Musim kemarau membawa berkah bagi para pengrajin ikan kering di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Cuaca panas yang terik membuat proses pengeringan ikan menjadi jauh lebih cepat dengan produksi meningkat tiga kali lipat.
Pantauan detikSulsel di pantai Jalan Mattirotasi Baru, Kelurahan Sumpang Minangae, Kecamatan Bacukiki Barat, Selasa (7/7/2026) terlihat para pengrajin sibuk mengeringkan ikannya. Pengrajin lainnya juga terlihat sudah mengangkat ikan yang sudah selesai dikeringkan.
Di kawasan pantai itu, terlihat sejumlah alat pengering yang terbuat dari jaring dan bambu berjejeran. Alat pengering itu diletakkan di ruang terbuka yang langsung terkena terik matahari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pengrajin terlihat memasukkan ikan yang sudah kering ke dalam karung. Kemudian karung yang sudah penuh diangkat ke tanggul pantai.
Salah seorang pengrajin ikan kering di, Parepare, Nursia mengatakan cuaca saat ini sangat menguntungkan usahanya. Ikan hasil tangkapan nelayan bisa kering hanya dalam waktu setengah hari.
"Ini agak mending ini kalau begini kemarau, toh, cepat kering ikannya. Setengah hari ji begitu dijemur jam 8 pagi sampai jam begini jam 1 (siang) sudah kering," kata Nursia saat ditemui detikSulsel, Selasa (7/7/2026).
Nursia menjelaskan kondisi itu berbanding terbalik ketika memasuki musim penghujan. Menurutnya, proses pengeringan bisa memakan waktu hingga dua hari dan berisiko membuat ikan menjadi busuk karena minimnya sinar matahari.
"Kalau musim hujan itu biasa sampai dua hari baru kering ikannya. Kadang juga, eh, busuk mi apa kalau sampai dua hari hujan enggak ada matahari," jelas Nursia.
Nursia mengatakan, produksi ikan di musim kemarau naik 3 kali lipat dari hari biasanya. Namun, produksinya juga berpengaruh dari hasil tangkapan nelayan yang menjadi bahan baku ikan kering.
"Ya lebih banyak sekarang. Bisa dibilang meningkat 3 kali lipat. Tapi itu tergantung juga dari hasil nelayan," jelasnya.
Nursia mengatakan, kondisi gagal jemur di musim hujan tersebut kerap membuat pengrajin merugi. Pasalnya para pengrajin harus membuang bahan baku ikan yang rusak.
"Kadang merugikan kalau musim hujan, toh, kadang dibuang ikannya, begitu," keluhnya.
Selain mempercepat durasi produksi, musim kemarau diakui Nursia turut mendongkrak kualitas ikan kering. Ikan yang dikeringkan di bawah terik matahari langsung memiliki aroma yang lebih segar dan tekstur yang bagus.
"Kualitasnya juga ini ikan kalau kering satu setengah hari, bagus. Tapi kalau musim hujan kan kadang bau mi ikannya, begitu," ungkapnya.
Nursia mengolah berbagai jenis ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan sekitar. Ikan segar tersebut dibeli dari nelayan per saringan dengan volume sekitar 21 hingga 22 liter.
"Kalau di sini yang dikeringkan itu ikan-ikan kecil seperti bece-bece, lure (teri), losa-losa, sama lajang gappo. Kita beli di nelayan per basket itu 20-22 liter jadinya," katanya.
Saat pasokan stabil, ikan segar dihargai Rp 20.000 per liter. Namun harga bisa turun menjadi Rp 15.000 per liter jika hasil tangkapan nelayan sedang melimpah.
"Kadang Rp 20 ribu satu liter kalau kan begini. Tapi kalau sudah banyak mi, toh, kadang Rp 15 ribu, turun harganya begitu," pungkasnya.
Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"
[Gambas:Video 20detik]
(ata/asm)
