TNI Klaim Tak Lepaskan Tembakan Saat Ibu Hamil Kena Peluru Nyasar OPM

Intan Jaya

TNI Klaim Tak Lepaskan Tembakan Saat Ibu Hamil Kena Peluru Nyasar OPM

Tim BeritaKlik - detikSulsel
Sabtu, 04 Jul 2026 12:30 WIB
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna.
Foto: Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna. (dok. Istimewa)
Intan Jaya -

Koops TNI Habema mengungkap ibu hamil bernama Melkiana Duwitau tewas akibat peluru nyasar dari tembakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Peles Tigau di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. TNI mengklaim personelnya tidak melepaskan tembakan saat OPM melakukan rentetan penyerangan menggunakan senjata api.

"Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan," tegas Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling). Personel saat itu memilih sambil memantau situasi guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit," tuturnya.

Tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga pada Kamis (2/7). Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan depan Koramil Sugapa.

ADVERTISEMENT

"Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai," ucap Wirya.

Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.

"Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," paparnya.

Pihaknya pun menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban. Koops TNI Habema pun berkomitmen mengedepankan langkah-langkah yang terukur dan profesional agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.

"Peristiwa ini menunjukkan bahwa penggunaan kawasan permukiman sebagai lokasi aktivitas kelompok bersenjata berpotensi menimbulkan risiko bagi masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik," tegas Wirya.

Diketahui, kematian korban sempat memicu gelombang protes dari masyarakat. Bupati Intan Jaya, Aner Maisini turut menyoroti insiden yang membuat warganya yang sedang hamil meninggal dunia.

"Dalam waktu yang dekat mau melahirkan, tetapi sudah jadi korban. Sehingga ini adalah salah satu yang sangat berduka, yang mendalam karena mama bersama dengan anak," kata Aner kepada wartawan, Jumat (4/7).

Dia kemudian menyinggung terkait operasi militer dalam penumpasan OPM di wilayahnya. Dia menegaskan bahwa konflik bersenjata ini mengakibatkan warga menjadi korban.

"Dalam penanganan operasi militer di daerah-daerah. Yang urusannya TNI dengan KKB, tetapi dampaknya masyarakat kami yang tidak bersalah jadi korban," bebernya.




(sar/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads