Komnas HAM Investigasi Kasus Penembakan Tewaskan Ibu Hamil di Intan Jaya

Komnas HAM Investigasi Kasus Penembakan Tewaskan Ibu Hamil di Intan Jaya

Paulus Pulo - detikSulsel
Sabtu, 04 Jul 2026 16:55 WIB
Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey
Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey. Foto: BeritaKlik
Intan Jaya -

Komnas HAM kini turun tangan mengusut kasus ibu hamil bernama Melkiana Duwitau yang tewas usai diduga terkena peluru nyasar dari tembakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tim investigasi telah dibentuk untuk mendalami pelaku penembakan tersebut.

"Hari ini saya memimpin tim investigasi, tim Komnas HAM melakukan pemantauan ke Intan Jaya, terhadap beberapa kasus yang menonjol terjadi," ujar Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua Frits S Ramandey kepada wartawan, Sabtu (4/7/2026).

Frits mengaku telah bertemu dengan sejumlah pemangku kepentingan di wilayah Intan Jaya. Mulai dari Bupati, Danrem, Kapolres, Dandim, hingga tim penanggulangan konflik sosial di Intan Jaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah bertemu saya kemudian mendatangi massa yang kurang lebih 1000-an orang. Mereka sudah menunggu di lapangan, di dalamnya ada korban-korban pengungsi. Mereka menyampaikan pengaduan sehingga kemudian seluruh pengaduan itu saya dengar, termasuk juga saya ketemu pastor yang beberapa waktu lalu mobilnya ditembak," ungkapnya.

"Nah setelah mendengar, kemudian saya minta izin kepada mereka, kemudian saya mengunjungi ibu yang korban, Melkiana Duwitau, bersama bayinya. Itu sampai tadi belum dikubur, tapi saya lihat sudah ada peti di rumah duka," sambung Frits.

ADVERTISEMENT

Frits mengatakan masyarakat menaruh sejumlah harapan atas berbagai gangguan keamanan yang terjadi di wilayah Intan Jaya belakangan ini. Salah satu yang menjadi sorotan ialah penempatan pasukan non organik di wilayah mereka.

"Harapan masyarakat pertama mereka minta penarikan pasukan non organik. Kedua, mereka minta pemerintah fasilitas tim bertemu dengan Presiden dan DPR RI untuk menyampaikan aspirasi. Mereka juga meminta kepada kami untuk mengungkap dan melakukan penegakan hukum terhadap siapa pelaku yang melakukan penembakan terhadap almarhum," paparnya.

Selain itu, Frits menegaskan, Komnas HAM nantinya akan menyampaikan apa saja temuan yang didapatkan terkait kasus yang dialami ibu hamil tersebut. Saat ini, pihaknya akan lebih dahulu memanggil dan bertemu para pihak yang terkait dengan kejadian ini.

"Kita berharap pemda kabupaten, provinsi, dan DPR, karena mereka tidak bisa kendalikan pasukan ini, karena itu memang penting bicara dengan Menhan, panglima TNI, DPR, dan Presiden untuk menata ulang pola-pola operasi secara keseluruhan di wilayah konflik," ucapnya.

TNI Klaim Tak Lepaskan Tembakan

Koops TNI Habema mengungkap ibu hamil bernama Melkiana Duwitau tewas akibat peluru nyasar dari tembakan OPM pimpinan Peles Tigau. TNI mengklaim personelnya tidak melepaskan tembakan saat OPM melakukan rentetan penyerangan menggunakan senjata api.

"Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan," tegas Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna dalam keterangannya, Sabtu (4/7).

Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling). Personel saat itu memilih sambil memantau situasi guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil.

"Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit," tuturnya.

Tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga pada Kamis (2/7). Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan depan Koramil Sugapa.

"Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai," ucap Wirya.

Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.

"Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," paparnya.




(asm/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads