Miris Bullying Santri di Ponpes Takalar hingga Ustaz Diduga Ikut Menganiaya

Bullying di Pesantren Darul Umum Amiral Takalar

Miris Bullying Santri di Ponpes Takalar hingga Ustaz Diduga Ikut Menganiaya

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 26 Apr 2026 08:30 WIB
Kakak dan ibu Mustakim, Ridwan dan Suhartini menceritakan penganiayaan terhadap anaknya di Pesantren Darul Ulum Amiral Takalar.
Kakak dan ibu Mustakim, Ridwan dan Suhartini menceritakan penganiayaan terhadap anaknya di Pesantren Darul Ulum Amiral Takalar. Foto: (Saddam/detikSulsel)
Takalar -

Nasib malang dialami santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Amiral bernama Mustakim (16) di Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mustakim menjadi korban perundungan (bullying) temannya inisial L dan I, yang belakang diduga turut mendapat penganiayaan dari seorang ustaz inisial AH di pesantren tersebut.

kakak korban, Ridwan menceritakan insiden penganiayaan bermula ketika korban menegur rekannya berinisial I terkait jadwal piket kebersihan di kelas. Namun, pelaku I tidak terima disuruh hingga sempat terjadi adu mulut di antara keduanya.

I rupanya menyimpan dendam terhadap korban hingga merencanakan penganiayaan saat para santri berada di dalam kamar asrama yang dihuni delapan orang. Saat itu pelaku I diduga menghasut rekannya yang lain berinisial L untuk memukul korban di dalam kamar tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Korban yang diperlakukan tidak pantas lalu berupaya menyelamatkan diri dengan berlari turun ke lantai satu hingga keluar dari area pesantren. Korban sempat bertemu seorang warga yang melintas dan mencoba meminta pertolongan karena merasa terancam.

"Pas keluar pondok ada motor lewat. Dia (pengendara motor) bilang 'kenapa dek?', terus (korban) bilang 'mauka diborongi (dikeroyok) sama teman-temanku'," ujar Ridwan.

ADVERTISEMENT

Semula, warga yang melintas tersebut sempat ingin melindungi korban dengan mengaku sebagai pihak keluarga di hadapan ustaz AH. Hanya saja, AH justru mengusir warga tersebut lalu membawa korban masuk ke suatu ruangan di pesantren.

Alih-alih memberikan perlindungan, oknum guru AH diduga justru ikut melakukan penganiayaan terhadap santrinya sendiri. Korban mengaku dipukul hingga dibanting oleh AH.

"Nabantingi baru dia injak-injak baru dia tampar-tampar ini (kepala belakang bagian kiri) masuk," timpal ibu korban, Suhartini.

Korban Dianiaya Lagi Keesokan Harinya

Pihak pesantren kemudian menghubungi keluarga korban pada malam yang sama setelah kejadian penganiayaan. Namun, keluarga korban merasa janggal dengan alasan pihak pesantren yang menyebut korban mengalami kerasukan.

Keluarga pun langsung menjemput korban untuk dibawa pulang pada malam itu juga. Korban yang saat itu masih dalam kondisi trauma baru berani menceritakan aksi penganiayaan yang dialami setelah tiba di rumahnya.

"Kita bawa dia pulang ke rumah, baru dia cerita kalau dipukul sama temannya (dan ustaz)," imbuh Ridwan.

Keesokan harinya, pada 13 Desember 2025, keluarga M kembali mendatangi pesantren untuk meminta klarifikasi sekaligus menemani korban mengemas pakaiannya. Namun di tengah proses tersebut, korban justru kembali dianiaya oleh pelaku I saat sedang mengambil barang-barangnya di kamar asrama.

"Ternyata di lantai dua ada si pelaku I, pas turun (korban) berdarah hidungnya, lebam bawah matanya," kata Ridwan.

Keluarga Lapor Polisi-Dimediasi

Selanjutnya keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 18 Desember 2025, sebelum akhirnya dilimpahkan ke Polres Takalar. Namun, pihak pesantren berupaya menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.

Proses mediasi sempat menemui titik terang saat Polres Takalar mempertemukan keluarga korban dengan pihak pesantren bersama pelaku pada Jumat (10/4/2026). Dalam pertemuan itu, pihak keluarga merinci total biaya pengobatan medis korban yang telah mencapai Rp 30 juta.

Namun, harapan keluarga M untuk mendapatkan ganti rugi justru pupus tiga hari kemudian. Tepatnya pada Senin (13/4), pihak pesantren memberikan pernyataan tidak sanggup membayar biaya pengobatan korban.

"Tidak mau membayar, tidak mau tanggung jawab. Mau na bayar, tapi akhirnya iming-imingji. Itupi di hari Senin (menolak) karena tiga hari dikasih waktu (setelah dipertemukan)," sesal keluarga korban.

Keluarga Tanggung Biaya Pengobatan Sendiri

Ibu korban, Suhartini menyayangkan sikap pihak ponpes dan keluarga pelaku penganiayaan yang tidak bertanggung jawab atas kondisi korban. Pihak keluarga sejauh ini menanggung sendiri biaya pengobatan Mustakim.

"Kepala pondoknya (awalnya mau tanggung jawab). Bukan yang pelaku. Mau bayar, tapi akhirnya ini iming-iming bilang mau, tapi tidak. Itu waktu dikasih ketemu di Takalar bulan 4," tutur Suhartini.

Suhartini mengaku terpaksa mengeluarkan uang pribadinya untuk membiaya pengobatan Mustakim. Dia menyebut biaya pengobatannya sudah mencapai Rp 30 juta.

"Rp 30 juta (biaya rumah sakitnya), karena sudah banyakmi biayanya, tapi dia tidak mau (tanggung jawab)," beber Suhartini.

Dia menyebut pihak pelaku hingga kini juga belum menunjukkan iktikad baik untuk meminta maaf kepada korban. Mereka juga tidak bersedia menanggung biaya pengobatan korban.

"Tidak ada, biar minta maaf tidak ada. Tidak pernah ditanyakan bagaimana keadaannya, biar ustaznya," sesal Suhartini.

Ustaz AH Ngaku Lerai Korban Berantem

Keluarga sempat dipertemukan dengan ustaz AH saat mediasi. Namun ustaz AH berdalih tidak melakukan penganiayaan melainkan hanya melerai korban karena berkelahi.

"Pernah ketemu tapi (AH) membantah bilang tidak begini, katanya murni perkelahian sama temannya. Dia bantah bilang, 'tidak Bu, justru kami melerai'," ujar Ridwan.

Namun keluarga korban tidak percaya dengan pengakuan ustaz AH. Keluarga lantas meminta bukti rekaman CCTV, namun pihak pesantren mengaku kamera pengawas tidak berfungsi sehingga keluarga menduga kasusnya ditutup-tutupi.

"Terus kita bilang 'mana bukti CCTV-nya?' Tapi dia bilang tidak berfungsi," ungkap Ridwan.

Halaman 2 dari 5


Simak Video "Video: Pengasuh Diduga Lakukan Pencabulan, Ponpes di Lampung Dibakar Massa"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads