4 Daerah di Sulteng Potensi Likuefaksi Akibat Gempa, Ini Sebarannya

Sulawesi Tengah

4 Daerah di Sulteng Potensi Likuefaksi Akibat Gempa, Ini Sebarannya

Syachrul Arsyad - detikSulsel
Minggu, 21 Jun 2026 19:30 WIB
Peta potensi likuefaksi di Sulteng yang dirilis Badan Geologi.
Foto: Peta potensi likuefaksi di Sulteng yang dirilis Badan Geologi. (dok. Istimewa)
Palu -

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap peta potensi likuefaksi pascagempa berkekuatan magnitudo (M) 6,7 di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebanyak 4 kabupaten dan kota di Sulteng rentan mengalami likuefaksi atau fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat guncangan gempa.

"Peta potensi likuefaksi menunjukkan beberapa wilayah memiliki peluang mengalami likuefaksi. Wilayah yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong dan juga sebagian Kabupaten Poso," kata Plt Kepala Badan Geologi Lana Sari dalam keterangannya dikutip, Minggu (21/6/2026).

Dari hasil analisis Badan Geologi, potensi likuefaksi di Sigi berpotensi terjadi di wilayah Nokilalaki, Danau Lindu, Gumbasa, Tanambulava, Dolo, Sigi Biromaru, Dolo Barat, Dolo Selatan dan Marawola.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara di Palu tersebar di wilayah Palu Selatan, Tatangan, Palu Timur, Palu Barat dan Ulujadi. Di Parigi Moutong meliputi daerah Parigi Selatan, Torue, Balinggi dan Sausu. Sementara di Poso di daerah Poso pesisir utara.

Lana mengemukakan, likuefaksi terjadi pada wilayah dengan struktur tanah tertentu. Fenomena ini berpotensi terjadi pada tanah berpasir jenuh air yang mengalami guncangan kuat.

ADVERTISEMENT

"Potensi bukan berarti pasti terjadi, tetapi menunjukkan perlunya kewaspadaan dan mitigasi. Kajian lebih rinci tetap diperlukan untuk menentukan tingkat risiko pada lokasi yang spesifik," tuturnya.

Badan Geologi hingga saat ini belum menerima informasi terkait terjadinya likuefaksi pascagempa M 6,7. Kendati begitu, peta potensi likuefaksi ini diharap menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Informasi potensi likuefaksi menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam upaya mitigasi dan penataan ruang ke depannya," ungkap Lana.

Badan Geologi sebelumnya juga mengungkap pengaruh struktur geologi yang rumit memperparah dampak kerusakan akibat gempa tektonik tersebut. Tanah yang lunak di beberapa wilayah juga menjadi faktor yang mempengaruhi.

"Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa susulan, menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," kata Lana.

Dia juga mengungkap gempa tersebut memicu dampak kerusakan yang cukup parah. Dampak kerusakan pada bangunan menunjukkan lokasi episenter berada dekat pemukiman penduduk.

"Disertai dengan kondisi tanah yang lunak, sehingga meningkatkan efek guncangan gempa bumi yang menimbulkan dampak kerusakan tersebut," imbuh Lana.

BNPB Pastikan Likuefaksi Sudah Lewat

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari juga mengaku tidak menerima laporan kejadian likuefaksi. Dia memastikan potensi likuefaksi sudah lewat pascagempa M 6,7 pada Selasa (16/6) lalu.

"Untuk potensi likuefaksi saat ini itu sudah lewat. Karena likuefaksi itu biasanya terjadi secara fisis itu pada saat gempa utama terjadi atau gempa dengan kekuatan cukup besar," kata Abdul Muhari saat konferensi pers, Rabu (17/6).

Dia mengaku gempa susulan memang masih terjadi pascagempa utama M 6,7. Kendati begitu, dia kembali menegaskan potensi terjadinya likuefaksi sudah berakhir.

"Karena gempa utama sudah lewat dan saat ini gempa susulan memiliki tren kekuatan baik itu intensitas dan frekuensi yang mulai meluruh, kami bisa sampaikan bahwa potensi terjadinya likuefaksi waktunya sudah lewat," jelasnya.




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads