Sejumlah warga di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), melakukan konvoi menggunakan motor menyambut Piala Dunia 2026. Bahkan, Desa Pambusuang kembali disulap menjadi kampung bola.
Pantauan BeritaKlik, Kamis (11/6/2026), ratusan warga melakukan konvoi sambil mengarak bendera negara peserta Piala Dunia 2026. peserta konvoi dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Mereka mengenakan jersey tim nasional favorit masing-masing sembari mengibarkan bendera negara yang dijagokan. Tidak sedikit peserta konvoi mengecat wajah dan tubuh mereka dengan warna khas bendera negara dukungan sebagai simbol loyalitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum konvoi dimulai, para peserta berkumpul di pusat Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, untuk mengikuti pengarahan dari panitia dan aparat keamanan guna memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Warga Polewali Mandar meriahkan Piala Dunia 2026 dengan konvoi motor. (Abdy Febriady/BeritaKlik) |
Konvoi dan arak-arakan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 secara resmi dilepas Kapolsek Tinambung AKP Ramli. Ia mengimbau seluruh peserta agar mematuhi aturan lalu lintas dan menjaga ketertiban selama perjalanan.
"Kami dari pengamanan Polsek Tinambung mengimbau para peserta arak-arakan menyambut Piala Dunia 2026 agar tetap tertib selama berkendara," kata Ramli kepada wartawan.
Menurut Ramli, ada sekitar 500 warga ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut tradisi konvoi dan arak-arakan bendera telah menjadi agenda rutin masyarakat Pambusuang setiap kali perhelatan Piala Dunia digelar.
"Kegiatan hari ini merupakan agenda rutin yang dilakukan masyarakat Pambusuang setiap empat tahun sekali saat menyambut Piala Dunia. Peserta yang ikut kurang lebih 500 orang," ungkapnya.
Pambusuang Jadi Kampung Bola
Semarak Piala Dunia 2026 tidak hanya terlihat dari konvoi kendaraan. Desa Pambusuang juga kembali menjelma menjadi Kampung Bola, sebuah tradisi unik yang telah lama menjadi ciri khas warga setempat.
Hampir seluruh rumah di kampung nelayan tersebut dihiasi bendera negara peserta Piala Dunia yang menjadi tim favorit pemilik rumah. Pemandangan warna-warni bendera menciptakan suasana layaknya festival sepak bola internasional.
Warga rela mengeluarkan biaya tambahan untuk mengecat rumah mereka dengan warna khas negara yang didukung. Bahkan, kendaraan, peralatan rumah tangga, hingga dinding rumah turut dihias dengan atribut sepak bola.
"Selain pasang bendera, ada juga yang rumahnya dicat sesuai tim andalan masing-masing. Alat dapur dicat, motor juga dihiasi," ujar warga bernama Nasaruddin.
Meski tidak mengetahui secara pasti kapan tradisi Kampung Bola pertama kali dimulai, Nasaruddin menegaskan, semangat kampung bola merupakan wujud kegembiraan masyarakat setempat menyambut turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut.
"Tidak tahu juga sejak kapan dimulai. Yang jelas setiap mau ada perhelatan bola, apalagi Piala Dunia, pasti dilakukan seperti ini. Kita buat semeriah mungkin," pungkasnya
(hsr/hsr)











































