Niat Puasa Asyura dan Qadha Ramadhan, Bagaimana Hukum Menggabungkannya?

Niat Puasa Asyura dan Qadha Ramadhan, Bagaimana Hukum Menggabungkannya?

Urwatul Wutsqaa - detikSulsel
Senin, 22 Jun 2026 22:15 WIB
Ilustrasi Puasa Zulhijah
Ilustrasi puasa (Foto: Hello Aesthe/Pexels)
Makassar -

Hari Asyura merupakan hari yang istimewa sehingga umat Islam dianjurkan untuk berpuasa pada hari tersebut. Menyadur buku Panduan Puasa oleh Fakhrizal Idris, pada Hari Asyura Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS beserta pengikutnya dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya.

Oleh karena itu, Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Dikutip dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ust Abdul Faqih Ahmad Abdul Wahid, dalam salah satu hadits Rasulullah dikatakan bahwa pahala puasa Asyura setara dengan pahala 10.000 orang berhaji.

Sebagaimana dalam hadits dari Ibnu Abbas bahwa:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka Allah SWT memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan, barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharram), maka ia diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah dan 10.000 pahala orang mati syahid. Barang siapa mengusap kepala anak-anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Barang siapa memberi makan kepada orang mukmin yang berbuka puasa di hari Asyura, maka seolah-olah ia memberi makan seluruh umat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka."

Lantas, bagaimana bacaan niat puasa Asyura dan Qadha Ramadhan? Apakah kedua puasa sunnah ini bisa digabung? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

ADVERTISEMENT

Apakah Puasa Asyura dan Qadha Ramadhan Boleh Digabung?

Menukil laman Nahdlatul Ulama, Imam Ar-Ramli (wafat 1004 H) dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj, menjelaskan terkait keabsahan menggabungkan dua niat puasa qadha dengan puasa sunnah.

وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - تَبَعًا لِلْبَارِزِيِّ وَالْأَصْفُونِيِّ وَالنَّاشِرِيِّ وَالْفَقِيهِ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيِّ وَغَيْرِهِمْ

Artinya: "Kalau seorang puasa qadha atau nazar di hari Asyura, maka dia mendapatkan pahala puasa sunnah Asyuranya juga, sebagaimana fatwa ayah kami (Sayamsudin Ar-Ramli) mengikuti fatwanya Al-Barizi, Al-Asfuni, An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Shalih Al-Hadrami dan selainnya." (Syihabbuddin ar-Ramli, Nihayatul Mujtaj [Bairut, Darul Fikr: 1984 H] juz III halaman 208).

Namun ada juga ulama lain yang berpendapat bahwa hukum menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa Asyura tidak sah. Imam Abdurrahman Baálawi (wafat 1320 H) dalam kitabnya, Bugyatul Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba'dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin.

ظاهر حديث : "وأتبعه ستاً من شوّال" وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان ، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء

Artinya: "Dzahir hadits "kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal" dan hadits-hadits lainnya mengindikasikan tidak tercapainya kesunnahan puasa enam hari di bulan Syawal jika diniatkan bersamaan dengan niat qadha Ramadhan. Akan tetapi Ibnu Hajar menjelaskan tentang dihasilkannya pahala sunah karena ia telah dianggap telah menyelesaikannya, jika ia meniatkannya termasuk juga puasa sunah lainnya seperti puasa sunah Arafah, Asyura dan lain-lain"

Pendapat itu didukung oleh Imam Ramli, berikut:

بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها ، ما لم يصرفه عنها صارف ، كأن قضى رمضان في شوّال ، وقصد قضاء الست من ذي القعدة ، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ.

Artinya: "Bahkan Imam Ramli menguatkan pendapat tentang dihasilkannya pahala semua puasa sunah yang diniatkan bersama puasa fardhu sekalipun tanpa diniatkan, selama tidak ada niat lain yang membelokkannya seperti seseorang berniat qadha Ramadhan di bulan Syawal dan berniat mengqadha puasa sunah Syawal pada bulan Dzulqadah. Dan disunnahkan berpuasa sunah Syawal, meskipun ia tidak puasa Ramadhan."

قلت : واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً ، كما لو نوى الظهر وسنتها ، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً

Artinya: "Aku berkata: "Imam Abu Makhramah mengikuti pendapat Imam as-Samanhudi memegang pendapat tidak tercapainya salah satu dari keduanya (kedua-duanya tidak sah) jika berniat dengan dua niat secara bersamaan. Sebagaimana seseorang yang berniat shalat dzhuhur sekaligus niat shalat sunahnya. Bahkan, beliau menegaskan tidak sah seseorang puasa sunah Syawal sementara ia masih memiliki tanggungan puasa qadha Ramadhan." (Sayyid 'Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba 'Alawi al-Hadhrami [Bairut, Darul kutub ilmiyah: 2012], halaman 235).

Niat Puasa Asyura

Niat puasa umumnya dibaca pada malam hari hingga sebelum terbut fajar. Namun, karena puasa Asyura merupakan puasa sunnah, maka niat puasa ini boleh dibaca pada pagi hari jika terlewat di malam harinya.

Berikut ini bacaan niat puasa Asyura malam dan pagi hari:

Niat Puasa Asyura Malam Hari

Berikut niat puasa Asyura yang dibaca pada malam-sebelum fajar yang dikutip dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُرَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.

Arab Latin: Naiwaitu shauma 'aasyura sunnatan lillaahi ta'aalaa.

Arti: Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala.

Niat Puasa Asyura Pagi Hari

Berikut niat puasa Asyura yang dibaca pada pagi hari yang dikutip dari laman Nahdlatul Ulama:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء أو عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnatit Tasû'â awil âsyûrâ lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Tasua atau Asyura hari ini karena Allah SWT."


Niat Puasa Qadha Ramadhan

Jika detikers ingin melaksanakan puasa qadha Ramadhan pada hari Asyura, maka niat yang dibaca adalah puasa qadha yang sama dengan niat puasa qadha pada hari-hari lainnya.

Berikut ini bacaan niat puasa qadha Ramadhan sebagaimana dikutip dari buku 'Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa' karya Nur Solikhin:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala."

Nah detikers, demikianlah penjelasan mengenai niat puasa Asyura dan Qadha Ramadhan. Semoga bermanfaat!




(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads