Orang tua (ortu) calon siswa di Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), ternyata memasang titik lokasi tempat kerja demi anaknya lolos Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili atau zonasi. Saat ini, ada 20 ortu siswa yang terungkap memakai alamat kantor bukan rumah saat mendaftarkan anaknya.
"Kami cross check ulang dan dikonfirmasi kembali ke orang tua, pemikiran orang tuanya ini ya di tempat kerjanya karena tempat kerjanya lebih dekat dibanding ke sekolah tersebut," kata Plt Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Parepare, Dede Harirustaman kepada detikSulsel, Senin (8/6/2026).
Dede menegaskan memasang alamat kantor tidak dapat dibenarkan karena menyalahi aturan baku jalur domisili. Aturan SPMB mewajibkan penentuan titik koordinat ditarik lurus dari rumah tinggal yang sah, bukan lokasi tempat kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ternyata harus dari rumahnya, bukan dari tempat tugasnya. Itu kami cross check ulang. Nah, adapun yang mungkin yang, apa, kami coba telusuri lagi kembali, apakah ada memang yang memainkan hal-hal tersebut, itu yang kami tidak perbolehkan sama sekali," jelasnya.
Dede mengaku pihaknya belum menerima laporan mengenai keterlibatan tim verifikator sekolah yang sengaja manipulasi koordinat tersebut. Kendati demikian, aduan masyarakat masih terus didalami.
"Kami belum dapatkan, belum dapatkan informasi itu. Intinya tetap, untuk sementara proses apa namanya, penelusuran masih terus berjalan. Masih terus berjalan, iya, beberapa aduan," katanya.
Dia memastikan polemik pendaftaran jalur zonasi wilayah akan diselesaikan secara tuntas dalam waktu dekat. Dede menargetkan, carut marut SPMB akan diselesaikan sesuai kalender akademik baru.
"Sebelum memasuki tahun ajaran baru di bulan depan, tanggal 13 Juli. Insyaallah untuk tahun ajaran berikutnya kami akan rapikan pengalaman-pengalaman kami ini," tegasnya.
20 Ortu Calon Siswa Pakai Alamat Kantor
Diketahui, persoalan ini terungkap setelah Komisi II DPRD Kota Parepare mendesak Disdikbud Parepare melakukan monitoring lapangan terkait keluhan ortu calon siswa lainnya yang tidak lolos SPMB jalur domisili. Hasilnya, ditemukan 20 orang tua yang mencoba mengakali sistem SPMB.
"Nah, sekarang dari hasil monitoringnya kami temukan bahwa memang ternyata beberapa yang mencoba. Ada kurang lebih 20-an lebih orang yang mencoba memanipulasi data," ujar Ketua Komisi II DPRD Parepare, Satria Parman Agoes Mante kepada detikSulsel, Senin (8/6).
Parman menduga kuat tindakan ini dilakukan langsung oleh orang tua calon siswa. Dia pun meminta Disdik memberikan sanksi tegas sebagai bentuk transparansi dan keadilan.
"Kemungkinan dilakukan oleh orang tua siswa. Sehingga saya meminta kepada Dinas Pendidikan untuk mem-punishment sebagai bentuk transparansi bahwa penerimaan siswa ini fair," tegas Parman.
Dia mengatakan, salah satu sekolah yang ikut mengemuka dalam temuan ini adalah SDN 85 Parepare. Parman mengatakan proses monitoring masih berlangsung sehingga jumlah pastinya belum bisa dihitung.
"SD 85 sudah ada. Sudah ada juga temuan-temuan, tapi SD 85 tidak banyak. Nah, nanti kita lihat karena sekarang ini masih berproses," imbuhnya.
(hsr/asm)










































