Masyarakat di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, masih hidup dalam ketakutan akibat gangguan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Warga terpaksa mengungsi ke hutan karena kerap dipalak OPM sebesar Rp 200 ribu tiap kepala keluarga (KK).
"Masyarakatnya masih sering diganggu pemalakan Rp 200 ribu per KK oleh OPM, sehingga masyarakat banyak kabur ke hutan, dan ada juga yang masih di hutan untuk mengungsi," kata Kepala Penerangan Koops TNI Papua, Letkol Inf Wirya kepada BeritaKlik, Jumat (20/3/2026).
Wirya mengatakan aksi OPM itu sudah dilaporkan warga ke pemerintah daerah (pemda). Satgas dari TNI kemudian turun tangan mengevakuasi kembali warga dari hutan setelah situasi aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah pemalakan warga melaporkan ke pihak pemda, dan pemda meminta bantuan ke satgas untuk membantu pengamanan dalam pelaksanaan evakuasi," tambah Wirya.
Terakhir, Koops TNI Papua telah mengevakuasi 21 warga yang selama ini mengungsi ke hutan. Mereka yang sempat mengungsi hidup dalam kekhawatiran akibat kerusuhan yang didalangi OPM pada 29 September 2022 silam.
Kala itu, puluhan anggota OPM menyerang pekerja proyek Jalan Trans Moskona Barat-Moskona Utara di Teluk Bintuni. Serangan pelaku mengakibatkan 4 pekerja proyek pembangunan jalan meninggal dunia.
"Kerusuhan tahun 2022 di Moskona Utara OPM ada bunuh karyawan pekerja jalan," imbuh Wirya.
Sebelumnya diberitakan, 21 warga dievakuasi di Dusun Topo, Kampung Ainesra, Distrik Aifat Timur Jauh, Maybrat, Selasa (17/3). Mereka selama ini bertahan di hutan perbatasan antara Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Teluk Bintuni.
Para pengungsi dijemput aparat gabungan TNI bersama pemerintah daerah serta tokoh masyarakat setempat. Tim Patroli Gabungan Koops TNI Papua melaksanakan evakuasi secara aman menuju Pos Komando Taktis (Kotis) Koops TNI Papua.
Setibanya di Pos Kotis, para pengungsi menjalani pemeriksaan kesehatan dan pendataan identitas guna memastikan kebutuhan masing-masing. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan lancar berkat sinergi TNI, pemerintah daerah dan masyarakat.
"Untuk sementara waktu, para pengungsi ditempatkan di lokasi penampungan di wilayah Distrik Aifat, sambil menunggu proses koordinasi lebih lanjut terkait pemulangan ke daerah asal, khususnya bagi warga dari Kabupaten Teluk Bintuni," jelasnya.
(sar/ata)
