Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi Kota Parepare menjadi yang terendah di Sulawesi Selatan (Sulsel). BPS menilai inflasi terkendali dipicu kemampuan Pemkot dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan barang setelah Lebaran.
Kepala BPS Parepare Dian Ernawaty mengatakan bahwa berdasarkan data April 2026, Parepare justru mengalami deflasi secara bulanan atau month-to-month sebesar -0,08 persen. Tren itu menunjukkan kenaikan harga yang sempat terjadi pada masa Ramadan dan Idul Fitri kini telah kembali ke titik normal.
"Angka inflasi kita di bulan April ini sebenarnya mengalami deflasi -0,08 persen. Ini kondisi yang sangat baik karena harga-harga kembali normal setelah sempat melonjak di Februari dan Maret akibat tingginya permintaan momen hari raya," kata Dian kepada wartawan, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender Parepare hingga April 2026 berada di angka 1,54 persen. Angka itu menempatkan Parepare pada posisi sebagai daerah dengan tingkat inflasi tahun kalender paling terkendali di Sulawesi Selatan.
"Untuk inflasi tahunannya (year-on-year) berada di angka 2,18%. Kota Parepare dan Palopo menjadi daerah dengan inflasi paling terkendali," ujarnya.
Dian menilai, rendahnya angka inflasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada peran dari intervensi aktif yang dilakukan oleh Pemkot Parepare dalam mengawasi rantai distribusi dan ketersediaan barang di pasar-pasar tradisional.
"Intervensi pemerintah kota sangat terasa dampaknya. Mereka secara konsisten memantau stok dan pergerakan harga. Begitu ada indikasi barang tertentu mulai langka, seperti minyak goreng misalnya, pemkot langsung berkoordinasi dengan instansi terkait dan vendor untuk mencari solusi cepat," jelasnya.
Meski secara umum mengalami deflasi, BPS tetap memberikan catatan pada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga. Beberapa di antaranya adalah minyak goreng, air kemasan, serta makanan jadi seperti martabak dan nasi lauk yang dipengaruhi oleh naiknya harga plastik.
"Kenaikan harga plastik terekam memberikan andil pada kenaikan harga makanan yang dijual dalam kemasan. Namun, secara keseluruhan, andil komoditas yang mengalami penurunan harga jauh lebih dominan," paparnya.
Dian optimis, sinergi antara Pemkot Parepare dan seluruh stakeholder dapat menjaga pasokan tetap konsisten. Sehingga stabilitas ekonomi di Parepare akan tetap terjaga hingga akhir tahun.
"Stok barang saat ini sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kita harap koordinasi ini terus berlanjut agar tidak ada gejolak harga yang memberatkan warga," pungkasnya.
Berikut angka inflasi tahunan atau year on year di kabupaten kota se-Sulsel:
1. Sidrap : 3,94 persen
2. Bone : 2,54 persen
3. Luwu Timur: 2,98 persen
4. Wajo : 2,72 persen
5. Bulukumba : 2,53 persen
6. Makassar: 2,51 persen
7. Palopo : 2,21 persen
8. Parepare : 2,18 persen
(hmw/sar)
