83 Babi di Polman Mati Akibat Virus ASF, 4 Kecamatan Berisiko Tinggi Penularan

83 Babi di Polman Mati Akibat Virus ASF, 4 Kecamatan Berisiko Tinggi Penularan

Abdy Febriady - detikSulsel
Rabu, 01 Jul 2026 20:00 WIB
Petugas kesehatan hewan di Polman memeriksa hewan ternak babi imbas penularan virus ASF.
Foto: Petugas kesehatan hewan di Polman memeriksa hewan ternak babi imbas penularan virus ASF. (dok. Istimewa)
Polewali Mandar -

Sebanyak 83 ekor babi ternak di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) dilaporkan mati mendadak akibat diduga terjangkit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Pemerintah setempat telah menetapkan sejumlah desa dan kelurahan dari empat kecamatan sebagai wilayah berisiko tinggi penularan, yakni Binuang, Polewali, Matakali dan Tapango.

"Total mati 83 ekor. Dugaan mengarah ke Demam Babi Afrika atau African Swine Fever," kata Kepala UPTD Puskeswan Mapilli, drh Isnaini Bagenda melalui pesan singkat, Rabu (1/7/2026).

Virus menyerang ternak babi warga di Dusun Salupaku, Desa Indo Makkombong, Kecamatan Matakali. Pihak Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Provinsi Sulbar bersama Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros terjun ke lokasi untuk melakukan investigasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Investigasi kasus dilaksanakan bersama DTPHP Provinsi Sulbar dan BBVet Maros. Sampel diambil berupa organ, darah, swab hidung dan feses, hasil uji laboratorium keluar dalam waktu lima hari kerja," ungkap Isnaini.

Isnaini menjelaskan, dugaan penularan virus bermula ketika seekor babi yang didatangkan dari Kabupaten Mamasa dikandangkan bersama ternak babi warga di daerah ini, Rabu (3/6). Rencananya, babi tersebut akan disembelih untuk keperluan hajatan.

ADVERTISEMENT

"Ada babi hidup di bawa dari Mamasa untuk disembelih. Informasi warga memang sudah sakit pada saat tiba di Salupaku," ujarnya.

Beberapa hari kemudian, sejumlah babi mulai menunjukkan gejala tertular penyakit, Selasa (9/6). Namun kondisi tersebut awalnya belum dilaporkan kepada petugas. Kasus terungkap setelah salah seorang peternak melaporkan kematian seekor babinya yang sebelumnya mengalami gejala mirip mirip ASF, Selasa (23/6).

"Kasus diketahui setelah salah satu warga melaporkan kematian seekor ternak babi miliknya. Riwayat sakit beberapa minggu, keluar darah dari hidung dan anus tiga hari sebelum mati," terangnya.

Isnaini menuturkan, Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (Disbuntarnak) Polman telah mengeluarkan surat imbauan kewaspadaan terhadap penyebaran virus ASF. Khususnya pada beberapa wilayah yang memiliki populasi babi beresiko tinggi.

"Surat imbauan kewaspadaan ASF untuk kecamatan dan desa dengan populasi berisiko, di antaranya Desa Mammi di Kecamatan Binuang, Kelurahan Takatidung, Kelurahan Sulewatang dan Kelurahan Darma di Kecamatan Polewali, Desa Pasiang dan Desa Indo Makkombong di Kecamatan Matakali serta Desa Riso di Kecamatan Tapango," bebernya.

Selain itu, petugas juga melakukan pemberian obat, vitamin, serum ASF serta penyemprotan disinfektan di kandang-kandang ternak, sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit. Peternak juga diminta mengubur atau membakar bangkai babi untuk menghentikan rantai penularan penyakit.

"Langkah-langkah yang juga telah dilakukan berupa pemberian obat dan vitamin, pemberian serum ASF, peningkatan biosecurity dengan desinfeksi kandang. Termasuk mengimbau mengubur atau membakar bangkai babi untuk menghentikan mata rantai penularan penyakit," pungkas Isnaini.




(sar/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads