Puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun 2026 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tidak hanya menghadirkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Momentum itu juga menjadi ajang mengampanyekan pentingnya deteksi dini tuberkulosis (TBC) melalui gerakan skrining mandiri.
Skrining mandiri TBC ini berlangsung sejak 15 Juni hingga 11 Juli 2026. Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini TBC melalui skrining mandiri.
Cek kesehatan gratis dan percepatan penuntasan kasus TBC merupakan program prioritas Tim Penggerak PKK mulai dari tingkat pusat hingga desa/kelurahan. Upaya ini diharapkan membantu mencegah penularan sekaligus mempercepat penanganan bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program tersebut menjadi fokus Bidang IV TP PKK yang membidangi kesehatan keluarga dan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat berbasis keluarga.
Apalagi tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian bersama. Skrining mandiri menjadi tahap awal untuk mengenali kemungkinan risiko TBC.
Apabila hasil skrining menunjukkan adanya faktor risiko, masyarakat dianjurkan melanjutkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini agar warga bisa segera memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.
"Karena itu, kami mengajak masyarakat memanfaatkan skrining mandiri ini sebagai langkah awal mengenali risiko TBC. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah penularannya," kata Ketua Bidang IV TP PKK Provinsi Sulsel, drg. Aisyah dalam keterangannya, Senin (28/6/2026).
Aisyah menjelaskan, pelaksanaan skrining mandiri dalam rangkaian HKG PKK ke-54 dan 46 Tahun Dekranas merupakan bentuk dukungan terhadap program prioritas TP PKK dalam mendorong masyarakat memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis serta mempercepat penemuan dan penuntasan kasus TBC hingga ke tingkat keluarga.
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang umumnya menyerang paru-paru, meski juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. Penyakit ini dapat disembuhkan melalui pengobatan yang tepat dengan dukungan keluarga dan lingkungan.
Deteksi dini TBC memberikan berbagai manfaat, mulai dari meningkatkan peluang kesembuhan, memutus rantai penularan di lingkungan sekitar, hingga menjaga kesehatan agar masyarakat tetap produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Untuk memudahkan partisipasi masyarakat, skrining mandiri dirancang dengan proses yang cepat, aman, mudah diakses, dan tidak dipungut biaya. Masyarakat cukup memindai kode QR yang telah disediakan panitia atau mengakses tautan skrining resmi yang disiapkan panitia untuk mengikuti proses tersebut.
"Skrining mandiri ini dirancang agar mudah diakses oleh masyarakat. Kami berharap semakin banyak warga yang memanfaatkannya sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan," kata drg. Aisyah.
Momentum HKG PKK ke-54 dan 46 Tahun Dekranas menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan dimulai dari kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga. Masyarakat pun diimbau tidak menunggu hingga muncul gejala untuk melakukan skrining.
Apalagi bagi mereka yang mengalami batuk berkepanjangan, memiliki kontak erat dengan penderita TBC, atau merasa memiliki faktor risiko lainnya. Partisipasi aktif masyarakat dalam skrining menjadi langkah nyata untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari penyebaran TBC.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari sinergi promosi kesehatan dalam rangkaian HKG PKK ke-54 dan 46 tahun Dekranas. Dalam hal ini menempatkan keluarga sebagai garda terdepan dalam membangun pola hidup sehat serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit.
Gerakan ini mengusung semangat 'Sehat Bersama, Bebas TBC' dan 'Keluarga Sejahtera, Indonesia Maju' yang sejalan dengan komitmen mewujudkan masyarakat yang lebih sehat melalui upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit. Melalui partisipasi aktif masyarakat, gerakan ini diharapkan dapat mendukung upaya eliminasi TBC di Indonesia sekaligus memperkuat budaya hidup sehat yang dimulai dari keluarga.
(sar/sar)
