Sebanyak 15 warga sipil dilaporkan tewas dalam insiden kontak tembak antara kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan TNI di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Jumlah tersebut berpotensi bertambah seiring proses pendataan dan penelusuran aparat di lapangan.
"Kami dapatkan 15 orang meninggal dunia akibat serangan di Kembru tersebut," kata Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, dilansir dari 20detik, Senin (20/4/2026).
Pigai menyebut data tersebut diperoleh setelah pihaknya mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan Pemprov Papua Tengah hingga Pemkab Puncak. Selain korban jiwa, dia juga mengungkapkan sejumlah warga mengalami luka-luka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian 7 orang luka-luka, dan mereka yang menjadi korban ini sedang dalam pendalaman, pencarian data, fakta, informasi, dan bisa mengalami perkembangan lebih lanjut," lanjutnya.
Sebelumnya diberitakan, operasi penindakan TNI terhadap OPM di Distrik Kembru, Puncak pada Selasa (14/4), menuai sorotan. Komnas HAM mengecam insiden yang menimbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
"Segala bentuk serangan terhadap warga sipil dalam situasi perang maupun selain perang yang dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara merupakan pelanggaran HAM dan hukum humaniter Internasional yang menyebabkan pelanggaran atas hak hidup dan hak atas rasa aman," kata Ketua Komnas HAM Anis Hidayah dalam keterangannya, Minggu (19/4).
Insiden kontak tembak antara TNI dan OPM itu memicu jatuhnya korban jiwa dari warga sipil dan membuat status wilayah Puncak ditetapkan sebagai tanggap darurat keamanan. Kebijakan ini berlaku selama 14 hari untuk mempercepat evakuasi dan pemulihan.
"Dalam masa tanggap darurat, fokus utama kami adalah mengidentifikasi seluruh korban, baik yang luka maupun yang meninggal dunia," kata Pj Sekda Puncak, Nenu Tabuni dalam keterangannya dikutip, Minggu (19/4).
Pemkab Puncak memastikan akan memfasilitasi pemakaman terhadap korban penembakan akan dilakukan secara adat. Pihaknya juga akan mendirikan tenda pengungsian bagi warga yang trauma.
"Tahap pemulihan dan pemulangan warga ke kampung halaman akan dilakukan setelah situasi dipastikan benar-benar aman," tegas Nenu.
(sar/hsr)










































