hiraukan. Siapapun yang menolak, bahkan setan sekalipun, akan beliau lawan demi menjalankan perintah Allah tersebut.
Apa kira-kira respons Nabi Ismail ketika disampaikan padanya perintah tersebut?
قَالَ يَابَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ
"Ayah, kerjakan apa yang Allah perintah kepada Ayah, Insya Allah aku sabar dengan perintah itu." Tidak ada sedikitpun bantahan, tidak ada keberatan, kalau itu perintah Allah, apapun konsekuensinya harus dilaksanakan.
Ini bukan sekedar ketaatan biasa. Ini adalah puncak dari pemahaman tentang hidup dan makna pengabdian. Bagi Nabi Ismail, hidup bukan mutlak milik dirinya. Hidup adalah titipan, jika Sang Pemilik memintanya kembali maka tidak ada alasan untuk tidak menyerahkannya.
Kepasrahan Nabi Ismail adalah cermin dari jiwa yang telah merdeka dari rasa memiliki, dan benar-benar berserah kepada kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan karena takut dan pasrah, tapi karena Nabi Ismail paham betul, ini adalah perintah Allah, dan perintah ini harus dikerjakan apapun resikonya, termasuk jika dengan itu nyawa sendiri harus menjadi taruhannya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Lalu ketika perintah untuk menyembelih Nabi Ismail disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada istrinya ibunda Hajar, bayangan kita, kira-kira apa reaksinya?
Reaksi normal seorang dari ibu yang begitu mencintai buah hatinya. Buah hati yang kehadirannya ditunggu dengan penuh harap dalam penantian yang panjang. Dalam munajat penuh cucuran air mata di malam-malam sepi. Karena berharap betul dikarunai Allah seorang keturunan shaleh.
Reaksi wajar ibunda Hajar pasti akan menganggap suaminya tidak waras. Tapi kejadian itu tidak pernah tertulis oleh tinta emas sejarah. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ibunda Hajar ridha dengan perintah itu. Dengan sepenuh hati, ia mempersilakan sang suami untuk melaksanakan perintah Allah menyembelih sang buah hati.
Urusan gejolak yang membuncah di lubuk hati tak perlu ditanyakan, Ibunda Hajar juga manusia, seorang ibu sebagaimana ibu-ibu pada umumnya. Banjir linangan air mata, sesak di dada, tentu juga dirasakan.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Namun pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih, Allah menggantinya dengan seekor domba, yang kemudian menjadi bagian dari syari'at Islam berupa kurban yang dilaksanakan setiap tahunnya pada hari Idul Adha. Seperti yang akan kita laksanakan insya Allah.
Perintah itu ternyata hanya ujian keimanan bagi Nabi Ibrahim, ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail 'alaihissalam. Tiga manusia agung itu lulus dari ujian. Ujian demi ujian, cobaan demi cobaan dilewati dengan sepenuh keyakinan dan keimanan.
Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Salah satu pelajaran besar dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihis-salam adalah bahwa dalam perkara ibadah, spirit utamanya adalah iman (ketundukan).
Bukan untuk dipertanyakan logikanya, atau ditimbang-timbang hikmah dan maslahatnya, jika terlihat ada manfaat, dijalankan, jika tidak, ditinggal. Seperti itu bukan ruh ibadah yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ibadah justru akan kehilangan makna apabila dasarnya hanya logika atau perhitungan manfaat.
Memang benar, setiap perintah Allah sarat dengan hikmah dan maslahat. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah,
فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسَهَا عَلَى الْحُكْمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا وَرَحْمَةً كُلُّهَا، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا
"Sesungguhnya syariat itu dibangun dan didasarkan atas dasar hikmah dan kemaslahatan bagi para hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Syariat secara keseluruhan adalah keadilan, rahmat, kebijaksanaan, dan maslahat."
Namun demikian, tidak semua hikmah selalu dapat dijangkau oleh akal manusia. Ada kalanya perintah Allah tampak "ganjil" di mata logika, tetapi justru di situlah letak ujian keimanannya.
Misalnya, Shalat; kenapa harus lima waktu? Kenapa jumlah rakaatnya berbeda-beda? Kenapa juga harus menghadap kiblat, padahal Allah Maha Melihat ke mana pun arah kita?
Puasa, kenapa menahan makan, minum, dan syahwat di siang hari, padahal itu semua halal di waktu lain?
Kemudian Thawaf, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam-apa rahasianya, kenapa harus seperti itu?
Demikian pula, dengan penyembelihan hewan kurban, kenapa harus menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu, dan tidak pada waktu yang lain? Dan lain sebagainya.
Semua ini tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh akal. Tapi sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap ibadah memiliki makna yang dalam dan dampak yang besar dalam kehidupan, meskipun tak selalu tampak di permukaan. Karena itu, sikap terbaik seorang hamba adalah tunduk dan yakin, bahwa setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan, meski belum kita pahami sepenuhnya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin sidang sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Lalu, di mana letak fungsi akal? Bukankah akal juga merupakan anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia sebagai pembeda dari makhluk lainnya?
Menarik untuk menyimak apa yang disampaikan oleh Imam asy-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat, jilid 2, hlm. 513:
الْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمُكَلَّفِ التَّعَبُدُ دُونَ الالْتِفَاتِ إِلَى الْمَعَانِي، وَأَصْلُ الْعَادَاتِ الْأُلْتِفَاتُ إِلَى الْمَعَانِي
"Hukum asal dalam ibadah bagi seorang mukallaf adalah bersifat ta'abbudi (murni penghambaan), tanpa memperhatikan makna-makna (rasional) nya. Sedangkan hukum asal dalam kebiasaan (muamalah dan adat) adalah memperhatikan makna dan tujuan yang terkandung di dalamnya."
Di sini, Imam asy-Syathibi menjelaskan dengan jelas hubungan antara iman dan akal. Dalam urusan tata interaksi sosial serta relasi antar manusia, akal memang penting. Dalam hal ini, bahkan umat Islam dituntut untuk mendayagunakan secara maksimal akalnya untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Jika tidak, maka umat akan tertinggal dan hanya menjadi bulan-bulanan peradaban lain.
Lihatlah kemajuan pesat ilmu pengetahuan teknologi hari ini. Jauh berbeda dengan apa yang ada di zaman Nabi. Ambil contoh, penggunaan internet untuk menyebarkan dakwah, aplikasi seluler Al-Qur'an, atau kemajuan di bidang kedokteran yang menyelamatkan banyak nyawa.
Apakah semua inovasi itu dilarang dalam Islam? Tentu saja tidak sama sekali, bahkan sangat dianjurkan dengan tetap memperhatikan aturan Islam. Umat ini sangat membutuhkan individu-individu yang menguasai teknologi dan sains agar tidak hanya menjadi konsumen pasif di tengah derasnya arus peradaban, melainkan menjadi agen perubahan dan kontributor.
Namun demikian, sekali lagi, dalam konteks ibadah, fondasi utamanya adalah iman. Dengan kata lain, akal berfungsi untuk memahami kehidupan, sedangkan iman berperan dalam menundukkan diri sepenuhnya dalam pengabdian.
Oleh karena itu, pada momentum bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini, marilah kita belajar menempatkan iman dan akal secara proporsional.
Dalam ibadah, iman seyogyanya harus di garda terdepan, sementara akal mengikuti dari belakang dan menopangnya. Hal ini dikarenakan tidak semua perintah Allah dapat dipertimbangkan dengan logika, seperti yang terbukti pada perintah Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim.
Mari gunakan akal untuk memahami, tapi jangan menjadikan akal sebagai syarat untuk taat kepada syari'at. Karena iman yang sejati adalah ketika kita tetap tunduk pada syariat, meski hikmahnya belum dipahami. Wallahu a'lam bishawab.
Demikian Khutbah Idul Adha 1446 H pada kesempatan mulia ini.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ والذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمِ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ (۳) اللهُ أَكْبَرُ (٤) اللهُ أَكْبَرُ كبيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهُ بُكْرَةً وَ أَصْيْلا
لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرْ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي وَكَفَى وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًاء اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عِبَادَ اللَّهِ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَقِرَاءَتَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَسْبِيحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَمْجِيْدَنَا وَتَحْمِيْدَنَا وَخُشُوْعَنَا يَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرٍ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنِ
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرٍ
Sumber: Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah
Khutbah Idul Adha 2026 #10: Ketika Pengorbanan Menjadi Jalan Surga
Khutbah Pertama
الخطبة الأولى
اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ.
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ هُذَا الْيَوْمَ عِيدًا لِلْمُسْلِمِينَ، وَجَعَلَ عِبَادَةَ الْحَجِّ وَعِيدَ الْأَضْحَى مِنْ شَعَائِرِ اللهِ، وَإِحْيَاءَهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ، بَشِيرًا وَنَذِيرًا ، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَعْدَ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: إِنَّ ابْرَهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتَا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali dipertemukan dengan hari yang agung ini, hari pengorbanan, hari Idul Adha.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, teladan agung sepanjang zaman, yang hidupnya adalah pengorbanan, wafatnya adalah keteladanan, dan ajarannya adalah jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Hadirin jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Pada hari yang penuh takbir ini, kita tidak hanya merayakan sebuah ritual penyembelihan hewan kurban. Kita sedang membuka kembali lembaran sejarah iman yang panjang, yang dimulai dari seorang hamba pilihan Allah, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Allah SWT berfirman:
إِنَّ ابْرَهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتَا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۱۲۰
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (teladan) yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik." (Q.S. An-Nahl: 120)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukan hanya seorang nabi, tetapi imam bagi umat manusia dalam ketauhidan dan pengorbanan. Beliau berdiri teguh mempertahankan iman di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kemusyrikan. Ketika manusia tunduk kepada berhala dan kekuasaan dunia, Nabi Ibrahim justru mengajarkan keberanian untuk hanya tunduk kepada Allah SWT. Karena itulah Allah menjadikan beliau sebagai role model bagi manusia, sosok panutan lintas zaman yang jejak perjuangannya terus dikenang hingga hari ini.
Ibrahim dan Ujian di Tengah Kekuasaan Namrud.
Nabi Ibrahim hidup di tengah kekuasaan seorang raja zalim bernama Namrud, yang mengaku dirinya tuhan. Dalam suasana seperti itu, Ibrahim berdiri sendiri membawa satu kalimat yang mengguncang kekuasaan dunia: La ilaha illallah. Beliau tidak membawa pasukan, tidak membawa senjata, tetapi membawa kebenaran. Allah menggambarkan keberanian Nabi Ibrahim dalam berdialog dengan kaumnya:
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
"Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat sendiri?" (QS As-Saffat: 95)
Akibat keberaniannya, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api. namun Allah berfirman:
يُنَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلْمًا عَلَى ابْرِهِيمُ
"Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim." (QS Al-Anbiya: 69)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Inilah pesan pertama Idul Adha: kebenaran tidak selalu menang secara logika manusia, tetapi selalu menang dengan pertolongan Allah. Hari ini, mungkin kita tidak lagi melihat Namrud dalam wujud seorang raja yang duduk di singgasana, tetapi kita menyaksikan "Namrud-Namrud" baru hadir dalam berbagai bentuk kehidupan. Ada kekuasaan yang disalahgunakan untuk menindas dan memperkaya diri, jabatan yang diagungkan seolah menjadi ukuran kemuliaan manusia, uang yang diperlakukan seperti tuhan yang menentukan benar dan salah, serta hawa nafsu yang ditaati melebihi perintah Allah SWT.
Tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan kejujuran demi jabatan, menggadaikan amanah demi kekayaan, bahkan melupakan halal dan haram demi kepentingan duniawi. Ketika kekuasaan membuat seseorang sombong, ketika harta melahirkan keserakahan, dan ketika nafsu mengalahkan hati nurani, maka sesungguhnya semangat Namrud sedang hidup kembali dalam diri manusia modern.
Keluarga Ibrahim: Ujian di Padang Tandus.
Setelah ujian api, Ibrahim melanjutkan perjalanan iman bersama Siti Hajar dan Ismail. Allah SWT menceritakan keteguhan keluarga ini dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ .
"Ya Rabb kami, aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanaman..." (Q.S. Ibrahim: 37)
Bayangkan, seorang ibu ditinggalkan di sebuah lembah tandus yang sunyi, tanpa sumber air, tanpa pepohonan, tanpa manusia, dan tanpa jaminan kehidupan. Di hadapannya hanya hamparan padang gersang dan panas yang membakar. Di pelukannya ada seorang bayi kecil, Ismail, yang menangis kehausan. Dalam keadaan seperti itu, siapa yang tidak takut? Siapa yang tidak cemas? Namun Siti Hajar menunjukkan kekuatan iman yang luar biasa. Ia tidak tenggelam dalam putus asa, karena hatinya yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya, sebagaimana Allah abadikan:
إنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَابِرِ اللَّهِ
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah..." (QS Al-Baqarah: 158)
Kisah Siti Hajar ini mengajarkan kepada kita bahwa tawakal bukan berarti diam menunggu mukjizat. Tawakal adalah bergerak, berusaha, berikhtiar semaksimal mungkin sambil tetap menggantungkan hati sepenuhnya kepada Allah. Kadang pertolongan-Nya datang bukan ketika kita menyerah, tetapi ketika kita terus melangkah dalam keyakinan dan kesabaran. Dari usaha seorang ibu yang tampak mustahil itu, Allah mengeluarkan air Zamzam. Rasulullah SAW bersabda:
عَيْنًا مَعِينًا يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ - أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ - لَكَانَتْ زَمْزَمُ
"Semoga Allah merahmati ibu Ismail, seandainya ia meninggalkan Zamzam, maka Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir." (HR Bukhari)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Hadirin yang dirahmati Allah.
Di sini kita belajar: air mata perjuangan tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Jika kita melihat Indonesia hari ini, berapa banyak keluarga yang berjuang dalam kesempitan ekonomi, ketidakpastian hidup, dan tekanan sosial, maka kisah Hajar adalah cermin bahwa harapan tidak boleh mati, meski dunia terasa tandus.
Puncak Pengorbanan: Perintah Menyembelih Ismail.
Ujian terbesar Nabi Ibrahim datang ketika Allah memerintahkannya untuk mengorbankan putra yang sangat ia cintai, Nabi Ismail 'alaihis salam. Perintah itu bukan sekadar ujian biasa, tetapi ujian tentang cinta, keikhlasan, dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Setelah sekian lama menanti kehadiran seorang anak, justru anak itulah yang diminta untuk dikorbankan di jalan Allah. Namun Nabi Ibrahim tidak membantah, tidak menunda, dan tidak meragukan perintah Tuhannya:
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
"Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu." (QS As-Saffat: 104-105)
Perintah itu adalah menyembelih Ismail, anak yang telah lama dinanti. Namun yang luar biasa, tidak ada penolakan. Ismail berkata:
يَابَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِينَ
"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Q.S. As-Saffat: 102)
Ketika keduanya berserah diri, Allah menggantinya dengan sembelihan besar:
وَفَدَيْنَهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
"Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar." (QS As-Saffat: 107)
Dari peristiwa ini kita belajar bahwa setiap orang memiliki "Ismail" dalam hidupnya sesuatu yang sangat dicintai, dibanggakan, dan sulit dilepaskan. Bisa berupa harta, jabatan, popularitas, ego, bahkan keinginan duniawi. Idul Adha mengajarkan bahwa seorang mukmin harus siap mengorbankan apa pun yang menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Sebab keimanan sejati lahir ketika cinta kepada Allah menjadi yang paling utama di atas segalanya.
Dari peristiwa inilah ibadah kurban disyariatkan. Rasulullah SAW bersabda:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّم
"Tidak ada amalan manusia pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban." (HR. Tirmidzi)
Namun beliau juga menegaskan:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darahnya, tetapi yang sampai adalah ketakwaan kalian." (QS Al-Hajj: 37)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.
jemaah yang berbahagia.
Kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi sebuah pelajaran besar tentang penyucian hati dan penghambaan kepada Allah SWT. Di balik tetesan darah kurban, ada pesan agar manusia belajar menyembelih kesombongan yang membuat diri merasa paling benar, menyembelih ego yang selalu ingin diutamakan, menyembelih kerakusan yang tidak pernah merasa cukup, serta menyembelih cinta dunia yang berlebihan hingga melalaikan akhirat.
Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan sejati bukan hanya apa yang keluar dari tangan kita, tetapi juga apa yang berhasil kita keluarkan dari hati kita. Sebab banyak orang mampu menyembelih hewan kurban, tetapi belum tentu mampu menyembelih hawa nafsunya sendiri.
Haji Wada': Pesan Terakhir Rasulullah.
Perjalanan ini mencapai puncaknya pada Haji Wada'. Di Padang Arafah, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ ، كَحْرُمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci sebagaimana sucinya hari ini..." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
لَا فَضْلَ لِعَرَبِي عَلَى تَجَبِي، وَلَا لِعَجَمِي عَلَى عَرَبِي، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ ، إِلَّا بِالتَّقْوى
"Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, tidak ada keutamaan kulit putih atas hitam, kecuali dengan takwa." (H.R. Ahmad)
Haji Wada' adalah penegasan bahwa Islam telah sempurna:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ .
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu..." (QS. Al-Ma'idah: 3)
Refleksi untuk Indonesia Hari Ini.
Hadirin jemaah Idul Adha, rahimakumullah.
Hari ini kita hidup di sebuah negeri yang dianugerahi Allah dengan kekayaan yang luar biasa. Tanahnya subur, lautnya luas, dan sumber daya alamnya melimpah. Semua itu adalah nikmat besar yang seharusnya melahirkan rasa syukur, persatuan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Namun di balik segala anugerah tersebut, bangsa ini juga sedang menghadapi berbagai ujian yang tidak ringan.
Kita masih menyaksikan ketidakadilan, hak sebagian masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi. Berita tentang korupsi masih terus terdengar, merusak kepercayaan, menggerogoti amanah, dan melemahkan sendi-sendi keadilan. Di sisi lain, kesenjangan sosial masih terasa lebar; sebagian kecil hidup dalam kemewahan, sementara sebagian lainnya masih berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar.
Tidak hanya itu, kita juga sedang menghadapi krisis kejujuran dan menurunnya rasa tanggung jawab moral. Nilai amanah dan integritas sering kali tergeser oleh kepentingan sesaat. Banyak orang ingin menikmati hasil, tetapi enggan menjalani proses pengorbanan. Banyak yang menginginkan jabatan, tetapi tidak siap menjaga kejujuran. Banyak yang ingin kaya, tetapi melupakan amanah dan halal-haram dalam mencari harta.
Akibatnya, semangat pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama perlahan mulai memudar. Sikap individualisme semakin menguat, sementara rasa empati semakin menipis. Kita menyaksikan maraknya penyalahgunaan kekuasaan, rusaknya adab pergaulan, hilangnya rasa malu, hingga terjadinya pelecehan seksual yang melukai martabat manusia. Fenomena ini menjadi tanda bahwa sebagian manusia mulai kehilangan nilai takwa dan penghormatan terhadap sesama.
Di tengah situasi inilah keteladanan Nabi Ibrahim menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini. Ibrahim mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari pengorbanan. Kemuliaan tidak dibangun di atas kerakusan dan kesombongan, melainkan di atas keikhlasan, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, Idul Adha harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali nilai pengorbanan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Semangat kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih kesombongan, ego, kerakusan, dan hawa nafsu yang merusak kehidupan.
Semua ini menjadi cermin bagi kita bersama bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekayaan alam dan pembangunan fisiknya, tetapi juga dari sejauh mana nilai keadilan, kejujuran, amanah, dan pengorbanan benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakatnya. Sebab bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kemajuan materi, tetapi juga oleh akhlak dan ketakwaan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim, kesabaran Siti Hajar, dan ketaatan Nabi Ismail. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, memperkuat persaudaraan di antara kita, serta menjadikan negeri ini negeri yang dipenuhi keadilan, keberkahan, dan rahmat-Nya.
Khutbah Kedua
أَقُولُ قَوْلي هذا ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
الله أكبر (7)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيدًا لِلْمُسْلِمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتُ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا الدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Ya Allah, jangan biarkan kami pulang dari hari yang mulia ini membawa hati yang sama seperti sebelumnya. Ampunilah dosa-dosa kami yang kami sembunyikan maupun yang kami tampakkan. Jika hari ini adalah Idul Adha terakhir bagi kami, maka wafatkanlah kami dalam iman dan husnul khatimah.
Ya Allah, kami punya banyak dosa, tetapi kami juga punya harapan besar kepada rahmat-Mu. Ada hati yang sedang lelah, ada jiwa yang sedang terluka, ada keluarga yang sedang diuji, dan ada air mata yang tak mampu diceritakan kepada siapa pun selain kepada-Mu. Maka kuatkanlah kami, tenangkan hati kami, dan jangan tinggalkan kami sendirian menghadapi hidup ini.
Ya Allah, pertemukan kami kelak di surga-Mu bersama Nabi Muhammad SAW, bersama kedua orang tua kami, keluarga kami, dan orang-orang yang kami cintai. Jangan jadikan dunia lebih besar di hati kami daripada akhirat-Mu. Terimalah ibadah dan kurban kami, serta jadikan kami hamba-hamba yang Engkau ridhai. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. ربنا آتنا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهُ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُ و الله العَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَر.
Oleh: Dr H Al Fitri SAg SH MHI
Sumber: Laman Direktorat Jenderal Badan Pengadilan Agama Mahkamah Agung RI
Khutbah Idul Adha 2026 Bahasa Jawa #11: Idul Adha Paring Paring Piwucal Anak Supados Bekti Dateng Tiyang Sepah
Khutbah Pertama
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ
اللَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ الفِطْرِ بَعْدَ صِيَامٍ رَمَضَانَ وَعْيدَ الْأَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، قال الله تعالى في القُرانِ العظيم بسم الله الرحمن الرحيم وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Alhamdulillah, monggo kito tansah muji syukur dhumateng Allah SWT, ingkang sampun paring nikmat iman, islam, saras lan kalodangan, sahingga kita saged nindaki sholat Idul Adha 1446 H sesarengan wonten ing mriki kanthi rahayu. Shalawat lan salam kito aturaken dhumateng junjungan kito Nabi Muhammad SAW, Nabi panutan kito, keluarganipun, poro sahabat lan poro penderekipun, mugi kito sedoyo kalebet umatipun ingkang pikantuk syafa'atipun ing akhirat samangke. Aamiin.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Ing dinten kang mulya punika, ngetingalaken peristiwa agung dateng kito sedoyo, nun inggih pengorbanan Nabi Ibrahim AS lan putranipun Nabi Ismail AS. Kados pundi Nabi Ismail AS, sanajan tasih enem, saget ndherek dhawuhipun romoipun kanthi patuh, tanpa nglawan, tanpo protes, malah ngendika:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"he bapak kulo, supados nindakake nopo ingkang diparintahake marang jenengan. Insya Allah, jenengan bakal nemokake kulo kalebu wong-wong sing sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Maknanipun: Nabi Ismail AS nampa perintah Allah liwat Nabi Ibrahim AS tanpo ngeluh, malah kanthi sabar lan ikhlas nurut perintah Allah).
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Peristiwa punika ngemutaken kito, bilih hubungan anak lan wong tuwa meniko dhasaripun iman lan taat marang Gusti Allah. Nanging sayang, ing jaman sakpunika, kathah tiyang enom utawi remaja ingkang kelangan rasa hormat dhumateng wong tuwané. Kados ta nglawan, ngucap kasar, ninggal sholat, lan ndemek narkoba, tawuran, nglanggar aturan.
Padahal Nabi Muhammad SAW sampun ngendika
رضا اللَّهِ فِي رِضا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
"Ridane Allah ana ing ridane wong tuwa, lan murka Allah ana ing murkane wong tuwa." (HR. Tirmidzi)
Maknaipun: Allah bakal ridha marang anak yen wong tuwané ridha. Yen wong tuwa duko, Allah uga duko
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Idul Adha nglairake semangat pengorbanan lan taqwa dumateg Allah SWT. Nanging kejawi saka punika, kita ugi sinau babagan pendidikan akhlak anak.. Anak-anak kita kaancam dening gadget, media sosial, sesrawungan lan pengaruh lingkungan sing ora becik. Mula, kito para wong tuwa kedah tansah ndidik, nuntun, lan maringi teladan kang apik.
Allah paring dawuh:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا
"Lan ingsun wus maringi pitutur marang manungsa supaya ngluhuraké wong tuwané kanthi becik." (QS. Al-Ahqaf: 15)
Pramilo poro jemaah, monggo kito gunakake momentum Idul Adha punika kanggé nambah kesadaran anak lan remaja supados uwih berbakti lan hormat marang wong tuwa, nguri-uri ajaran agama, lan adoh saka perbuatan maksiat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Lewat mimbar lan momentum meniko, ugo kita aturaken khususipun dateng poro pemuda pemudi remaja bilih pintu kesuksesan, kamulyan dunya lan akhirat, enten pangkat, rezeki, anak kang sholeh lan sholehah, lan keluargi kang ayem Tentrem nun inggih berbakti marang wong tuwa, utamane nalika wong tuwa sampun sepuh.
Allah SWT ngendika ing Al-Qur'an:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Lan Gusti siro wus marentah supaya siro aja nyembah kejaba marang Deweke lan supaya tumindak becik marang wong tuwamu." (QS. Al-Isra: 23)
Maknane: Allah marentahake menungsa supoyo ibadah mung marang Panjenengane, lan langsung disambung karo dhawuh supoyo bekti marang wong tuwa.
Rasulullah SAW Uga ngendika:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَيُزَادَ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Sapa wae sing kepengin dipanjangi umure lan diluwehake rejekine, pramilo supados bekti dateng tiyang sepah kaleh lan nyambung tali silaturahmi." (HR. Ahmad)
Tegesipun: Anak kang bekti marang wong tuwa, bakal diparingi berkah umure dawa, rejekine lancar lan uripe berkah. sanajan jaman pun maju lan modern, ajaran bekti marang wong tuwa sampun ngantos ilang. anak kang entuk gelar sarjana, pendamelan, gaji gede, nanging lali kaleh tiyang sepahe. Kadhang malah mboen purun merawat naliko sepuh, bakal nampi urip ingkang susah lan mboten berkah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Mugi kita minongko wong tuwa supados saget nuladani Kanjeng Nabi Ibrahim AS ingkang tansah sabar, sabar, lan sabar ndidik anak-anak kanthi akhlak lan agami ingkang sae.
Idul Adha punika mboten namung sekadar nyembelih sapi utawi wedhus. Nanging sejatiné yaiku pengorbanan lan taqwa kawujud ing tumindak nyata, kalebu ndidik anak kito sedoyo.
Mugi khutbah punika maringi manfaat, lan tansah ngelingake kita sedaya supados mbangun kulawarga kang penuh berkah, putra putri ingkang soleh solihah AAMIIN.
Khutbah Kedua
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ . بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ بِأَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرْ كبيرا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرْ وَاللَّهِ الْحَمْدُ الْحَمْدُ للهِ عَلَى اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلى رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ تَكُوْنُوْا عِنْدَهُ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ الْفَائِزِيْنَ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوا عَلَى خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ ، فَقَدْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الرَّبُّ الْكَرِيمُ فَقَالَ سُبْحَانَهُ قَوْلاً كَرِيْمًا: إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا وَأَعْلَمُوْا يَا إِخْوَانِي رَحِمَكُمُ اللهَ أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ الْعِيْدِ وَيَوْمُ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ،
فَاشْكُرُوا اللَّهَ تَعَالَى بِالتَّكْبِيرِ وَالتَّهْلِيْلِ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُورٌ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي
بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَانِ وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا انْدُونِيْسِيًّا خَاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْلَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَ الْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Oleh: Arifin, SHI (Penyuluh Agama Islam KUA Gondokusuman)
Sumber: Laman Kemenag Yogyakarta
Khutbah Idul Adha 2026 Bahasa Jawa #12: Nyembelih Roso Kepemilikan
Khutbah Pertama
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الحَمدُ لِلَّهِ مَلِكِ الْمَعْبُودِ الَّذِي يَمْقُتُ كُلَّ مُتَكَبِّرٍ وَحَسُودٍ ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَلِكٌ جَبَّارٌ قَهَّارٌ اَسْتَغْفِرُهُ وَاشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ذُو العَظَمَةِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ تَبَرَّأَ مِنْ صَاحِبِ الْحَسَدِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الأئِمَّةِ الْأطْهَارِ
اَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ ، وَاحْذَرُوا الْكِبْرَ هُوَ الَّذِي يُؤَدِّي إِلَى غَضَبِ العَزِيزِ الْجَبَّارِ قَالَ الله تعالى : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَلَا تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمُ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ( الاية ) - صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ
Hadirin jemaah Idul Adha rahimakumullah,
Monggo kito sareng-sareng ningkataken raos takwo dumateng Gusti Allah, takwo ingkang dipun buktiaken kaliyan ngelampahi sedoyo perintahipun lan nebihi sedoyo awisanipun kanti ikhlase penggalih serto ngajeng-ngajeng rohmat soho ridhonipun Gusti Allah Swt.
Shalawat serto salam tansah keaturaken dumateng Kanjeng Nabi ingkang sampun paring tupo tulodo kesaenan lan nuduhaken kito marang dalan ingkang padang lan dipun trisnani Gusti Allah. Gusti Allah sampun dawuh:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artosipun: Ngucapo siro (Muhammad marang kaum), lamun siro kabeh trisno marang Allah, lajeng ngenut siro kabeh marang ingsun, mongko Allah trisno marang siro kabeh lan ngapuro duso siro kabeh, Gusti Allah iku dzat akeh ngapuro lan welas asihe (Ali Imran: 31)
Ayat meniko negesaken bilih sinten kimawon ingkang ngaku trisno marang Gusti Allah, mongko kedah trisno marang Kanjeng Nabi Muhammad rumiyen. Amergi saking Kanjeng Nabi Muhammad meniko kito saget sumerap syariat agomo lan akhlak muliyo.
Jemaah Idul Adha ingkang sami minulyo,
Salah setunggale tindak lampah lan akhlak mulyo ingkang dipun ajaraken marang kito nggih meniko nyembeleh hewan kurban. Kanjeng Nabi Muhammad dawuh:
مَا عَمِلَ أَدَمِيٌ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلىَ اللّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأتِي يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأنَّ الدّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ اْلأَرْضِ فَطِيْبُوا بِهَا نَفْسًا
Artosipun: Ora ono ngamale anak putune Nabi Adam, ingdalem dino riyoyo kurban kang didemeni Gusti Allah ketimbang miliaken getih, yakni mbeleh hewan kurban. Saktemene, sesok ing dino Kiyamat, hewan-hewan kurban iku teko lengkap kanti sungune, wulune lan kuku-kukune. Saktemene, ganjarane kurban iku wis tumeko marang Allah sak durunge getihe hewan kurban iku netes tanah. Pramilo, podo mbagusono ati siro kabeh kanggo ngelakoni kurban. (HR. Imam Turmudzi, Ibn Majah).
Hadis niki dados tetenger amal kesaenan arupi nyembelih kurban niku kalebet ibadah taqarrub ilallah, lan ganjarane mbenjeng ing dinten kiamat bakal ditekani kaliyan hewan kurban kanti sempurno kedadiane. Bahkan getihe hewan kurban niki sakderenge dawah ing tanah, dusone tiyang kolowau sampun dipun ngapuro.
Jemaah Idul Adha Rahimakumullah
Nyembelih kurban niku sejatosipun nyembelih roso kepemilikan lan dados pengimut marang kito bilih sedoyo ing alam dunyo nggadahe Gusti Allah, bakal bali marang Gusti Allah. Kito kedah belajar ngikhlasaken barang ingkang kito miliki nalikane diutus maringaken marang liyan utawa dipun utus nyembeleh hewan. Tegese kito kedah ngalap tulodo saking keikhlasanipun Nabi Ibrahim nalikane diutus nyembeleh putrane piyambak, lajeng nalikone lading sampun dipun unus, dumada'an dipun gantos mendo.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
Artosipun: Semangsane wis tumeko (umur) iso mlaku bareng Ibrahim, Nabi Ibrahim dawuh, Hei anak ingsun, saktemene ingsun ningali ingdalem ngimpi, saktemene ingsun nyembeleh siro. Mongko pikiren koyok opo penemu siro.
Nabi Ismail matur:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artosipun: Duh Romoku, panjenengan tinda'aken nopo ingkang dipun perintahaken dumateng panjenengan. Insya Allah, panjenengan bakal manggihi kulo kalebet golonganipun tiyang ingkang sabar.
Pitakone Nabi Ibrahim marang Nabi Ismail meniko dados pepiling pentinge komunikasi antarane bopo lan anak. Langkung-langkung babakan manut marang perintahe agomo. Kekalihipun nggadah roso saling memiliki, trisno, ananging nalikane dipun utus Gusti Allah nyembeleh, sedoyone ikhlas, pasrah marang titahe Gusti Allah. Mboten ngersulo babar pisan.
Pramilo, sejatine Idul Adha niku riyayane tiyang ingkang nyembeleh roso kepemilikan lajeng dipun gantos keikhlasan marang Gusti Allah, sedekah, taqarrub ilalLah, tanpo wonten kekarep lintune. Mugi-mugi kito sedoyo saget neladani kisah Nabi Ibrahim lan Nabi Ismail ingdalem keikhlasane manut marang perintah agomo, sehinggo saget ngelepas roso kepemilikan.
جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ مِنَ الْفَائِزِينَ الأَمِنِيْنَ وَادْخَلْنَا وَإِيَّاكُمُ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ . أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إصْلَاحِهَا . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَانْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah Kedua
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ تَكُوْنُوْا عِنْدَهُ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ الْفَائِزِيْنَ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلىَ خَاتَمِ النَّبِيّيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ ، فَقَدْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الرَّبُّ الْكَرِيْمُ فَقَالَ سُبْحَانَهُ قَوْلاً كَرِيْمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا .وَاْعلَمُوْا يَا إِخْوَانِي رَحِمَكُمُ اللهَ أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ اْلعِيْدِ وَيَوْمُ اْلفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ، فَاشْكُرُوا اللهَ تَعَالَى بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ، فَقَالَ اللهَ تَعَالَى جَلَّ جَلاَلُهُ عَلِيْمًا، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ،وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Oleh: Ahmad Karomi
Sumber: NU Online Jatim
(alk/alk)










































