Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amalan baik. Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Tasua dan Asyura.
Puasa Tasua dilaksanakan pada 9 Muharram, yakni sehari sebelum puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Kedua puasa sunnah ini memiliki sejumlah keutamaan yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.
Melalui artikel ini, detikSulsel akan menyajikan keutamaan puasa Tasua dan Asyura beserta dalilnya agar detikers dapat memahami mengapa amalan tersebut dianjurkan. Disimak, yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura
Berikut adalah beberapa keutamaan puasa Tasua dan Asyura yang perlu diketahui umat Islam:
1. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW
Melaksanakan puasa Tasua dan Asyura merupakan salah satu cara menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Meskipun Nabi SAW belum sempat melaksanakan puasa Tasua, ia telah berniat sebagaimana sabdanya:
"Jika demikian, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah." (HR Muslim)[1]
Sementara itu, puasa Asyura menjadi salah satu amalan yang senantiasa dijaga oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعُ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ [رواه أحمد والنسائي]
Artinya: "Dari Hafshah RA, "Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW: puasa Asyura, puasa sepuluh hari [Dzulhijjah], puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum Subuh." (HR Ahmad dan an-Nasa'i)[2]
2. Berpuasa di Bulan Terbaik
Puasa Tasua dan Asyura termasuk amalan puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram. Puasa di bulan Muharram sendiri merupakan puasa yang paling utama setelah Ramadhan.
Keutamaan tersebut tidak terlepas dari kedudukan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah-Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR Muslim nomor 1163)[3]
3. Puasa Asyura Diampuni Dosa Setahun Lalu
Umat Islam yang melaksanakan puasa Asyura (10 Muharram) dipercaya akan dihapuskan dosa-dosanya selama setahun yang lalu. Dijelaskan dari Abu Qotadah Al Anshoriy, ia berkata:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمٍ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya: "Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, "Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim nomor 1162)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dosa yang diampuni melalui puasa Asyura adalah dosa-dosa kecil. Namun, ia juga menyebutkan bahwa dosa besar diharapkan dapat diringankan, dan amalan tersebut dapat meninggikan derajat seseorang.
Sementara itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa secara umum amalan seperti puasa Asyura dapat menjadi sebab terhapusnya setiap dosa.[3]
4. Puasa Tasua Sebagai Pembeda dengan Kaum Yahudi
Keutamaan puasa Tasua (9 Muharram) adalah sebagai pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi. Hal ini karena kaum Yahudi pada masa itu memiliki tradisi hanya berpuasa pada 10 Muharram (Asyura), sebagaimana diterangkan dalam riwayat berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ و وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمَ تُعَظِمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [رواه مسلم وأبو داود]
Artinya: "Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, "Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani." Rasulullah SAW bersabda, "Kalau begitu, insya Allah tahun depan kita berpuasa juga pada hari kesembilan." Namun, sebelum tahun depan tiba, Rasulullah SAW telah wafat." (HR Muslim dan Abu Dawud)[2]
Niat Puasa Tasua dan Asyura
Selain memahami berbagai keutamaannya, penting juga untuk mengetahui bacaan niat puasa Tasua dan Asyura sebelum melaksanakannya. Untuk memudahkan, berikut bacaan lengkap niat puasa Tasua dan Asyura:
Niat Puasa Tasua
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatit Tasuu'aa lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Tasu'a esok hari karena Allah SWT."
Niat Puasa Asyura
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatil aasyuuraa lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT."[4]
Demikianlah ulasan mengenai keutamaan puasa Tasua dan Asyura beserta dalilnya. Semoga bermanfaat ya, detikers!
Referensi
1. Buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya oleh Khalifa Zain Nasrullah
2. Laman Muhammadiyah 'Dalil-dalil Disyariatkannya Puasa Tasua dan Asyura'
3. Laman Rumaysho 'Keutamaan Puasa Asyura'
4. Laman Majelis Ulama Indonesia (MUI) 'Niat Puasa Tasua dan Asyura Lengkap dengan Keutamaan Melaksanakannya'
(alk/alk)
