Warung makan Pallubasa Serigala di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini diberi waktu sepekan untuk menertibkan tendanya yang berdiri di atas fasilitas umum (fasum) berupa drainase selama bertahun-tahun. Camat Mamajang mengaku bakal menggusur tenda tersebut jika tak ditertibkan sendiri dalam sepekan.
Tenda warung Pallubasa Serigala itu memang masuk dalam daftar objek penertiban bangunan di atas fasum. Pihak kecamatan sendiri sejatinya sudah merencanakan penertiban sebelum lokasi itu viral di media sosial.
"Senin (pekan depan) teguran tertulis, setelah itu baru kami eksekusi (penggusuran), setelah teguran ketiga, mungkin Kamis atau Jumat," kata Camat Mamajang Muhammad Rizal kepada detikSulsel, Jumat (5/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal mengungkapkan, pihaknya telah lebih dulu menertibkan warung makan Pallubasa Onta karena adanya laporan warga melalui aplikasi Lontara serta aduan langsung lurah dan camat. Lokasinya tidak jauh dari Pallubasa Serigala.
"Memang objek kita Pallubasa Serigala setelah ditertibkan (Pallubasa) Onta. Cuma terlalu cepat naik (viral) ini, tapi tidak ada masalah," jelasnya.
Menurutnya, Pallubasa Serigala juga telah mendapat teguran terkait tenda yang berdiri di atas saluran drainase. Namun, proses penertiban harus dilakukan secara bertahap sesuai prosedur.
"Sudah dilakukan peneguran secara lisan dulu karena kita harus punya progres, tidak bisa langsung ditertibkan. Teguran lisan dulu baru tertulis," katanya.
Camat Beri Waktu Sepekan
Rizal mengaku pihak pengelola sempat meminta waktu hingga 18 Juni untuk membongkar sendiri bangunan yang melanggar. Namun permintaan tersebut tidak disetujui karena pemerintah kecamatan menginginkan proses penertiban dilakukan lebih cepat.
"Kemarin omnya owner ini dia mau bongkar sendiri dulu. Permintaannya nanti tanggal 18 bulan ini, saya bilang tidak boleh, harus minggu depan," ujarnya.
Rizal mengaku pihak pengelola sempat meminta waktu hingga 18 Juni untuk membongkar sendiri bangunan yang melanggar. Namun permintaan tersebut tidak disetujui karena pemerintah kecamatan menginginkan proses penertiban dilakukan lebih cepat.
"Kemarin omnya owner ini dia mau bongkar sendiri dulu. Permintaannya nanti tanggal 18 bulan ini, saya bilang tidak boleh, harus minggu depan," ujarnya.
Pallubasa Serigala Kerap Picu Kemacetan
Beberapa juru parkir terlihat sigap mengatur keluar-masuk kendaraan di lokasi, namun kepadatan tetap kerap tak terhindarkan. Pengendara dari dua arah kerap harus memperlambat laju, bahkan bergantian melintas saat ada mobil yang hendak parkir atau keluar dari lokasi warung.
"Begini memang kalau jam makan siang di sini (selalu padat kendaraan). Jam makan malam begitu juga," kata seorang pengendara bernama Umar kepada detikSulsel di lokasi.
Meski demikian, Umar menyebut jalan ini selalu dihindari pada jam padat pengunjung. Dia sendiri mengaku memilih lewat jalan lain.
"Banyak ji lorong-lorong sekitar sini, jadi kita biasa hindari," kata pengemudi gojek ini.
(asm/asm)










































