Aparat TNI menembak mati seorang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), Okto Tigau, di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Sebelum peluru bersarang di tubuhnya, Okto yang merupakan Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya ini sempat memperlihatkan gelagat yang mencurigakan.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, mengungkapkan bahwa insiden tersebut pecah di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Intan Jaya, pada Selasa (30/6) sekitar pukul 22.00 Wita. Peristiwa ini bermula saat Okto Tigau bersama tiga rekannya terdeteksi bergerak secara senyap mendekati pos TNI di kegelapan malam.
"Peristiwa bermula ketika personel yang sedang melaksanakan tugas pengamanan mendeteksi empat orang bergerak secara sembunyi-sembunyi menuju pos pada malam hari," kata Wirya kepada wartawan, Kamis (2/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat pergerakan tersebut, personel TNI di lapangan langsung melayangkan peringatan secara bertahap. Sayangnya, peringatan terukur dari para prajurit sama sekali tidak diabaikan, hingga akhirnya baku tembak sengit tidak dapat dihindarkan.
"Sekitar pukul 22.00 WIT terjadi kontak tembak yang diawali oleh kelompok tersebut. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tiga orang melarikan diri, sementara satu orang terjatuh di sekitar lokasi," tuturnya.
Demi keselamatan dan mengantisipasi jebakan di malam hari, prajurit TNI tidak langsung melakukan penyisiran sesaat setelah kontak tembak mereda. Proses sterilisasi medan baru dilakukan keesokan harinya setelah situasi dinilai aman.
"Keesokan harinya, tim gabungan Koops TNI Habema melaksanakan penyisiran sesuai prosedur dan menemukan satu jenazah laki-laki beserta sebuah parang," ucap Wirya.
Melalui proses identifikasi yang ketat, baik dari kecocokan ciri fisik, dokumentasi, maupun pusat data intelijen, jasad pria tersebut dipastikan adalah Okto Tigau. Pihak TNI kemudian mengevakuasi jenazah dan menyerahkannya kepada tokoh adat setempat agar dapat dimakamkan secara layak.
"Berdasarkan data yang dimiliki aparat keamanan, Okto Tigau diketahui merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya," bebernya.
Rekam jejak Okto Tigau sendiri terbilang kelam. Wirya membeberkan bahwa sang wakil komandan merupakan otak di balik berbagai teror berdarah dan aksi kriminal yang kerap menghantui wilayah Intan Jaya.
"Yang bersangkutan terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Intan Jaya, antara lain penembakan terhadap aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, serta berbagai aksi intimidasi terhadap masyarakat," tambah Wirya.
Pemaparan mengenai rekam jejak kejahatan pelaku sengaja dibuka ke publik. Hal ini bertujuan memberikan gambaran utuh dan konteks yang jelas mengenai besarnya risiko serta ancaman nyata yang dihadapi oleh personel TNI di garis depan.
Wirya juga menegaskan bahwa seluruh tindakan tegas dan terukur yang diambil oleh personel di lapangan telah berjalan di atas koridor hukum yang sah. Tindakan tersebut sepenuhnya mengacu pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI dalam pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
"Koops TNI Habema terus menekankan kepada seluruh prajurit agar setiap tindakan dilakukan secara profesional, proporsional, akuntabel, dan hanya untuk menghadapi ancaman yang nyata, dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat sipil," jelasnya.
(hmw/hmw)
