Puasa Muharram Berapa Hari? Simak Anjuran dan Jadwal Pelaksanaannya

Puasa Muharram Berapa Hari? Simak Anjuran dan Jadwal Pelaksanaannya

Urwatul Wutsqaa - detikSulsel
Sabtu, 13 Jun 2026 22:15 WIB
Ilustrasi bulan Muharram.
Ilustrasi bulan Muharram (Foto: Gemini AI)
Makassar -

Bulan Muharram merupakan satu dari empat bulan haram dalam Islam yang memiliki kedudukan istimewa. Pada bulan ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah, termasuk puasa.

Puasa pada bulan Muharram memiliki keistimewaan tersendiri dari puasa sunnah pada waktu-waku lainnya. Dalam sebuah hadits bahkan disebutkan bahwa puasa Muharram adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim berikut:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR Muslim nomor 1163, dari Abu Hurairah)[1]

ADVERTISEMENT

Puasa Muharram Berapa Hari?

Dua puasa sunnah yang paling utama di bulan Muharram adalah puasa Tasu'a dan Asyura. Puasa Tasu'a dilaksanakan pada 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura menjadi puasa yang paling utama dikerjakan pada 10 Muharram.

Anjuran puasa Asyura sendiri diterangkan oleh Abu Qotadah Al Anshoriy dalam hadits berikut:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: "Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa 'Asyura? Beliau menjawab, "Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim nomor 1162)

Dalam pelaksanaannya, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya berpuasa pada Hari Asyura saja, tetapi juga sehari sebelumnya, yakni pada Hari Tasu'a. Hal ini dilakukan untuk membedakan umat Islam dengan kaum Yahudi yang juga mengangungkan Hari Asyura.

Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ketika Nabi Muhammad SAW melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

Artinya: "Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani."

Kemudian Rasulullah SAW mengatakan:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Artinya: "Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan."

Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Artinya: "Belum sampai tahun depan, Nabi SAW sudah keburu meninggal dunia." (HR Muslim nomor 1134)

Berdasarkan hadits di atas, para ulama seperti Imam Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa dianjurkan untuk berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10 Muharram sekaligus. Sebab, Nabi SAW telah berpuasa pada hari kesepuluh dan berkeinginan untuk menambah puasa pada hari kesembilan.[1]

Selain itu puasa Tasu'a dan Asyura, terdapat pula pendapat yang menyebutkan bahwa umat Islam juga disunnahkan berpuasa pada 1 dan 11 Muharram. Anjuran berpuasa pada 1 Muharram disebutkan dalam hadits Nabi SAW berikut:

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berpuasa pada hari akhir Dzulhijjah dan awal Muharram, niscaya Allah ampunkan segala dosa-dosanya, walaupun selama lima puluh tahun melakukannya." (HR Ibnu Abbas)

Sementara itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan beberapa ulama lain berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa pada tanggal 11 Muharram. Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Berpuasalah pada hari Asyura dan berbedalah dengan kaum Yahudi, dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya." (HR Ahmad)[2]

Berdasarkan penjelasan tersebut, puasa di bulam Muharram yang dianjurkan ada 4 hari, yakni puasa pada tanggal 1 Muharram, Tasua, Asyura, dan 11 Muharram.

Jadwal Puasa Sunnah Bulan Muharram

Merujuk pada kalender Hijriah yang disusun Kementerian Agama RI, berikut jadwal puasa bulan Muharram dalam penanggalan kalender Hijriah dan Masehi:

  • Puasa 1 Muharram: Selasa, 16 Juni 2026
  • Puasa Tasua (9 Muharram 1448 H): Rabu, 24 Juni 2026
  • Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026
  • Puasa 11 Muharram: Jumat, 26 Juni 2026

Puasa Sunnah Lainnya di Bulan Muharram

Selain 4 puasa sunnah yang dikhususkan pada bulan Muharram, terdapat pula puasa sunnah lainnya yang dapat dikerjakan pada bulan Muharram, yaitu puasa Ayyamul Bidh dan puasa Senin-Kamis.

Berikut ini jadwal puasa Ayyamul bidh dan Senin-Kamis sepanjang bulan Muharram 2026:

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Muharram 2026

  • Minggu, 28 Juni 2026 (13 Muharram 1448 H)
  • Senin, 29 Juni 2026 (14 Muharram 1448 H)
  • Selasa, 30 Juni 2026 (15 Muharram 1448 H)

Jadwal Puasa Senin Muharram 2026

  • 22 Juni 2026 (7 Muharram 1448 H)
  • 29 Juni 2026 (14 Muharram 1448 H)
  • 6 Juli 2026 (21 Muharram 1448 H)
  • 13 Juli 2026 (28 Muharram 1448 H)

Jadwal Puasa Kamis Muharram 2026

  • 18 Juni 2026 (3 Muharram 1448 H)
  • 25 Juni 2026 (10 Muharram 1448 H)
  • 2 Juli 2026 (17 Muharram 1448 H)
  • 9 Juli 2026 (24 Muharram 1448 H)

Demikianlah penjelasan mengenai jumlah hari yang dianjurkan berpuasa pada bulan Muharram. Semoga menjawab pertanyaan detikers!

Referensi:

1. Laman Rumaysho, "Anjuran Puasa Muharram"
2. Buku "Kalender Ibadah Sepanjang Tahun" karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid




(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads